PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2017, Review Buku

[Review] Sihir Perempuan by Intan Paramaditha

Judul Buku: Sihir Perempuan

Penulis: Intan Paramaditha

Editor: Eko Endarmoko

Desain Sampul dan Ilustrasi: Emte

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama: April 2017

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-4630-4

Halaman: 168 halaman

Harga: Rp65.000,-

Rating: 4/5

Sinopsis

Sihir Perempuan adalah kumpulan dongeng gelap tentang perempuan-perempuan yang tak patuh. Perempuan bisa menjadi apa saja: ibu, anak, karyawati yang baik, hingga boneka porselen. Namun dalam buku yang menghadirkan 11 cerita pendek ini, peran-peran yang seharusnya nyaman justru diteror oleh lanskap kelam penuh hantu gentayangan, vampir, dan pembunuh. Di sinilah perempuan dan pengalamannya yang beriak dan berdarah terpintal dalam kegelapan.

Dalam Sihir Perempuan, Intan Paramaditha mengolah genre horor, mitos, dan cerita-cerita lama dengan perspektif feminis. Buku ini meraih penghargaan 5 besar Khatulistiwa Literary Award (Kusala Sastra Khatulistiwa) di tahun 2005. Setelah 12 tahun, Sihir Perempuan diterbitkan ulang dengan kemasan baru dan ilustrasi untuk tiap cerita oleh Muhammad Taufiq (Emte).

Review

Sihir Perempuan merupakan kumpulan cerpen yang ditulis oleh Intan Paramaditha yang sebelumnya pernah diterbitkan oleh Penerbit Kata Kita pada tahun 2005. Setelah dua belas tahun, buku ini akhirnya diterbitkan kembali oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada April 2017. Di dalam buku setebal 168 halaman ini terdapat sebelas cerpen dengan kisah dan plot yang menarik. Juga memberikan ending yang, ada yang mudah ditebak pun sebaliknya, ada pula yang menyisakan tanya. Lima dari sebelas cerpen tersebut—Pemintal Kegelapan, Vampir, Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, Pintu Merah, dan Sejak Porselen Berpipi Merah Itu Pecah—sebelumnya pernah dipublikasikan di koran Kompas dan Tempo pada tahun 2004 dan 2005. Tetap menjadi cerita yang baru bagi saya karena baru kali ini membacanya.

Intan Paramaditha adalah seorang penulis sekaligus akademisi yang telah mengeluarkan beberapa karya, di antaranya naskah drama Goyang Penasaran, kumpulan cerpen horor Kumpulan Budak Setan, beberapa cerpen yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan Jerman dalam Spinner of Darkness & Other Tales, dan cerpen berjudul Klub Solidaritas Suami Hilang yang pernah mendapat penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2013. Katanya, tahun ini ia akan menerbitkan novel pertamanya, lo. Wah, saya sebagai penggemar tulisannya sudah tentu tidak sabar menunggu novelnya terbit. 😀 ❤

Ada enam cerpen dalam Sihir Perempuan yang menjadi favorit saya, yaitu Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, Mobil Jenazah, Mak Ipah dan Bunga-bunga, Jeritan dalam Botol, Sejak Porselen Berpipi Merah Itu Pecah, dan Sang Ratu. Menurut saya, keenam cerpen tersebut merupakan cerpen dengan cerita yang paling gelap, menarik, membuat saya terkesan, ending-nya tidak tertebak, dan terasa sekali kelamnya. Berikut sedikit tentang empat dari enam cerpen yang menjadi favorit saya:

Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari

“Begitulah, dalam kompetisi para perempuan harus menyingkirkan lawan dengan penuh kebencian.” (Hlm. 28)

Continue reading “[Review] Sihir Perempuan by Intan Paramaditha”

PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2016, Review 2017, Review Buku

[Review] Kumpulan Budak Setan by Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad

img_20170218_184327Judul Buku: Kumpulan Budak Setan

Penulis: Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Kedua: Agustus 2016

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-3364-9

Halaman: 174 halaman

Harga: Rp23.400,- (eBook by SCOOP)

Rating: 4/5

Sinopsis

Kumpulan Budak Setan, kompilasi cerita horor Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, adalah proyek membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif di era 1970-1980-an. Dua belas cerpen di dalamnya mengolah tema-tema khas Abdullah Harahap—balas dendam, seks, pembunuhan—serta motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian.

