PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2017, Review Buku

[Review] Sihir Perempuan by Intan Paramaditha

Judul Buku: Sihir Perempuan

Penulis: Intan Paramaditha

Editor: Eko Endarmoko

Desain Sampul dan Ilustrasi: Emte

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama: April 2017

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-4630-4

Halaman: 168 halaman

Harga: Rp65.000,-

Rating: 4/5

Sinopsis

Sihir Perempuan adalah kumpulan dongeng gelap tentang perempuan-perempuan yang tak patuh. Perempuan bisa menjadi apa saja: ibu, anak, karyawati yang baik, hingga boneka porselen. Namun dalam buku yang menghadirkan 11 cerita pendek ini, peran-peran yang seharusnya nyaman justru diteror oleh lanskap kelam penuh hantu gentayangan, vampir, dan pembunuh. Di sinilah perempuan dan pengalamannya yang beriak dan berdarah terpintal dalam kegelapan.

Dalam Sihir Perempuan, Intan Paramaditha mengolah genre horor, mitos, dan cerita-cerita lama dengan perspektif feminis. Buku ini meraih penghargaan 5 besar Khatulistiwa Literary Award (Kusala Sastra Khatulistiwa) di tahun 2005. Setelah 12 tahun, Sihir Perempuan diterbitkan ulang dengan kemasan baru dan ilustrasi untuk tiap cerita oleh Muhammad Taufiq (Emte).

Review

Sihir Perempuan merupakan kumpulan cerpen yang ditulis oleh Intan Paramaditha yang sebelumnya pernah diterbitkan oleh Penerbit Kata Kita pada tahun 2005. Setelah dua belas tahun, buku ini akhirnya diterbitkan kembali oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada April 2017. Di dalam buku setebal 168 halaman ini terdapat sebelas cerpen dengan kisah dan plot yang menarik. Juga memberikan ending yang, ada yang mudah ditebak pun sebaliknya, ada pula yang menyisakan tanya. Lima dari sebelas cerpen tersebut—Pemintal Kegelapan, Vampir, Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, Pintu Merah, dan Sejak Porselen Berpipi Merah Itu Pecah—sebelumnya pernah dipublikasikan di koran Kompas dan Tempo pada tahun 2004 dan 2005. Tetap menjadi cerita yang baru bagi saya karena baru kali ini membacanya.

Intan Paramaditha adalah seorang penulis sekaligus akademisi yang telah mengeluarkan beberapa karya, di antaranya naskah drama Goyang Penasaran, kumpulan cerpen horor Kumpulan Budak Setan, beberapa cerpen yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan Jerman dalam Spinner of Darkness & Other Tales, dan cerpen berjudul Klub Solidaritas Suami Hilang yang pernah mendapat penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2013. Katanya, tahun ini ia akan menerbitkan novel pertamanya, lo. Wah, saya sebagai penggemar tulisannya sudah tentu tidak sabar menunggu novelnya terbit. 😀 ❤

Ada enam cerpen dalam Sihir Perempuan yang menjadi favorit saya, yaitu Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, Mobil Jenazah, Mak Ipah dan Bunga-bunga, Jeritan dalam Botol, Sejak Porselen Berpipi Merah Itu Pecah, dan Sang Ratu. Menurut saya, keenam cerpen tersebut merupakan cerpen dengan cerita yang paling gelap, menarik, membuat saya terkesan, ending-nya tidak tertebak, dan terasa sekali kelamnya. Berikut sedikit tentang empat dari enam cerpen yang menjadi favorit saya:

Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari

“Begitulah, dalam kompetisi para perempuan harus menyingkirkan lawan dengan penuh kebencian.” (Hlm. 28)

Continue reading “[Review] Sihir Perempuan by Intan Paramaditha”

PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2017, Review Buku

[Review] Fortunately, the Milk (Untunglah, Susunya) by Neil Gaiman

Judul Asli: Fortunately, the Milk

Judul Terjemahan: Untunglah, Susunya

Penulis: Neil Gaiman

Ilustrasi: Skottie Young

Alih Bahasa: Djokolelono

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan I: Desember 2014

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-1225-5

Halaman: 128 halaman

Harga: Rp35.000,-

Rating: 5/5

Sinopsis

“Aku membeli susu,” kata Ayah. “Aku keluar dari toko pojok, dan mendengar suara aneh seperti ini: dhum… dhumm… Aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas Jalan Marshall.”

