PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2017, Review Buku

[Review] Candrasa by Primadonna Angela

Judul Buku: Candrasa

Penulis: Primadonna Angela

Desain Sampul & Ilustrasi: Martin Dima

Editor: Lana Zhafira

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama: 21 Agustus 2017

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-6782-8

Halaman: 288 halaman

Harga Online: Rp69.000,-

Rating: 4/5

Sinopsis

Hidup tidak pernah mudah bagi Sapta Gray. Sebagai penyandang Candrasa, bakat istimewanya yang berarti pedang lebih banyak mendatangkan celaka daripada bahagia. Terjaga sampai pagi, bertarung dengan siluman tak tahu diri, menahan ego dan emosi merupakan santapannya sehari-hari.

Tidak ada yang lebih diinginkan Gray selain bersantai. Begitu kemampuannya naik, dia bisa menyamarkan bakatnya. Dengan demikian, dia akan bebas beraktivitas! Lepas dari incaran para siluman rendahan.

Begitu bakatnya semakin tajam, lawan yang tangguh pun berdatangan. Gray harus berjuang menyelamatkan orang-orang yang disayanginya … meski dengan imbalan nyawa.

Review

Untuk yang sudah kenal dekat dengan saya pasti tahu kalau saya penggemar karya-karya Primadonna Angela. Tentu mereka tidak akan heran jika di media sosial saya tersebar foto-foto karyanya yang telah saya review maupun hanya karena sedang ingin difoto saja, dan ulasan panjang perihal buku-bukunya di blog buku saya. 😀

Seperti yang telah disebutkan dalam profil Primadonna Angela di buku Candrasa, Candrasa adalah buku ke-31 yang telah ditulisnya. Berbeda dengan tahun lalu di mana Donna—begitu sapaan akrabnya—menerbitkan Jane Si Kutu Loncat yang bergenre MetroPop, kali ini ia mengeluarkan Candrasa yang juga diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama yang bergenre TeenLit.

Primadonna Angela adalah penulis TeenLit dan MetroPop yang karya-karyanya mengusung kehidupan sehari-hari dalam kisah-kisah yang menarik, menyentuh, dan menggelitik. Kalau dibandingkan dengan dua TeenLit-nya yang sudah saya baca; Pojok Lavender dan Satsuki Sensei, Candrasa ini terasa sekali bedanya. Dua buku tersebut disajikan dalam bentuk kumpulan cerita, sedangkan Candrasa berbentuk novel.

Selain itu, tema yang diangkat tidak biasa; bakat istimewa. Adegan romance-nya pun hanya sedikit, tetapi porsinya tidak lebih tidak kurang dan mampu membuat (kalau kata anak-anak sekarang mah) baper. 😀 Itulah yang membuat novel Candrasa ini menarik untuk saya.

“Mereka yang diberkati dengan Candrasa bisa menyerang dan membentengi diri sendiri serta orang lain. Mereka yang memiliki Candrasa seolah identik dengan emosi naik-turun, sifat impulsif yang sulit dikekang, dan hasrat untuk menjadi pionir.” (Hlm. 53)

Continue reading “[Review] Candrasa by Primadonna Angela”

Iklan
PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2017, Review Buku

[Review] Trisula Mentari by Shandy Tan

Judul Buku: Trisula Mentari

Penulis: Shandy Tan

Desain Sampul: Orkha Creative

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama: Maret 2017

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-3913-9

Halaman: 256 halaman

Harga Online: Rp47.700,-

Rating: 3.5/5

Sinopsis

TRISULA MENTARI tidak mengutuk, juga tidak membanggakan kemampuannya mendengar suara roh. Tetapi, gara-gara bakat itu Trisula dianggap aneh di sekolah. Hanya Mikaela, sahabatnya, yang tahu soal bakat uniknya itu dan tidak menjauhinya.