♥♥♥

Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku. Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar: “Ina Mia?”

(“Riwayat Kesendirian”, Eka Kurniawan)

Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan―lebih mirip terigu menggumpal tersapu air―dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan.

(“Goyang Penasaran”, Intan Paramaditha)

“Duluan mana ayam atau telur,” gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Sekali. Sekali lagi. Lagi. Darah di mana-mana.

(“Hidung Iblis”, Ugoran Prasad)

Review

Kumpulan Budak Setan merupakan proyek yang ditulis oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad yang terinspirasi dari karya Abdullah Harahap sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap beliau; penulis horor populer. Di dalamnya terdapat dua belas cerpen dengan masing-masing empat cerita dari setiap penulis. Tujuh dari dua belas cerpen tersebut sebelumnya pernah dimuat di koran dan majalah beberapa tahun yang lalu. Seperti yang disebutkan di belakang kover, kedua belas cerpen tersebut mengolah beragam tema khas Abdullah Harahap, seperti balas dendam, seks, pembunuhan, motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib seperti jimat, dan lain-lain, dan manusia jadi-jadian.

Berikut sedikit tentang kedua belas cerpen tersebut dan kesan-kesan saya:

– Penjaga Malam

“Lalu aku merasa mendengar kesunyian, betapapun anehnya ungkapan itu bagiku. Tapi benar, aku mendengarnya, suatu bunyi yang kosong, yang berbeda dengan apa pun.” (Hlm. 3)

Tentang Aku yang sedang berjaga malam bersama Karmin, Miso, dan seorang anak bernama Hamid. Waktu pun berlalu dan Karmin yang pergi berkeliling kampung tidak kunjung kembali. Kemudian disusul oleh Miso dan Hamid, yang keduanya pun sama seperti Karmin; menghilang dan tak kembali. Penasaran dengan apa yang menimpa teman-temannya, Aku pun akhirnya memutuskan untuk menyusul mereka. Sayangnya, ia pun bernasib sama seperti Karmin, Miso, dan Hamid.

Cerpen ini tidak membuat bulu kuduk saya berdiri. Tidak berasa horornya. Tetapi, karena cerpen ini saya jadi tahu apa itu bajang. 😀

– Taman Patah Hati

bkpys18hg-e

“Pergilah ke Taman Inokashira dengan kekasih atau istrimu, kamu akan segera menemukan hubungan kalian hancur total.” (Hlm. 13)

Continue reading “[Review] Kumpulan Budak Setan by Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad”

PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2015, Review Buku

[Review] 13: Kumpulan Cerpen Horor by PAST!

Follow my blog with Bloglovin
20150619_103541Judul: 13: Kumpulan Cerpen Horor

Penulis: PAST! (Primadonna Angela & Shandy Tan)

Genre: Horor

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juni 2015

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-1784-7

Halaman: 200 halaman

Harga: Rp 45.000,-

Rating: 3.5/5

Peresensi: Launa Rissadia

Sinopsis

Ada sesuatu yang magis dengan angka 13. Bagi kami, ini angka berbahaya. Banyak hal aneh, bahkan menyeramkan, terkait dengan angka 13.

Jika selama ini kamu mengganggap itu omong kosong belaka, pikirkan lagi. Kisah-kisah di buku ini akan membuatmu lebih berhati-hati pada apa pun yang terkait dengan angka 13: rumah, buku, jalan, bahkan bidal. Kami dulu juga begitu, tidak percaya angka ini bisa membawa petaka. Selama dan setelah menyelesaikan kumcer horor 13 ini, kami berubah pikiran. Mungkin seusai membaca buku ini, persepsimu tentang angka 13 tidak akan sama lagi…

Review

Ini kali pertama aku baca buku bergenre horor. Seru juga ternyata. Sebagai pembaca yang baik, kita mesti coba baca semua genre, kan? 😀 Alhamdulillah dua minggu lalu, aku mendapat tawaran dari Kak Donna untuk jadi early reviewer dan reader untuk buku 13 ini yang akan segera rilis, tepatnya (kalau nggak ada perubahan) tanggal 29 Juni 2015. Terima kasih Kak Donna atas tawarannya. Juga terima kasih untuk Kak Shandy, dan tentunya GPU. 🙂