“Halo,” pikirku. “Itu bukan sesuatu yang kaulihat setiap hari. Lalu sesuatu yang aneh terjadi.”

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Baca saja petualangan aneh dan ajaib ini, yang diceritakan dengan lucu oleh Neil Gaiman, penulis bestseller pemenang Newbery Medalist. Ilustrasi oleh Skottie Young.

Review

“Susumu masih ada. Selama ada susu, masih ada harapan.” (Hlm. 31)

“Jika benda yang sama dari dua waktu berbeda bersentuhan, satu dari dua hal akan terjadi. Bisa Jagad Raya musnah atau tiga orang bajang ajaib akan berdansa di jalan-jalan dengan pot bunga di kepala mereka.” (Hlm. 51)

“Terserah padamu. Mau hidup di jagad yang sudah tidak ada lagi, atau biarkan dunia apa adanya.” (Hlm. 89)

Saya menghabiskan Fortunately, the Milk dalam waktu dua hari. Sebetulnya sehari bisa habis karena buku ini terbilang tipis. Hanya saja saat ini waktu membaca saya tidak sebanyak dulu. *curcol lagi* Pun tidak seluruhnya berisi tulisan karena terdapat ilustrasi-ilustrasi manis yang menghiasi setiap halamannya sehingga buku ini bisa selesai dibaca dalam sekali lalu. Selain itu, saya juga suka sekali melihat ilustrasi-ilustrasinya. Pelengkap cerita yang begitu detail dan memanjakan mata. Saya yakin anak-anak pun akan suka.

Baru kali ini saya mencicipi karyanya Neil Gaiman. Neil Gaiman tidak hanya menulis novel, tetapi juga fiksi pendek, buku komik, novel grafis, teater audio, dan film. Beberapa karyanya yang lain, yaitu Blueberry Girl, Coraline, The Graveyard Book, Stardust, The Wolves in the Walls, dan lain-lain.

Fortunately, the Milk sendiri mengisahkan tentang seorang ayah yang membeli sebotol susu di toko pojok untuk anak-anaknya. Ketika keluar dari toko pojok ia melihat sebuah piringan perak besar menggantung di atas Jalan Marshall. Ia pun tersedot ke dalamnya dan bertemu dengan banyak penghuni yang aneh.

Continue reading “[Review] Fortunately, the Milk (Untunglah, Susunya) by Neil Gaiman”

Literati, Review 2017, Review Buku

[Review] Imaji Terindah by Sitta Karina

Judul Buku: Imaji Terindah

Penulis: Sitta Karina

Penerbit: Literati

Cetakan Pertama: Desember 2016

Genre: Fiksi-Romance

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-8740-60-9

Halaman: 290 halaman

Harga: Rp55.200,-

Rating: 4/5

Sinopsis

“Jangan jatuh cinta kalau nggak berani sakit hati.”

Tertantang ucapan putra rekan bisnis keluarganya pada sebuah jamuan makan malam, Chris Hanafiah memulai permainan untuk memastikan dirinya tidak seperti yang pemuda itu katakan.

Dan Kianti Srihadi—Aki—adalah sosok ceria yang tepat untuk proyek kecilnya ini.

Saat Chris yakin semua akan berjalan sesuai rencana, kejutan demi kejutan, termasuk rahasia Aki, menyapanya. Membuat hari-hari Chris tak lagi sama hingga menghadapkannya pada sesuatu yang paling tidak ia antisipasi selama ini, yakni perasaannya sendiri.