Pada hari pertama menjadi murid kelas sepuluh, Trisula mendapat kejutan kecil. Murid baru bernama Alfa lebih memilih duduk bersamanya daripada bersama Kristal, si murid populer. Mikaela, yang ingin mendekatkan Alfa dan Trisula, membuat janji datang ke rumah Alfa dengan alasan meminjam komik, lalu mengajak Trisula.

Ketika mereka mengobrol di perpustakaan mini Alfa, Trisula terkejut karena mendengar suara roh marah-marah yang mengusir mereka dari rumah itu. Keadaan memburuk ketika tiba-tiba ada komik melayang hingga dua kali.

Bagaimana cara Trisula menjelaskan apa yang sedang terjadi? Dan, bagaimana reaksi Alfa mendengar hal itu? Apakah teman barunya itu juga akan menjauhi Trisula?

Review

Trisula Mentari merupakan teenlit misteri terbaru karya Shandy Tan yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama lima bulan lalu. Ini kali pertama saya membaca teenlit misterinya dan tentu menjadi pengalaman baru bagi saya. Karena biasanya saya lebih sering membaca teenlit romance. Namun, ini menjadi ketiga kalinya pula saya membaca karya Shandy Tan setelah sebelumnya membaca 13: Kumpulan Cerpen Horor yang ditulisnya bersama Primadonna Angela dan FBI vs CIA. Kalau saya tidak salah menebak (dan berharap), bisa jadi Trisula Mentari adalah teenlit misteri seri kedua setelah seri Samantha’s Secret.

Sepertinya Shandy Tan senang membuat cerita berseri. Selain seri Samantha’s Secret, ia juga pernah menerbitkan teenlit seri FBI vs CIA; seri yang seru pun menghibur dan mengingatkan saya pada masa-masa SMA. Shandy pun telah menerjemahkan beberapa novel luar, seperti Red Rising – Kebangkitan Merah karya Pierce Brown, Hopeless – Tanpa Daya karya Colleen Hoover, Forever, Jack – Bersamamu Selalu karya Natasha Boyd, Underworld karya Meg Cabot, dan lain-lain.

“Orang bisa menjalani kehidupan layak tanpa harus memiliki terlalu banyak keinginan atau tuntutan.” (Hlm. 49)

“Kebahagiaan dan perasaan cukup tidak datang dari benda dan hal-hal duniawi, melainkan dari seberapa mampu kita bersyukur ketika kebutuhan dasar kita tercukupi.” (Hlm. 49)

Trisula Mentari sendiri mengisahkan tentang seorang siswi bernama Trisula Mentari yang memiliki kemampuan tidak biasa; bisa mendengar suara roh. Karena kemampuannya tersebut ia sering menjadi bahan ejekan dan hinaan teman-teman sekolahnya. Tak jarang ia dipanggil oleh penasihat siswa hanya karena pembelaannya atas tindakan buruk teman-temannya. Ia selalu saja menjadi pihak yang disalahkan karena tidak ada satupun orang yang percaya dengan apa yang ia ceritakan.

Orang-orang kerap memandangnya secara skeptis atau kasihan atau tidak percaya dan menganggapnya aneh, namun lain dengan Alfa; murid baru yang juga sekelas dengan Trisula sekaligus keponakan Bu Amelia, asisten penasihat siswa. Ia lebih memilih semeja dengan Trisula daripada dengan Kristal, cewek populer di sekolah. Kalau murid-murid lain terpesona akan kecantikannya, tetapi tidak bagi Alfa. Baginya, Kristal adalah cewek sok cantik.

Continue reading “[Review] Trisula Mentari by Shandy Tan”

BACA Reading Challenge, PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2016, Review Buku

[Review] FBI vs CIA by Shandy Tan

14487225_1470749096287914_5874743609923731456_n

Judul Buku: FBI vs CIA

Penulis: Shandy Tan

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan 1: Oktober 2008

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-22-4059-7

Halaman: 192 halaman

Harga: Rp30.600,- (eBook by SCOOP)

Rating: 3.5/5

Sinopsis

FBI dan CIA adalah dua geng cewek SMA yang berbeda secara fisik. FBI (Feni, Bertha, Isabel) bertubuh subur makmur sebulat sumur, sedangkan CIA (Carol, Ivana, Angel) bertubuh kurus kering setipis piring. Mereka saling cuek, sampai suatu saat guru fisika memberikan tugas kelompok.

