[Review] Fortunately, the Milk (Untunglah, Susunya) by Neil Gaiman

Judul Asli: Fortunately, the Milk

Judul Terjemahan: Untunglah, Susunya

Penulis: Neil Gaiman

Ilustrasi: Skottie Young

Alih Bahasa: Djokolelono

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan I: Desember 2014

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-1225-5

Halaman: 128 halaman

Harga: Rp35.000,-

Rating: 5/5

Sinopsis

“Aku membeli susu,” kata Ayah. “Aku keluar dari toko pojok, dan mendengar suara aneh seperti ini: dhum… dhumm… Aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas Jalan Marshall.”

“Halo,” pikirku. “Itu bukan sesuatu yang kaulihat setiap hari. Lalu sesuatu yang aneh terjadi.”

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Baca saja petualangan aneh dan ajaib ini, yang diceritakan dengan lucu oleh Neil Gaiman, penulis bestseller pemenang Newbery Medalist. Ilustrasi oleh Skottie Young.

Review

“Susumu masih ada. Selama ada susu, masih ada harapan.” (Hlm. 31)

“Jika benda yang sama dari dua waktu berbeda bersentuhan, satu dari dua hal akan terjadi. Bisa Jagad Raya musnah atau tiga orang bajang ajaib akan berdansa di jalan-jalan dengan pot bunga di kepala mereka.” (Hlm. 51)

“Terserah padamu. Mau hidup di jagad yang sudah tidak ada lagi, atau biarkan dunia apa adanya.” (Hlm. 89)

Saya menghabiskan Fortunately, the Milk dalam waktu dua hari. Sebetulnya sehari bisa habis karena buku ini terbilang tipis. Hanya saja saat ini waktu membaca saya tidak sebanyak dulu. *curcol lagi* Pun tidak seluruhnya berisi tulisan karena terdapat ilustrasi-ilustrasi manis yang menghiasi setiap halamannya sehingga buku ini bisa selesai dibaca dalam sekali lalu. Selain itu, saya juga suka sekali melihat ilustrasi-ilustrasinya. Pelengkap cerita yang begitu detail dan memanjakan mata. Saya yakin anak-anak pun akan suka.

Baru kali ini saya mencicipi karyanya Neil Gaiman. Neil Gaiman tidak hanya menulis novel, tetapi juga fiksi pendek, buku komik, novel grafis, teater audio, dan film. Beberapa karyanya yang lain, yaitu Blueberry Girl, Coraline, The Graveyard Book, Stardust, The Wolves in the Walls, dan lain-lain.

Fortunately, the Milk sendiri mengisahkan tentang seorang ayah yang membeli sebotol susu di toko pojok untuk anak-anaknya. Ketika keluar dari toko pojok ia melihat sebuah piringan perak besar menggantung di atas Jalan Marshall. Ia pun tersedot ke dalamnya dan bertemu dengan banyak penghuni yang aneh.

Baca lebih lanjut

[Review] Keep Your Hand Moving by Anwar Holid

Judul: Keep Your Hand Moving (Panduan Menulis, Mengedit, dan Memolesnya)

Penulis: Anwar Holid

Genre: Nonfiksi

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan 1: 2010

ISBN: 978-979-22-5844-8

Halaman: 136 halaman

Harga: Rp34.941,- (e-book)

Rating: 3.5/5

Sinopsis

Penulis hebat biasanya berusaha melampiaskan ekspresi agar mampu menemukan kekuatan khas dirinya. Dirinya mau berkompromi terhadap standar umum dunia penulisan, memperhatikan kepentingan pembaca untuk menghasilkan karya yang jernih, eksploratif, kuat.

Keep Your Hand Moving berusaha fokus meningkatkan kemampuan menulis. Mula-mula dengan membangkitkan saraf dan kebiasaan menulis, lantas mewujudkan ide jadi tulisan yang utuh, enak dibaca, layak publikasi. Penulis juga perlu mampu menilai, menganalisis, dan mengedit karya sendiri, melenturkan tulisan atau menggayakan cara bertutur agar lebih hebat dan bertenaga. Ujungnya mengingatkan dan menyemangati untuk mau belajar dari karya orang lain, pantang menyerah, dan terus menciptakan karya terbaik.

Buku ini ingin berbagi wawasan, semangat, dan inspirasi untuk membiasakan diri menulis secara rapi, keterbacaannya tinggi, dan sedapat mungkin bebas dari kesalahan umum.