Review

Saya menghabiskan buku ini kurang lebih dua bulan. Lama, ya? Iya, lama. Banget malah. Biasanya kalau ceritanya seru dan tidak terlalu tebal seperti Imaji Terindah ini, kelarnya paling lama dua minggu. Berhubung beberapa buku yang tahun lalu saya baca belum kelar jadi saya sembari membaca buku lain juga. Ditambah waktu membaca yang tidak sebanyak dulu membuat saya mesti pintar-pintar membagi waktu.

Ini kali pertama saya ‘mencicipi’ karya Sitta Karina. Sebenarnya sudah sejak dulu saya tertarik ingin baca dua bukunya; Circa dan Rumah Cokelat. Hanya saja seringkali belum berjodoh (baca: tergiur dengan buku baru yang lain sehingga lupa dengan buku yang sebelumnya mau dibeli). Membaca Imaji Terindah membuat saya penasaran dengan seri keluarga Hanafiah lainnya dan karya Sitta Karina yang lain. Duh, jadi ingin mengoleksi semuanya, deh. >.< *Cukup curcolnya, Na* Oke-oke. Saya lanjutkan, ya.

Sitta Karina adalah penulis yang karya-karyanya diterbitkan oleh beberapa penerbit. Imaji Terindah sendiri diterbitkan oleh Literati―imprint dari Penerbit Lentera Hati―pada Desember 2016. Ia juga pernah menjadi juri Khatulistiwa Literary Award 2008, mengisi workshop penulisan, dan menjadi kontributor majalah Gogirl!, CosmoGIRL!, Hai, Spice!, Kawanku, dan lain-lain. Selain Imaji Terindah, karyanya yang lain, yaitu dwilogi Aerial, serial fantasi Magical Seira, serial keluarga Hanafiah lainnya, beberapa kumcer dan novel.

Imaji Terindah merupakan novela seri keluarga Hanafiah yang terbagi menjadi tiga bagian cerita, yaitu Sakura Emas, Imaji Terindah, dan Air Mata Pedang. Bukan cuma kisah Chris saja yang ada dalam buku ini, tetapi juga kisah khusus tentang Kei Kaminari dan Nara Hanafiah, sepupu Chris. Ketiga kisah tersebut menyuguhkan ending yang menarik, dan setiap kisah memiliki rasa yang berbeda.

“Begitu terlelap, Kei kembali menyelam semakin dalam ke alam bawah sadarnya sampai tiba pada sebuah lorong gelap. Instingnya menjadi penunjuk jalan dalam mencari di mana mimpi Kania bersarang.” (Hlm. 19)

“Ada saja hal baik di dunia ini, misalnya kehadiran seorang teman tanpa diminta saat semua orang memperlakukannya seperti penderita penyakit kulit menular.” (Hlm. 22)

Continue reading “[Review] Imaji Terindah by Sitta Karina”

Penerbit Inari, Review 2017, Review Buku

[Review] Purple Eyes by Prisca Primasari

Judul Buku: Purple Eyes

Penulis: Prisca Primasari

Penerbit: Penerbit Inari

Cetakan Pertama: Mei 2016

Genre: Fantasi

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-74322-0-8

Halaman: 144 halaman

Harga: Rp36.000,-

Rating: 4.5/5

Sinopsis

“Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.”

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

Review

Fantasi adalah genre yang jarang sekali saya lirik. Bisa jadi Purple Eyes adalah buku fantasi pertama yang saya baca sekaligus kali pertama saya membaca karya Prisca Primasari. Penulis yang juga berprofesi sebagai editor dan penerjemah ini sudah menelurkan banyak buku; menurut Goodreads ada lima belas buku. Karyanya sebelum ini adalah Love Theft #1 dan Love Theft #2. Purple Eyes membuat saya jatuh hati dengan cara penulis dalam menuturkan ceritanya dan berhasil menyentuh rasa penasaran saya akan karyanya yang lain.

