Review Buku, PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2017

[Review] Hasrat dan Perjalanan Seorang Cewek Bandel by Intan Paramaditha

Judul buku: Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu

Penulis: Intan Paramaditha

Penyelia naskah: Mirna Yulistianti

Desain sampul: Suprianto

Foto sampul: Ugoran Prasad

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan I: 16 Oktober 2017

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-7772-8

Halaman: 512 halaman

Harga: Rp125.000,-

Rating: 5/5

Sinopsis

Jangan sembarang menerima pemberian, demikian nasihat orang-orang tua dulu, tapi kau telanjur meminta paket itu: hadiah sekaligus kutukan. Iblis Kekasih telah memberimu sepasang sepatu merah.

Kau terkutuk untuk bertualang, atau lebih tepatnya, gentayangan. Bernaung, tapi tak berumah.

Sebuah novel dengan format Pilih Sendiri Petualanganmu, Gentayangan berkisah tentang perjalanan dan ketercerabutan, memotret mereka yang tergoda batas, yang bergerak dan tersangkut, yang kabur namun tertangkap. Tergantung jalan mana yang kau pilih, petualangan terkutuk sepatu merah akan membawamu ke New York kota tikus, perbatasan Tijuana, gereja di Haarlem, atau masjid di Jakarta, di dalam taksi pengap atau kereta yang tak mau berhenti, hidup atau mati (atau bosan). Selamanya gentayangan, berada di antara, kau akan temukan cerita para pengelana, turis, dan migran tentang pelarian, penyeberangan, pencarian atas rumah, rute, dan pintu darurat.

Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan.

Review

“Gentayangan, tak berpikir tentang pulang. Semua ini lebih penting dari apa pun buatmu, dan mungkin juga buat mereka yang terperangkap di kota yang sama, rumah yang sama.” (Hlm. 162)

Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu adalah novel perdana sekaligus karya terbaru dari Intan Paramaditha. Setelah terakhir kali mengeluarkan kumpulan cerpen Sihir Perempuan pada tahun 2005 yang diterbitkan ulang dengan kemasan baru oleh PT Gramedia Pustaka Utama  pada bulan April 2017. Berbeda dengan kumpulan cerpen Sihir Perempuan dan Kumpulan Budak Setan, novel bertema perjalanan dan petualangan dengan format Pilih Sendiri Petualanganmu ini bergenre misteri dan benar-benar tidak sehoror kedua kumpulan cerpen tersebut.

Intan Paramaditha adalah penulis yang hidup berpindah kota dan negara selama lebih dari satu  dekade. Intan telah menerbitkan beberapa karya fiksi, di antaranya kumpulan cerpen Sihir Perempuan, lima besar Khatulistiwa Literary Award (Kusala Sastra Khatulistiwa) 2005 dan diterbitkan kembali setelah 12 tahun; Kumpulan Budak Setan, proyek kumpulan cerita horor bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad (2010); dan naskah pertunjukan teater Goyang Penasaran (Teater Garasi, 2011-2013). Intan juga memenangkan penghargaan cerpen terbaik Kompas tahun 2013 dan cerpen-cerpennya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman dalam buku Spinner of Darkness & Other Tales.

“Terkadang perjalanan memang bisa memanggil kembali trauma.” (Hlm. 125)

“Perjalanan tak selalu butuh penutup. Di sini, perjalanan adalah ruang di antara, ketidakpastian yang terus-menerus.” (Hlm. 459)

Cerita dalam novel yang digagas sejak tahun 2008 ini dimulai ketika seorang perempuan berusia hampir 28 tahun berharap sesuatu yang besar mengubah hidupnya yang biasa-biasa saja. Bukan kehidupan yang seperti kakak, temannya, atau siapa pun yang ia kenal. Ia ingin petualangan. Ia pun kemudian menantang semesta dan seketika Iblis datang seakan-akan semesta menjawab tantangannya. Si Iblis berjanji akan datang setiap malam dan memenuhi apa pun permintaannya.

Singkat cerita, pada satu malam ia menagih janji si Iblis. Merasa tak bisa memenuhi permintaannya, si Iblis akhirnya menawarkan sesuatu yang lain. Namun, ia tetap bersikukuh pada keinginannya. Iblis pun lalu mengajukan sebuah kontrak persetujuan yang tanpa pikir panjang diterima olehnya. Keesokan harinya, ia menerima sepucuk surat beserta sepasang sepatu merah terkutuk yang bisa mengabulkan keinginannya.