Review

Bagi sebagian orang menulis adalah kegiatan yang menyenangkan. Namun, tidak semua orang dari sebagian tersebut yang mampu menulis dengan baik. Sebagai orang yang tertarik dengan dunia tulis-menulis dan merasa memiliki ilmu yang masih dangkal, saya kerap senang bila menemukan buku perihal tulis-menulis yang menarik perhatian saya. Seperti buku Keep Your Hand Moving milik Anwar Holid yang saya incar sejak lama dan sudah tidak ada di toko buku, saya temukan di aplikasi perpustakaan digital persembahan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, iPusnas, Desember tahun lalu.

Anwar Holid adalah seorang penulis yang juga bekerja sebagai penyunting dan publisis. Keep Your Hand Moving merupakan buku ketiga yang ditulis olehnya. Sebelumnya ia telah mengeluarkan dua buku yang berjudul Barack Hussein Obama dan Seeking Truth Finding Islam. Buku Keep Your Hand Moving­-lah yang ‘mengenalkan’ saya padanya.

“Tulisan pun bisa merupakan sesuatu yang sederhana, namun juga bisa merupakan sesuatu yang kompleks dan rumit, terlebih-lebih bila itu merupakan wacana.” (Hlm. 3)

“Sebuah teori menyebutkan bahwa menulis mirip dengan kriya (kerajinan); karena itu penulis harus berlatih terus-menerus agar semakin baik menguasai seluruh bahan yang akan ditulis.” (Hlm. 7)

Baca lebih lanjut

[Review] Kumpulan Budak Setan by Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad

img_20170218_184327Judul Buku: Kumpulan Budak Setan

Penulis: Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Kedua: Agustus 2016

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-3364-9

Halaman: 174 halaman

Harga: Rp23.400,- (eBook by SCOOP)

Rating: 4/5

Sinopsis

Kumpulan Budak Setan, kompilasi cerita horor Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, adalah proyek membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif di era 1970-1980-an. Dua belas cerpen di dalamnya mengolah tema-tema khas Abdullah Harahap—balas dendam, seks, pembunuhan—serta motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian.

♥♥♥

Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku. Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar: “Ina Mia?”

(“Riwayat Kesendirian”, Eka Kurniawan)

Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan―lebih mirip terigu menggumpal tersapu air―dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan.

(“Goyang Penasaran”, Intan Paramaditha)

“Duluan mana ayam atau telur,” gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Sekali. Sekali lagi. Lagi. Darah di mana-mana.

(“Hidung Iblis”, Ugoran Prasad)

Review

Kumpulan Budak Setan merupakan proyek yang ditulis oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad yang terinspirasi dari karya Abdullah Harahap sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap beliau; penulis horor populer. Di dalamnya terdapat dua belas cerpen dengan masing-masing empat cerita dari setiap penulis. Tujuh dari dua belas cerpen tersebut sebelumnya pernah dimuat di koran dan majalah beberapa tahun yang lalu. Seperti yang disebutkan di belakang kover, kedua belas cerpen tersebut mengolah beragam tema khas Abdullah Harahap, seperti balas dendam, seks, pembunuhan, motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib seperti jimat, dan lain-lain, dan manusia jadi-jadian.

Berikut sedikit tentang kedua belas cerpen tersebut dan kesan-kesan saya:

– Penjaga Malam

“Lalu aku merasa mendengar kesunyian, betapapun anehnya ungkapan itu bagiku. Tapi benar, aku mendengarnya, suatu bunyi yang kosong, yang berbeda dengan apa pun.” (Hlm. 3)

Tentang Aku yang sedang berjaga malam bersama Karmin, Miso, dan seorang anak bernama Hamid. Waktu pun berlalu dan Karmin yang pergi berkeliling kampung tidak kunjung kembali. Kemudian disusul oleh Miso dan Hamid, yang keduanya pun sama seperti Karmin; menghilang dan tak kembali. Penasaran dengan apa yang menimpa teman-temannya, Aku pun akhirnya memutuskan untuk menyusul mereka. Sayangnya, ia pun bernasib sama seperti Karmin, Miso, dan Hamid.