“Orang menangis karena kehilangan itu wajar. Yang tidak wajar adalah kalau dia tidak menangis. Lebih tidak wajar lagi kalau tidak merasa sedih.” (Hlm. 50)

“Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.” (Hlm. 78)

Purple Eyes menceritakan tentang seorang laki-laki bernama Ivarr Amundsen yang tinggal di Trondheim, Norwegia, yang tidak bisa merasakan lagi emosi-emosi dalam dirinya setelah kematian adiknya, Nikolai. Kematian Nikolai yang mati secara keji dan tidak manusiawi telah membuatnya mati rasa. Hingga sebulan setelah kematian adiknya pun ia sama sekali belum pernah menumpahkan air mata.

Pembunuh adiknya tersebut masih berkeliaran dan korban-korban lainnya pun mati dengan cara yang sama seperti Nikolai. Dewa Kematian bernama Hades yang melihat hal tersebut tidak bisa tinggal diam. Ia ditemani asistennya, Lyre, akhirnya kembali lagi ke bumi setelah seratus tahun lamanya tidak ‘berkunjung’ ke sana.

Continue reading “[Review] Purple Eyes by Prisca Primasari”

PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2016, Review 2017, Review Buku

[Review] Kumpulan Budak Setan by Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad

img_20170218_184327Judul Buku: Kumpulan Budak Setan

Penulis: Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Kedua: Agustus 2016

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-3364-9

Halaman: 174 halaman

Harga: Rp23.400,- (eBook by SCOOP)

Rating: 4/5

Sinopsis

Kumpulan Budak Setan, kompilasi cerita horor Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, adalah proyek membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif di era 1970-1980-an. Dua belas cerpen di dalamnya mengolah tema-tema khas Abdullah Harahap—balas dendam, seks, pembunuhan—serta motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian.

♥♥♥

Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku. Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar: “Ina Mia?”

(“Riwayat Kesendirian”, Eka Kurniawan)

Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan―lebih mirip terigu menggumpal tersapu air―dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan.

(“Goyang Penasaran”, Intan Paramaditha)

“Duluan mana ayam atau telur,” gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Sekali. Sekali lagi. Lagi. Darah di mana-mana.

(“Hidung Iblis”, Ugoran Prasad)

Review

Kumpulan Budak Setan merupakan proyek yang ditulis oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad yang terinspirasi dari karya Abdullah Harahap sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap beliau; penulis horor populer. Di dalamnya terdapat dua belas cerpen dengan masing-masing empat cerita dari setiap penulis. Tujuh dari dua belas cerpen tersebut sebelumnya pernah dimuat di koran dan majalah beberapa tahun yang lalu. Seperti yang disebutkan di belakang kover, kedua belas cerpen tersebut mengolah beragam tema khas Abdullah Harahap, seperti balas dendam, seks, pembunuhan, motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib seperti jimat, dan lain-lain, dan manusia jadi-jadian.

Berikut sedikit tentang kedua belas cerpen tersebut dan kesan-kesan saya:

– Penjaga Malam

“Lalu aku merasa mendengar kesunyian, betapapun anehnya ungkapan itu bagiku. Tapi benar, aku mendengarnya, suatu bunyi yang kosong, yang berbeda dengan apa pun.” (Hlm. 3)

Tentang Aku yang sedang berjaga malam bersama Karmin, Miso, dan seorang anak bernama Hamid. Waktu pun berlalu dan Karmin yang pergi berkeliling kampung tidak kunjung kembali. Kemudian disusul oleh Miso dan Hamid, yang keduanya pun sama seperti Karmin; menghilang dan tak kembali. Penasaran dengan apa yang menimpa teman-temannya, Aku pun akhirnya memutuskan untuk menyusul mereka. Sayangnya, ia pun bernasib sama seperti Karmin, Miso, dan Hamid.