Isabel terpaksa satu kelompok dengan CIA. Carol, yang tahu Isabel berotak encer, membujuk Isabel untuk menjadi anggota CIA. Syaratnya, Isabel harus kurus. Maka Carol mengiming-imingi Isabel pola diet jitu supaya Isabel bisa menurunkan berat badannya.

Isabel jelas menerimanya. Dalam waktu tak terlalu lama, berat badannya mulai berkurang. Demi menjadi langsing, cantik, dan populer, Isabel tak peduli lagi pada FBI. Sampai akhirnya Isabel tahu, CIA memanfaatkannya untuk mengatrol nilai-nilai mereka.

Isabel ingin kembali pada Feni dan Bertha. Tapi tunggu dulu! Posisi I sudah diisi Indri! Terus, Isabel harus bagaimana dong? Haruskah dia menyingkirkan Indri? Padahal Feni dan Bertha menyukai Indri. Kembali pada CIA? Nggak usah, ya! Jadi, berhasilkah Isabel mendapatkan kembali sahabat-sahabat sejatinya?

Review

Ini kali pertama saya membaca karyanya Shandy Tan. Sebenarnya sudah sejak lama saya punya salah satu bukunya yang berjudul Shine on Me. Hanya saja sampai detik ini saya belum sempat membaca buku tersebut. Karena, ya begitulah. Selalu tergoda untuk membaca buku yang baru dibeli terlebih dulu, hehe.

Shandy Tan adalah penulis yang mengawali keterlibatannya dalam dunia menulis fiksi pada tahun 1994. Wow, sudah lama sekali, ya. Sebelum menerbitkan novel ini, Shandy Tan telah menelurkan tiga buku pada tahun 2006, yaitu Rival, Rahasia Si Kembar, dan Saat Tersenyum Saat Menyentuh (kumpulan cerpen remaja). FBI vs CIA adalah buku pertama dari seri buku FBI vs CIA.

Buku ini merupakan awal mula kisah persahabatan dan perselisihan antara kelompok FBI (Feni, Bertha, Isabel) dengan CIA (Carol, Ivana, Angel). Mereka adalah dua geng SMA yang secara fisik penampilannya amat berbeda. FBI terdiri dari tiga orang siswi yang bertubuh lumayan subur dan identik dengan makanan, sedangkan CIA terdiri dari tiga orang siswi yang tergolong kurus dan amat memerhatikan penampilan.

Suatu ketika, Pak Ramses, seorang guru fisika memberikan tugas berupa menyusun laporan tentang serangkaian percobaan yang telah disusunnya. Ia pun mengadakan pembagian kelompok masing-masing beranggotakan empat orang. Bisa dibilang Isabel tidak beruntung sebab ia satu kelompok dengan CIA. Feni dan Bertha pun nasibnya tidak cukup bagus. Feni satu kelompok dengan dua cowok yang selalu menempati ranking pertama dan kedua dari belakang, sedangkan Bertha satu kelompok dengan Juli yang sok pintar.

Continue reading “[Review] FBI vs CIA by Shandy Tan”

PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2015, Review Buku

[Review] 13: Kumpulan Cerpen Horor by PAST!

Follow my blog with Bloglovin
20150619_103541Judul: 13: Kumpulan Cerpen Horor

Penulis: PAST! (Primadonna Angela & Shandy Tan)

Genre: Horor

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juni 2015

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-1784-7

Halaman: 200 halaman

Harga: Rp 45.000,-

Rating: 3.5/5

Peresensi: Launa Rissadia

Sinopsis

Ada sesuatu yang magis dengan angka 13. Bagi kami, ini angka berbahaya. Banyak hal aneh, bahkan menyeramkan, terkait dengan angka 13.