Continue reading “[Review] Hasrat dan Perjalanan Seorang Cewek Bandel by Intan Paramaditha”

Iklan
Book Signing Events

[Pre-Launch Event] Gentayangan di Kafe Chez Nous, IFI Bandung

(14/10/17) Pre-Launch Book Signing Event Gentayangan

Salah satu mimpi bagi seorang pembaca adalah bisa bertemu dengan penulis yang disukainya. Hal tersebut pun berlaku untuk saya (atau hanya saya yang beranggapan seperti itu?). Setiap menemukan karya-karya bagus dan menggemarinya, saya selalu berharap untuk bisa bertemu dengan penulisnya. Termasuk pula penulis luar meskipun saya tidak tahu kapan terealisasinya. 😀 Setelah beberapa tahun lalu bertemu dengan Clara Ng, Icha Rahmanti, Dedy Dahlan, Bong Chandra, dan Bambang Trim, tahun ini saya bertemu dengan Intan Paramaditha.

Intan Paramaditha adalah penulis yang hidup berpindah kota dan negara selama lebih dari satu  dekade. Intan telah menerbitkan beberapa karya fiksi, di antaranya kumpulan cerpen Sihir Perempuan, lima besar Khatulistiwa Literary Award (Kusala Sastra Khatulistiwa) 2005 dan diterbitkan kembali setelah 12 tahun; Kumpulan Budak Setan, proyek kumpulan cerita horor bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad (2010); dan naskah pertunjukan teater Goyang Penasaran (Teater Garasi, 2011-2013). Intan juga memenangkan penghargaan cerpen terbaik Kompas tahun 2013, dan beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman.

Setelah April lalu Sihir Perempuan diterbitkan ulang oleh PT Gramedia Pustaka Utama dengan kover baru dan ilustrasi untuk tiap cerita oleh Emte, novel perdananya yang berjudul Gentayangan telah terbit empat hari lalu, tepatnya 16 Oktober 2017. Berbeda dengan kumpulan cerpen Sihir Perempuan dan Kumpulan Budak Setan, novel dengan format Pilih Sendiri Petualanganmu ini—seperti yang diucapkan Intan pada saat pre-launch—tidak begitu horor.

Continue reading “[Pre-Launch Event] Gentayangan di Kafe Chez Nous, IFI Bandung”

PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2017, Review Buku

[Review] Candrasa by Primadonna Angela

Judul Buku: Candrasa

Penulis: Primadonna Angela

Desain Sampul & Ilustrasi: Martin Dima

Editor: Lana Zhafira

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama: 21 Agustus 2017

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-6782-8

Halaman: 288 halaman

Harga Online: Rp69.000,-

Rating: 4/5

Sinopsis

Hidup tidak pernah mudah bagi Sapta Gray. Sebagai penyandang Candrasa, bakat istimewanya yang berarti pedang lebih banyak mendatangkan celaka daripada bahagia. Terjaga sampai pagi, bertarung dengan siluman tak tahu diri, menahan ego dan emosi merupakan santapannya sehari-hari.

Tidak ada yang lebih diinginkan Gray selain bersantai. Begitu kemampuannya naik, dia bisa menyamarkan bakatnya. Dengan demikian, dia akan bebas beraktivitas! Lepas dari incaran para siluman rendahan.

Begitu bakatnya semakin tajam, lawan yang tangguh pun berdatangan. Gray harus berjuang menyelamatkan orang-orang yang disayanginya … meski dengan imbalan nyawa.

Review

Untuk yang sudah kenal dekat dengan saya pasti tahu kalau saya penggemar karya-karya Primadonna Angela. Tentu mereka tidak akan heran jika di media sosial saya tersebar foto-foto karyanya yang telah saya review maupun hanya karena sedang ingin difoto saja, dan ulasan panjang perihal buku-bukunya di blog buku saya. 😀

Seperti yang telah disebutkan dalam profil Primadonna Angela di buku Candrasa, Candrasa adalah buku ke-31 yang telah ditulisnya. Berbeda dengan tahun lalu di mana Donna—begitu sapaan akrabnya—menerbitkan Jane Si Kutu Loncat yang bergenre MetroPop, kali ini ia mengeluarkan Candrasa yang juga diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama yang bergenre TeenLit.

Primadonna Angela adalah penulis TeenLit dan MetroPop yang karya-karyanya mengusung kehidupan sehari-hari dalam kisah-kisah yang menarik, menyentuh, dan menggelitik. Kalau dibandingkan dengan dua TeenLit-nya yang sudah saya baca; Pojok Lavender dan Satsuki Sensei, Candrasa ini terasa sekali bedanya. Dua buku tersebut disajikan dalam bentuk kumpulan cerita, sedangkan Candrasa berbentuk novel.