Cerpen ini tidak membuat bulu kuduk saya berdiri. Tidak berasa horornya. Tetapi, karena cerpen ini saya jadi tahu apa itu bajang. 😀

– Taman Patah Hati

bkpys18hg-e

“Pergilah ke Taman Inokashira dengan kekasih atau istrimu, kamu akan segera menemukan hubungan kalian hancur total.” (Hlm. 13)

Continue reading “[Review] Kumpulan Budak Setan by Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad”

BACA Reading Challenge, PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2016, Review Buku

[Review] FBI vs CIA by Shandy Tan

14487225_1470749096287914_5874743609923731456_n

Judul Buku: FBI vs CIA

Penulis: Shandy Tan

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan 1: Oktober 2008

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-22-4059-7

Halaman: 192 halaman

Harga: Rp30.600,- (eBook by SCOOP)

Rating: 3.5/5

Sinopsis

FBI dan CIA adalah dua geng cewek SMA yang berbeda secara fisik. FBI (Feni, Bertha, Isabel) bertubuh subur makmur sebulat sumur, sedangkan CIA (Carol, Ivana, Angel) bertubuh kurus kering setipis piring. Mereka saling cuek, sampai suatu saat guru fisika memberikan tugas kelompok.

Isabel terpaksa satu kelompok dengan CIA. Carol, yang tahu Isabel berotak encer, membujuk Isabel untuk menjadi anggota CIA. Syaratnya, Isabel harus kurus. Maka Carol mengiming-imingi Isabel pola diet jitu supaya Isabel bisa menurunkan berat badannya.

Isabel jelas menerimanya. Dalam waktu tak terlalu lama, berat badannya mulai berkurang. Demi menjadi langsing, cantik, dan populer, Isabel tak peduli lagi pada FBI. Sampai akhirnya Isabel tahu, CIA memanfaatkannya untuk mengatrol nilai-nilai mereka.

Isabel ingin kembali pada Feni dan Bertha. Tapi tunggu dulu! Posisi I sudah diisi Indri! Terus, Isabel harus bagaimana dong? Haruskah dia menyingkirkan Indri? Padahal Feni dan Bertha menyukai Indri. Kembali pada CIA? Nggak usah, ya! Jadi, berhasilkah Isabel mendapatkan kembali sahabat-sahabat sejatinya?

Review

Ini kali pertama saya membaca karyanya Shandy Tan. Sebenarnya sudah sejak lama saya punya salah satu bukunya yang berjudul Shine on Me. Hanya saja sampai detik ini saya belum sempat membaca buku tersebut. Karena, ya begitulah. Selalu tergoda untuk membaca buku yang baru dibeli terlebih dulu, hehe.

Shandy Tan adalah penulis yang mengawali keterlibatannya dalam dunia menulis fiksi pada tahun 1994. Wow, sudah lama sekali, ya. Sebelum menerbitkan novel ini, Shandy Tan telah menelurkan tiga buku pada tahun 2006, yaitu Rival, Rahasia Si Kembar, dan Saat Tersenyum Saat Menyentuh (kumpulan cerpen remaja). FBI vs CIA adalah buku pertama dari seri buku FBI vs CIA.

Buku ini merupakan awal mula kisah persahabatan dan perselisihan antara kelompok FBI (Feni, Bertha, Isabel) dengan CIA (Carol, Ivana, Angel). Mereka adalah dua geng SMA yang secara fisik penampilannya amat berbeda. FBI terdiri dari tiga orang siswi yang bertubuh lumayan subur dan identik dengan makanan, sedangkan CIA terdiri dari tiga orang siswi yang tergolong kurus dan amat memerhatikan penampilan.

Suatu ketika, Pak Ramses, seorang guru fisika memberikan tugas berupa menyusun laporan tentang serangkaian percobaan yang telah disusunnya. Ia pun mengadakan pembagian kelompok masing-masing beranggotakan empat orang. Bisa dibilang Isabel tidak beruntung sebab ia satu kelompok dengan CIA. Feni dan Bertha pun nasibnya tidak cukup bagus. Feni satu kelompok dengan dua cowok yang selalu menempati ranking pertama dan kedua dari belakang, sedangkan Bertha satu kelompok dengan Juli yang sok pintar.