Cerpen ini tidak membuat bulu kuduk saya berdiri. Tidak berasa horornya. Tetapi, karena cerpen ini saya jadi tahu apa itu bajang. 😀

– Taman Patah Hati

bkpys18hg-e

“Pergilah ke Taman Inokashira dengan kekasih atau istrimu, kamu akan segera menemukan hubungan kalian hancur total.” (Hlm. 13)

Baca lebih lanjut

[Review] FBI vs CIA by Shandy Tan

14487225_1470749096287914_5874743609923731456_n

Judul Buku: FBI vs CIA

Penulis: Shandy Tan

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan 1: Oktober 2008

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-22-4059-7

Halaman: 192 halaman

Harga: Rp30.600,- (eBook by SCOOP)

Rating: 3.5/5

Sinopsis

FBI dan CIA adalah dua geng cewek SMA yang berbeda secara fisik. FBI (Feni, Bertha, Isabel) bertubuh subur makmur sebulat sumur, sedangkan CIA (Carol, Ivana, Angel) bertubuh kurus kering setipis piring. Mereka saling cuek, sampai suatu saat guru fisika memberikan tugas kelompok.

Isabel terpaksa satu kelompok dengan CIA. Carol, yang tahu Isabel berotak encer, membujuk Isabel untuk menjadi anggota CIA. Syaratnya, Isabel harus kurus. Maka Carol mengiming-imingi Isabel pola diet jitu supaya Isabel bisa menurunkan berat badannya.

Isabel jelas menerimanya. Dalam waktu tak terlalu lama, berat badannya mulai berkurang. Demi menjadi langsing, cantik, dan populer, Isabel tak peduli lagi pada FBI. Sampai akhirnya Isabel tahu, CIA memanfaatkannya untuk mengatrol nilai-nilai mereka.

Isabel ingin kembali pada Feni dan Bertha. Tapi tunggu dulu! Posisi I sudah diisi Indri! Terus, Isabel harus bagaimana dong? Haruskah dia menyingkirkan Indri? Padahal Feni dan Bertha menyukai Indri. Kembali pada CIA? Nggak usah, ya! Jadi, berhasilkah Isabel mendapatkan kembali sahabat-sahabat sejatinya?

Review

Ini kali pertama saya membaca karyanya Shandy Tan. Sebenarnya sudah sejak lama saya punya salah satu bukunya yang berjudul Shine on Me. Hanya saja sampai detik ini saya belum sempat membaca buku tersebut. Karena, ya begitulah. Selalu tergoda untuk membaca buku yang baru dibeli terlebih dulu, hehe.

Shandy Tan adalah penulis yang mengawali keterlibatannya dalam dunia menulis fiksi pada tahun 1994. Wow, sudah lama sekali, ya. Sebelum menerbitkan novel ini, Shandy Tan telah menelurkan tiga buku pada tahun 2006, yaitu Rival, Rahasia Si Kembar, dan Saat Tersenyum Saat Menyentuh (kumpulan cerpen remaja). FBI vs CIA adalah buku pertama dari seri buku FBI vs CIA.

Buku ini merupakan awal mula kisah persahabatan dan perselisihan antara kelompok FBI (Feni, Bertha, Isabel) dengan CIA (Carol, Ivana, Angel). Mereka adalah dua geng SMA yang secara fisik penampilannya amat berbeda. FBI terdiri dari tiga orang siswi yang bertubuh lumayan subur dan identik dengan makanan, sedangkan CIA terdiri dari tiga orang siswi yang tergolong kurus dan amat memerhatikan penampilan.

Suatu ketika, Pak Ramses, seorang guru fisika memberikan tugas berupa menyusun laporan tentang serangkaian percobaan yang telah disusunnya. Ia pun mengadakan pembagian kelompok masing-masing beranggotakan empat orang. Bisa dibilang Isabel tidak beruntung sebab ia satu kelompok dengan CIA. Feni dan Bertha pun nasibnya tidak cukup bagus. Feni satu kelompok dengan dua cowok yang selalu menempati ranking pertama dan kedua dari belakang, sedangkan Bertha satu kelompok dengan Juli yang sok pintar.

Baca lebih lanjut

[Review] Air Mata Buaya by Clara Ng

Judul Buku: Air Mata Buaya (Dongeng Tujuh Menit)

Penulis: Clara Ng

Ilustrasi: Gina

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Maret 2010

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-22-5483-9

Halaman: 24 halaman

Harga Diskon: Rp19.800,- (e-book)

Peresensi: Launa Rissadia

Rating: 2.5/5

Deskripsi

“Geli sekaligus terharu membacanya! Benar-benar membuat kita mengerti mitos air mata buaya…” – Sitta Karina, Novelis dan Kontributor Majalah CosmoGIRL!

Review

Saya selalu kagum dan salut dengan penulis yang bisa menulis cerita anak. Salah satu penulis buku anak yang saya kagumi dan favoritkan adalah Clara Ng. Penulis yang dongeng anak-anaknya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan telah beredar di Negara ASEAN ini tidak hanya menulis buku anak, tetapi juga buku remaja dan dewasa.