Primadonna Angela adalah penulis yang menurut aku sangat produktif karena setiap tahun selalu ada saja buku barunya yang dirilis. Nggak heran kalau karyanya banyak banget! Buku ini sendiri merupakan buku ke-28-nya sekaligus kumcer pertamanya bersama Shandy Tan. Shandy Tan adalah penulis yang karyanya juga telah banyak diterbitkan. Dan kumcer ini pun merupakan buku duet pertamanya bersama Primadonna Angela. PAST! sendiri merupakan singkatan nama dari kedua penulis tersebut. Buku ini adalah buku duet mereka yang pertama, dan mereka berencana untuk tetap kontinyu menulis buku-buku berikutnya.

13. Apa yang kamu pikirkan tentang angka 13? Mungkin tak terpikirkan olehmu kalau 13 adalah angka yang benar-benar magis. Mungkin tak terpikirkan juga olehmu kalau banyak hal-hal aneh yang terjadi karena angka 13. Mungkin kamu akan beranggapan semua hanyalah kebetulan. Tapi, setelah baca buku ini, akankah anggapanmu tetap sama? Cerpen-cerpen di buku 13 bakal bikin kamu berpikir. Berpikir benar atau tidaknya semua kejadian yang ada dalam kumcer ini.

Aku nggak akan menyebutkan judul dari setiap cerpen yang ada dalam buku ini. Jadi aku tulis Cerpen 1-13 saja, ya. Biar pada penasaran, haha. Sebelum review keseluruhan untuk buku ini, sila dibaca dulu pendapatku tentang masing-masing cerpennya.

*Cerpen 1

textgram_1434789006

Saat baca cerpen ini, mulanya aku berpikir, “Oh, tentang boneka. Pasti ada yang aneh dengan bonekanya. Pasti bonekanya menyeramkan seperti di film-film.” Namun, setelah membaca sampai selesai ternyata dugaanku salah, haha. Aku jadi berpikir mungkin ada juga boneka yang nggak menakutkan seperti Rowena. Bahkan boneka tersebut merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu pemiliknya dengan caranya sendiri. Meski ceritanya nggak terlalu menyeramkan, tapi bisa bikin penasaran karena alur ceritanya yang nggak bisa ditebak.

*Cerpen 2

Kadangkala kita punya keinginan yang keluar begitu saja dari mulut kita/tercetus dari pikiran kita, tanpa kita pikirkan lebih dulu baik atau buruknya. Hingga kita rela melakukan apa saja demi tercapainya keinginan itu. Seperti yang dikatakan Reta dalam cerpen ini, hati-hati dengan keinginanmu. Kenapa harus berhati-hati? Karena segala hal bisa terjadi akibat dari sebuah keinginan, termasuk hal yang tidak pernah kita duga. Apabila keinginan tersebut udah terpenuhi dan hal yang tidak kita harapkan malah terjadi, maka siapa yang sanggup untuk membalikkannya? Hal ini terjadi pada Trisa.

*Cerpen 3

The unknown is sometimes more exciting. Because we fill the blanks with our wild imaginations. – Hlm. 34

Rasa penasaran. Kadang rasa penasaran akan sesuatu hal yang ganjil bisa menyebabkan hal yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Nggak percaya? Jawabannya ada dalam cerpen ini.

*Cerpen 4

Suara hati penuntun sejati, tapi orang sering menanggapi dengan setengah hati. Jika hati kecilmu menyuruh pergi, segeralah angkat kaki. Mendapat julukan pengecut jauh lebih baik daripada selamanya tidak bisa lagi menyaksikan matahari esok hari. – Hlm. 42

Entah kenapa aku suka sekali dengan kutipan ini. Permainan katanya bagus banget. Untuk ceritanya, bakal bikin kita menebak-nebak sendiri kayak gimana akhir ceritanya. Nggak nyangka ternyata Aldo bukanlah teman yang baik. Lagi-lagi aku salah menduga, haha. Dari cerita ini jadi berpikiran mungkin benar adanya kalau angka 13 benar-benar angka yang magis.

Continue reading “[Review] 13: Kumpulan Cerpen Horor by PAST!”