Jika selama ini kamu mengganggap itu omong kosong belaka, pikirkan lagi. Kisah-kisah di buku ini akan membuatmu lebih berhati-hati pada apa pun yang terkait dengan angka 13: rumah, buku, jalan, bahkan bidal. Kami dulu juga begitu, tidak percaya angka ini bisa membawa petaka. Selama dan setelah menyelesaikan kumcer horor 13 ini, kami berubah pikiran. Mungkin seusai membaca buku ini, persepsimu tentang angka 13 tidak akan sama lagi…

Review

Ini kali pertama aku baca buku bergenre horor. Seru juga ternyata. Sebagai pembaca yang baik, kita mesti coba baca semua genre, kan? 😀 Alhamdulillah dua minggu lalu, aku mendapat tawaran dari Kak Donna untuk jadi early reviewer dan reader untuk buku 13 ini yang akan segera rilis, tepatnya (kalau nggak ada perubahan) tanggal 29 Juni 2015. Terima kasih Kak Donna atas tawarannya. Juga terima kasih untuk Kak Shandy, dan tentunya GPU. 🙂

Primadonna Angela adalah penulis yang menurut aku sangat produktif karena setiap tahun selalu ada saja buku barunya yang dirilis. Nggak heran kalau karyanya banyak banget! Buku ini sendiri merupakan buku ke-28-nya sekaligus kumcer pertamanya bersama Shandy Tan. Shandy Tan adalah penulis yang karyanya juga telah banyak diterbitkan. Dan kumcer ini pun merupakan buku duet pertamanya bersama Primadonna Angela. PAST! sendiri merupakan singkatan nama dari kedua penulis tersebut. Buku ini adalah buku duet mereka yang pertama, dan mereka berencana untuk tetap kontinyu menulis buku-buku berikutnya.

13. Apa yang kamu pikirkan tentang angka 13? Mungkin tak terpikirkan olehmu kalau 13 adalah angka yang benar-benar magis. Mungkin tak terpikirkan juga olehmu kalau banyak hal-hal aneh yang terjadi karena angka 13. Mungkin kamu akan beranggapan semua hanyalah kebetulan. Tapi, setelah baca buku ini, akankah anggapanmu tetap sama? Cerpen-cerpen di buku 13 bakal bikin kamu berpikir. Berpikir benar atau tidaknya semua kejadian yang ada dalam kumcer ini.

Aku nggak akan menyebutkan judul dari setiap cerpen yang ada dalam buku ini. Jadi aku tulis Cerpen 1-13 saja, ya. Biar pada penasaran, haha. Sebelum review keseluruhan untuk buku ini, sila dibaca dulu pendapatku tentang masing-masing cerpennya.

*Cerpen 1

textgram_1434789006

Saat baca cerpen ini, mulanya aku berpikir, “Oh, tentang boneka. Pasti ada yang aneh dengan bonekanya. Pasti bonekanya menyeramkan seperti di film-film.” Namun, setelah membaca sampai selesai ternyata dugaanku salah, haha. Aku jadi berpikir mungkin ada juga boneka yang nggak menakutkan seperti Rowena. Bahkan boneka tersebut merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu pemiliknya dengan caranya sendiri. Meski ceritanya nggak terlalu menyeramkan, tapi bisa bikin penasaran karena alur ceritanya yang nggak bisa ditebak.

*Cerpen 2

Kadangkala kita punya keinginan yang keluar begitu saja dari mulut kita/tercetus dari pikiran kita, tanpa kita pikirkan lebih dulu baik atau buruknya. Hingga kita rela melakukan apa saja demi tercapainya keinginan itu. Seperti yang dikatakan Reta dalam cerpen ini, hati-hati dengan keinginanmu. Kenapa harus berhati-hati? Karena segala hal bisa terjadi akibat dari sebuah keinginan, termasuk hal yang tidak pernah kita duga. Apabila keinginan tersebut udah terpenuhi dan hal yang tidak kita harapkan malah terjadi, maka siapa yang sanggup untuk membalikkannya? Hal ini terjadi pada Trisa.