Air Mata Buaya adalah seri dongeng tujuh menit yang menceritakan tentang Buaya yang memiliki sifat lembut dan penyayang. Ia mudah sekali menangis apabila sesuatu terjadi dengan teman-temannya atau sekitarnya. Jika sudah menangis, tangisannya sangat sulit untuk dihentikan. Bahkan Ibu Gajah pun tak bisa menghentikannya dan malah ikut menangis bersama Buaya. Tangisan Buaya bukanlah tangisan yang dibuat-buat, melainkan tangisan yang memang datang dari hatinya.

Buaya-nya cengeng sekali, haha. Bikin saya berpikir memang ada, ya, anak kecil yang sifatnya seperti si tokoh Buaya (di luar sifatnya yang penyayang dan lembut). Ya, namanya juga dongeng jadi sah-sah saja. Kalau dalam kenyataannya, sih, kayaknya enggak ada. Kaitan antara sifat Buaya yang mudah menangis plus tangisannya yang susah dihentikan, dan pesan yang ingin disampaikan (rasa kepedulian terhadap orang-orang susah dan berhati-hati dalam melakukan sesuatu) kurang masuk akal atau pas, menurutku. Tapi, ide Clara Ng tentang ‘air mata buaya’ menarik. Sifat lembut dan penyayang tokoh Buaya membuat saya terharu. Saya suka dengan cara penyampaian Clara Ng yang tidak menggurui dan enak dibaca. Selain itu, saya juga suka sekali dengan ilustrasinya Gina. Anak-anak banget! Pas sekali dengan dongengnya. Saya sebagai orang dewasa saja suka apalagi anak-anak. Air Mata Buaya adalah bacaan yang cukup menghibur dan menyegarkan bagi orang dewasa seperti saya.

[Review] Bagai Bumi Berhenti Berputar by Clara Ng

JPEG_20160904_133304_1572399268Judul Buku: Bagai Bumi Berhenti Berputar

Penulis: Clara Ng

Ilustrasi: Emte

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Kedua: Oktober 2015

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-22-7884-2

Halaman: 124 halaman

Harga Resmi: Rp 120.000,-

Harga Diskon: Rp 102.000,-

Peresensi: Launa Rissadia

Rating: 4/5

Sinopsis

Apakah arti mati? Mengapa kakak tidak dapat berjalan? Mengapa Mama berpisah dengan Papa? Mengapa adik harus dirawat di rumah sakit? Kenapa aku harus pindah rumah ke tempat yang asing?

Anak-anak tidak lepas dari emosi negatif, seperti duka, shock, sedih, dan malu. Peristiwa yang menguras emosi bisa saja terjadi di dalam keluarga mana pun. Sebagai orangtua kita tak boleh mengabaikannya, menganggap peristiwa yang sangat emosional ini sebagai hal yang harus ditutupi, tak perlu diungkapkan atau dibesar-besarkan. Orangtua wajib memberikan sandaran dan dukungan bagi mereka.

Buku ini membantu anak-anak memahami perasaan mereka; membantu mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian. Buku ini juga menolong anak-anak berempati kepada anak-anak lain yang kebetulan sedang mengalami peristiwa menyedihkan di keluarganya.

Mari baca dan satukan hati bersama si kecil.

Bacaan tepat untuk anak berusia 7+ tahun

BO: Bimbingan Orangtua

Review

Entah ini kali keberapa saya membaca karyanya Clara Ng. Saya tidak pernah tidak suka dengan karya beliau. Karyanya selalu menarik untuk dibaca, termasuk buku anak yang ditulisnya. Buku anak ini berisi lima cerita, di mana masing-masing cerita memiliki pesannya sendiri. Berikut kelima cerita tersebut:

Melihat pohon harapanku tumbuh subur, demikian juga harapan yang ada di hatiku. Aku yakin suatu hari Adik akan benar-benar sembuh.” – halaman 26

Cerita Pohon Harapan: tentang seorang kakak yang amat menyayangi adiknya dan tidak ingin kehilangan adiknya. Ia tak henti-hentinya berdoa dan berharap agar adiknya lekas sembuh dari penyakit kanker. Melalui cerita ini, Clara mengajarkan anak-anak untuk selalu optimis dan berdoa ketika ada saudara yang sedang sakit.

