PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2017, Review Buku

[Review] Trisula Mentari by Shandy Tan

Judul Buku: Trisula Mentari

Penulis: Shandy Tan

Desain Sampul: Orkha Creative

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama: Maret 2017

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-3913-9

Halaman: 256 halaman

Harga Online: Rp47.700,-

Rating: 3.5/5

Sinopsis

TRISULA MENTARI tidak mengutuk, juga tidak membanggakan kemampuannya mendengar suara roh. Tetapi, gara-gara bakat itu Trisula dianggap aneh di sekolah. Hanya Mikaela, sahabatnya, yang tahu soal bakat uniknya itu dan tidak menjauhinya.

Pada hari pertama menjadi murid kelas sepuluh, Trisula mendapat kejutan kecil. Murid baru bernama Alfa lebih memilih duduk bersamanya daripada bersama Kristal, si murid populer. Mikaela, yang ingin mendekatkan Alfa dan Trisula, membuat janji datang ke rumah Alfa dengan alasan meminjam komik, lalu mengajak Trisula.

Ketika mereka mengobrol di perpustakaan mini Alfa, Trisula terkejut karena mendengar suara roh marah-marah yang mengusir mereka dari rumah itu. Keadaan memburuk ketika tiba-tiba ada komik melayang hingga dua kali.

Bagaimana cara Trisula menjelaskan apa yang sedang terjadi? Dan, bagaimana reaksi Alfa mendengar hal itu? Apakah teman barunya itu juga akan menjauhi Trisula?

Review

Trisula Mentari merupakan teenlit misteri terbaru karya Shandy Tan yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama lima bulan lalu. Ini kali pertama saya membaca teenlit misterinya dan tentu menjadi pengalaman baru bagi saya. Karena biasanya saya lebih sering membaca teenlit romance. Namun, ini menjadi ketiga kalinya pula saya membaca karya Shandy Tan setelah sebelumnya membaca 13: Kumpulan Cerpen Horor yang ditulisnya bersama Primadonna Angela dan FBI vs CIA. Kalau saya tidak salah menebak (dan berharap), bisa jadi Trisula Mentari adalah teenlit misteri seri kedua setelah seri Samantha’s Secret.

Sepertinya Shandy Tan senang membuat cerita berseri. Selain seri Samantha’s Secret, ia juga pernah menerbitkan teenlit seri FBI vs CIA; seri yang seru pun menghibur dan mengingatkan saya pada masa-masa SMA. Shandy pun telah menerjemahkan beberapa novel luar, seperti Red Rising – Kebangkitan Merah karya Pierce Brown, Hopeless – Tanpa Daya karya Colleen Hoover, Forever, Jack – Bersamamu Selalu karya Natasha Boyd, Underworld karya Meg Cabot, dan lain-lain.

“Orang bisa menjalani kehidupan layak tanpa harus memiliki terlalu banyak keinginan atau tuntutan.” (Hlm. 49)

“Kebahagiaan dan perasaan cukup tidak datang dari benda dan hal-hal duniawi, melainkan dari seberapa mampu kita bersyukur ketika kebutuhan dasar kita tercukupi.” (Hlm. 49)

Trisula Mentari sendiri mengisahkan tentang seorang siswi bernama Trisula Mentari yang memiliki kemampuan tidak biasa; bisa mendengar suara roh. Karena kemampuannya tersebut ia sering menjadi bahan ejekan dan hinaan teman-teman sekolahnya. Tak jarang ia dipanggil oleh penasihat siswa hanya karena pembelaannya atas tindakan buruk teman-temannya. Ia selalu saja menjadi pihak yang disalahkan karena tidak ada satupun orang yang percaya dengan apa yang ia ceritakan.

Orang-orang kerap memandangnya secara skeptis atau kasihan atau tidak percaya dan menganggapnya aneh, namun lain dengan Alfa; murid baru yang juga sekelas dengan Trisula sekaligus keponakan Bu Amelia, asisten penasihat siswa. Ia lebih memilih semeja dengan Trisula daripada dengan Kristal, cewek populer di sekolah. Kalau murid-murid lain terpesona akan kecantikannya, tetapi tidak bagi Alfa. Baginya, Kristal adalah cewek sok cantik.

Continue reading “[Review] Trisula Mentari by Shandy Tan”

Iklan