*Cerpen 3

The unknown is sometimes more exciting. Because we fill the blanks with our wild imaginations. – Hlm. 34

Rasa penasaran. Kadang rasa penasaran akan sesuatu hal yang ganjil bisa menyebabkan hal yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Nggak percaya? Jawabannya ada dalam cerpen ini.

*Cerpen 4

Suara hati penuntun sejati, tapi orang sering menanggapi dengan setengah hati. Jika hati kecilmu menyuruh pergi, segeralah angkat kaki. Mendapat julukan pengecut jauh lebih baik daripada selamanya tidak bisa lagi menyaksikan matahari esok hari. – Hlm. 42

Entah kenapa aku suka sekali dengan kutipan ini. Permainan katanya bagus banget. Untuk ceritanya, bakal bikin kita menebak-nebak sendiri kayak gimana akhir ceritanya. Nggak nyangka ternyata Aldo bukanlah teman yang baik. Lagi-lagi aku salah menduga, haha. Dari cerita ini jadi berpikiran mungkin benar adanya kalau angka 13 benar-benar angka yang magis.

Continue reading “[Review] 13: Kumpulan Cerpen Horor by PAST!”

PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2014, Review Buku

[Review] Katakan Cinta dengan Warna by Primadonna Angela

15478Judul: Katakan Cinta dengan Warna

Penulis: Primadonna Angela

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Kedua: April 2010

Bahasa: Indonesia

ISBN: 9789792229561

Halaman: 152 halaman

Harga: Rp 15.200,- (www.getscoop.com)

Rating: ♫♫♫

Sinopsis

Bagi Rieni, cinta memiliki warna. Dan merah jingga adalah warna cintanya terhadap Milo. Maka untuk ulang tahun Milo, Rieni merajutkan sweter jingga untuk temannya sejak kecil itu. Tapi, apa Milo yang biasa dikerumuni cewek-cewek yang jauh lebih cantik dan trendi akan menerima kasih sayang tulus Rieni?

Belasan kisah cinta dalam kumcer ini mungkin akan membuatmu tersenyum, terharu, dan barangkali tertawa riang!

Review

Ini kali pertama saya baca buku digital sampai selesai. Dan kebetulan men-download buku yang saya inginkan pun amat mudah di aplikasi tersebut. Mungkin teman-teman juga sudah ada yang pernah baca buku di SCOOP. Baca buku digital memang suatu pilihan, tapi teman-teman perlu tahu nih kalau mau beli buku di SCOOP nggak susah loh. Cukup download aplikasinya, cari buku yang kamu mau dan unduh, lalu tinggal baca deh buku yang kamu unduh tersebut di library. 😀 Sekarang dengan banyaknya aplikasi semacam SCOOP ini kita bisa baca buku di mana pun dan kapan pun jadi nggak ribet, hehe.

Nah, balik ke buku Katakan Cinta dengan Warna yang sudah saya baca, kumpulan cerita yang ada dalam buku ini remaja banget. Saat membaca beberapa cerpennya bikin saya senyum-senyum sendiri. Saya nggak akan cerita banyak tentang masing-masing cerpennya, tapi saya akan berbagi mengenai cerpen-cerpen yang saya suka. Berikut ketujuh cerpen favorit saya:

  • Saat Gerald Jatuh Cinta

Baca cerpen ini kita jadi tahu gimana seorang remaja cowok jatuh cinta. Gimana perubahan-perubahan sikapnya. Mungkin juga hal ini nggak jauh beda dialami sama seorang cewek yang sedang jatuh cinta sama seorang cowok. Kira-kira kalau cowok yang sudah dewasa lagi jatuh cinta begini juga nggak ya? 😀