Teman adalah harta karun yang tidak ternilai.” – halaman 45

Cerita Seribu Sahabat Selamanya: tentang ketakutan dan kekhawatiran seorang anak akan sahabat dan hal lainnya, apabila ikut ayahnya pindah ke luar negeri. Di sini Clara mengajarkan untuk tidak menduga-duga dan memikirkan hal yang belum tentu terjadi.

Bunda tidak akan pernah kembali lagi. Yang bisa kita lakukan adalah mengenang semua kebaikan hati Bunda, mengenang kegembiraan yang diciptakan Bunda di keluarga kita.” – halaman 66

Baca lebih lanjut

[Review] 3 (Alif Lam Mim) – Tiga Sahabat, Tiga Pilihan Hidup by Primadonna Angela

ID_GPU2015MTH10FKSAU_B

Cr: scoop.id

Judul Buku: 3 (Alif Lam Mim)

Penulis: Primadonna Angela

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: September 2015

Bahasa: Indonesia

Tebal: 232 halaman

ISBN: 978-602-03-2094-6

Harga Resmi: Rp 55.000,-

Harga Diskon: Rp 44.000,-

Peresensi: Launa Rissadia

Rating: 4/5

Sinopsis

Novelisasi film 3 karya Sutradara Anggy Umbara.

Alif, Lam, dan Mim. Tiga sahabat seperguruan yang menjalani hidup berbeda sejak Indonesia menjadi negara liberal. Alif teguh sebagai penegak hukum. Lam berkarier sebagai wartawan, memaparkan kebenaran sebagaimana yang dilihatnya. Mim tetap setia di padepokan, meski Indonesia mencurigai mereka yang beragama.

Satu demi satu konflik bergulir. Dalam situasi genting, garis antara kawan dan lawan mengabur, dan mereka bertiga harus terus berjuang demi negara, keluarga, dan sahabat yang mereka sayangi…

Review

Buku ini merupakan novel yang diadaptasi oleh Primadonna Angela dari film berjudul sama karya sutradara Anggy Umbara. Buku 3 menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di Jakarta pada tahun 2034. Di mana agama mulai ditinggalkan karena dianggap memicu kekerasan dan menghalangi kebebasan. Pun dianggap membatasi ideologi dan menjadikan penganutnya fanatik sekaligus hanya menganggap diri mereka yang benar. Agama tidak lagi dianggap perlu oleh Negara dan sila kesatu Pancasila telah dimusnahkan. Pada tahun tersebut pula kisah tiga sahabat, yaitu Alif, Lam dan Mim dimulai.

Ketika semua padepokan bela diri di Nusantara ditutup, dan ketika guru mereka yaitu Astaroth pergi meninggalkan padepokan, Alif, Lam dan Mim memiliki keputusannya masing-masing mengenai masa depan. Alif yang ingin negara menjadi aman dan damai memutuskan untuk menjadi penegak hukum. Lam yang ingin masa depan yang lebih baik memutuskan untuk menyebarkan kebenaran dengan cara menulis tentang kebenaran. Dan Mim yang ingin mati dalam keadaan husnulkhatimah memutuskan untuk mondok di sekolah KH Mukhlis. Ia ingin menyebarkan kebaikan melalui agama.

Bagian Pertama: Alif – punya banyak misi, salah satunya menangkap Big Boss Mafia, Mr. Sunyoto

“Semua tak selalu berjalan sesuai keinginan. Begitulah kehidupan.” – Hlm. 35

Alif yang seorang pemimpin diharuskan berani untuk menegakkan kebenaran. Seorang Letnan yang idealis, ambisius, memiliki kemampuan bela diri dan reputasi yang hebat. Alif adalah seseorang yang begitu patuh dan taat pada peraturan, meski dalam hatinya ia merasa bahwa peraturan yang dikeluarkan oleh atasannya di markas besar kepolisian, berkenaan dengan melarang penggunaan peluru besi dan menggantinya dengan penggunaan peluru karet, kurang tepat.

Dalam misinya menangkap Big Boss Mafia, sesuatu telah terjadi dan menyebabkan dirinya menjadi seorang terdakwa sekaligus korban sebuah jebakan. Entah atas dasar apa orang tersebut menjebaknya. Dengan bantuan salah satu sahabatnya yang berprofesi sebagai jurnalis yaitu Herlam, Alif mencoba mencari tahu siapa Big Boss itu dan keluarganya. Telah banyak orang-orang yang menjadi korban dalam misinya selama ini. Meski begitu, Alif masih memiliki nurani dan ia mempunyai caranya sendiri untuk tetap waras. Melalui Herlam, ia selalu berusaha mencari tahu info mengenai keluarga dari para korban.

Baca lebih lanjut