Continue reading “[Review] FBI vs CIA by Shandy Tan”

BACA Reading Challenge, Review 2016, Review Buku, Selasar Surabaya Publishing

[Review] Tragedi Hidup Manusia by John Steinbeck

14883632_926069860870357_8830704892636203619_oJudul Asli: Of Mice and Men

Judul Terjemahan: Tragedi Hidup Manusia

Penulis: John Steinbeck

Penerjemah: Shita Athiya

Penerbit: Selasar Surabaya Publishing

Cetakan 1: September 2011

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-25-9413-3

Halaman: 150 halaman

Harga: Rp24.000,-

Rating: 4/5

Sinopsis

Berusahalah memahami masing-masing manusia, karena dengan memahami satu sama lain. kalian bisa bersikap baik satu sama lain. Mengenal baik seorang manusia tak pernah berakhir dengan membencinya dan nyaris selalu menjadi mencintainya.

 ̶  John Steinbeck, 1938

Realitas tragis tentang perjuangan hidup manusia yang berusaha keras meraih impian di antara sekian banyak keterbatasan. Dituturkan oleh penulis humanis untuk merayakan kapasitas manusia yang telah terbukti atas kebesaran hati dan semangat membara atas jiwa ksatria saat dikalahkan, atas keberanian, kasih sayang, dan cinta.

Bacaan wajib bagi siapa pun.

Review

Ini kali pertama saya membaca karya John Steinbeck dan tidak mengecewakan, meskipun ending-nya mengesalkan, haha. John Steinbeck adalah seorang penulis yang telah menulis 27 buku, termasuk 16 novel, enam buku nonfiksi, dan lima kumpulan cerpen. Ia juga pernah meraih Penghargaan Nobel untuk Kesusastraan pada tahun 1962. Membaca buku ini membuat saya tergiur untuk mencicipi buku yang dinilai sebagai karya terbaiknya, The Grapes of Wrath (1939), yang telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor Indonesia dengan judul Amarah. *kode :-D*

“Apa pun yang kita tak punya, tepat itulah yang kau mau.”  ̶  Halaman 14

“Tak perlu otak untuk menjadi orang yang baik. Kelihatan bagiku kadang-kadang tepat terjadi sebaliknya. Lihat saja orang yang benar-benar pintar dan biasanya hampir tak pernah jadi orang baik.”  ̶  Halaman 54

Buku ini menceritakan tentang persahabatan dua orang lelaki bernama George dan Lennie. George adalah lelaki yang memiliki badan kecil dan cukup pintar, sedangkan Lennie adalah lelaki bertubuh besar yang tidak bisa membedakan mana benar dan salah, tidak bisa mengendalikan diri ketika emosi menguasainya, dan bertingkah seperti anak-anak. Meski terkadang George suka merasa kesal dengan sikap Lennie dan sering membikin masalah, namun baginya Lennie tetaplah seorang teman yang baik. Pun George selalu berusaha menjaga Lennie agar tidak ada lagi kejadian yang tak diinginkan seperti saat bekerja di Weed dulu. Ia kerap kali menasihati Lennie untuk tidak melakukan dan berbicara hal-hal yang bisa menimbulkan masalah.

“Tentu saja Lennie luar biasa mengganggu hampir sepanjang waktu. Tapi kalau kau sudah terbiasa bepergian bersama seorang kawan, maka kau tak bisa mengusirnya.”  ̶  Halaman 55

“Siapa pun bisa sinting kalau tidak punya orang dekat. Tak peduli separah apa pun orangnya, asalkan ia selalu ada untukmu.”  ̶  Halaman 98

Continue reading “[Review] Tragedi Hidup Manusia by John Steinbeck”