Continue reading “[Review] Katakan Cinta dengan Warna by Primadonna Angela”

PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2013, Review Buku

[Review] Pojok Lavender by @cinnamoncherry

pojok-lavender-200x300Judul: Pojok Lavender
Penulis: Primadonna Angela
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: April 2013
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9789792294903
Halaman: 256 halaman
Peresensi: Launa Rissadia

Sinopsis
Banyak hal dapat terjadi dalam sebuah kafe. Kafe bisa menjadi latar berseminya cinta sampai patahnya hati, menjadi saksi perselisihan sampai saksi persahabatan yang tulus, tempat seseorang mengembangkan harapan atau mematikannya. Drama kehidupan, yang silih berganti.
Dalam buku ini ada beraneka kisah yang berkaitan dengan Pojok Lavender. Ya, Lavender Rosemary, adik Cinnamon Cherry, juga punya ceritanya sendiri. Tapi apa kisah cintanya akan berakhir indah seperti yang dialami banyak pasangan yang berkencan di kafenya?

Review
Ah… Been a long time. Last month I was too busy with writing project. So, I had no time to write a review. But, now I’m back! 😀
Ini kali kedua (kalau engga salah) aku membaca karyanya Primadonna Angela. Sama seperti teenlit Satsuki Sensei miliknya, dalam teenlit ini penulis menyajikan banyak kisah yang menyentuh dan sangat disayangkan bila melewatkannya. Keenam belas kisah tersebut dihidangkan secara apik olehnya.

Kamu dan aku, dalam hawa beku
Kala sendiri, merenung dalam sepi
Dan tiba-tiba, ada secercah cahaya
Tidak satu, tapi dua
Dua cahaya, yang akan menaklukkan dunia…

Syair lagu di atas adalah kutipan dari salah satu kisah yang paling aku suka dalam buku ini. Kisah menyentuh tersebut berjudul Dua Cahaya. Tokoh Hikari yang ada dalam kisah tersebut mengalihkan perhatianku. Bagiku, Ia merupakan sosok pria dambaan seluruh wanita. Siapa coba yang tak mendambakan seorang lelaki yang romantis seperti dirinya? 😀

Continue reading “[Review] Pojok Lavender by @cinnamoncherry”

PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2012, Review Buku

[Short Review] Satsuki Sensei

20121027-230945.jpg
Title: Satsuki Sensei
Series: TeenLit
ISBN/EAN: 9789792277593 / 9789792277593
Author: Primadonna Angela
Publisher: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Publish: 24 November 2011
Pages: 216
Weight: 250 gram
Dimension (mm): 14 x 200

Sinopsis
Satsuki dan Evan sama-sama suka judo. Evan kalah dalam pertandingan persahabatan, karenanya ia memberi julukan Satsuki Sensei, alias Guru Satsuki. Satsu kesal saat Evan memintanya bertanding sekali lagi untuk membuktikan siapa yang lebih kuat di antara mereka. Nggak penting banget, kan?
Apakah Satsu dan Evan akan terus berseteru? Bagaimana kalau cinta mendadak menyergap dan mengalahkan seluruh jurus yang mungkin diketahui Satsuki?
Satsuki Sensei adalah kumcer yang berisi sepuluh cerpen, dengan tema cinta dan kepercayaan. Di antaranya mengenai kasih sayang antara anak dan orangtua, antarsahabat, juga indahnya cinta pertama.

Review
Nice Teenlit! Penulis menyajikan semua kisah dalam buku ini dengan sangat menarik dan enak dibaca. Kata per kata, kalimat per kalimat dibuat semenarik mungkin dan mudah dipahami. Kisah-kisah yang ada dalam buku ini dekat sekali dengan keseharian kita. Kisah-kisah yang ada di buku ini berkisar tentang percintaan, persaudaraan juga persahabatan. Setiap kisahnya memiliki warna tersendiri. This book is worth to buy and read! 🙂