Selain itu, tema yang diangkat tidak biasa; bakat istimewa. Adegan romance-nya pun hanya sedikit, tetapi porsinya tidak lebih tidak kurang dan mampu membuat (kalau kata anak-anak sekarang mah) baper. 😀 Itulah yang membuat novel Candrasa ini menarik untuk saya.

“Mereka yang diberkati dengan Candrasa bisa menyerang dan membentengi diri sendiri serta orang lain. Mereka yang memiliki Candrasa seolah identik dengan emosi naik-turun, sifat impulsif yang sulit dikekang, dan hasrat untuk menjadi pionir.” (Hlm. 53)

Continue reading “[Review] Candrasa by Primadonna Angela”

PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2017, Review Buku

[Review] Trisula Mentari by Shandy Tan

Judul Buku: Trisula Mentari

Penulis: Shandy Tan

Desain Sampul: Orkha Creative

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama: Maret 2017

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-3913-9

Halaman: 256 halaman

Harga Online: Rp47.700,-

Rating: 3.5/5

Sinopsis

TRISULA MENTARI tidak mengutuk, juga tidak membanggakan kemampuannya mendengar suara roh. Tetapi, gara-gara bakat itu Trisula dianggap aneh di sekolah. Hanya Mikaela, sahabatnya, yang tahu soal bakat uniknya itu dan tidak menjauhinya.

Pada hari pertama menjadi murid kelas sepuluh, Trisula mendapat kejutan kecil. Murid baru bernama Alfa lebih memilih duduk bersamanya daripada bersama Kristal, si murid populer. Mikaela, yang ingin mendekatkan Alfa dan Trisula, membuat janji datang ke rumah Alfa dengan alasan meminjam komik, lalu mengajak Trisula.

Ketika mereka mengobrol di perpustakaan mini Alfa, Trisula terkejut karena mendengar suara roh marah-marah yang mengusir mereka dari rumah itu. Keadaan memburuk ketika tiba-tiba ada komik melayang hingga dua kali.

Bagaimana cara Trisula menjelaskan apa yang sedang terjadi? Dan, bagaimana reaksi Alfa mendengar hal itu? Apakah teman barunya itu juga akan menjauhi Trisula?

Review

Trisula Mentari merupakan teenlit misteri terbaru karya Shandy Tan yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama lima bulan lalu. Ini kali pertama saya membaca teenlit misterinya dan tentu menjadi pengalaman baru bagi saya. Karena biasanya saya lebih sering membaca teenlit romance. Namun, ini menjadi ketiga kalinya pula saya membaca karya Shandy Tan setelah sebelumnya membaca 13: Kumpulan Cerpen Horor yang ditulisnya bersama Primadonna Angela dan FBI vs CIA. Kalau saya tidak salah menebak (dan berharap), bisa jadi Trisula Mentari adalah teenlit misteri seri kedua setelah seri Samantha’s Secret.

Sepertinya Shandy Tan senang membuat cerita berseri. Selain seri Samantha’s Secret, ia juga pernah menerbitkan teenlit seri FBI vs CIA; seri yang seru pun menghibur dan mengingatkan saya pada masa-masa SMA. Shandy pun telah menerjemahkan beberapa novel luar, seperti Red Rising – Kebangkitan Merah karya Pierce Brown, Hopeless – Tanpa Daya karya Colleen Hoover, Forever, Jack – Bersamamu Selalu karya Natasha Boyd, Underworld karya Meg Cabot, dan lain-lain.

“Orang bisa menjalani kehidupan layak tanpa harus memiliki terlalu banyak keinginan atau tuntutan.” (Hlm. 49)

“Kebahagiaan dan perasaan cukup tidak datang dari benda dan hal-hal duniawi, melainkan dari seberapa mampu kita bersyukur ketika kebutuhan dasar kita tercukupi.” (Hlm. 49)

Trisula Mentari sendiri mengisahkan tentang seorang siswi bernama Trisula Mentari yang memiliki kemampuan tidak biasa; bisa mendengar suara roh. Karena kemampuannya tersebut ia sering menjadi bahan ejekan dan hinaan teman-teman sekolahnya. Tak jarang ia dipanggil oleh penasihat siswa hanya karena pembelaannya atas tindakan buruk teman-temannya. Ia selalu saja menjadi pihak yang disalahkan karena tidak ada satupun orang yang percaya dengan apa yang ia ceritakan.

Orang-orang kerap memandangnya secara skeptis atau kasihan atau tidak percaya dan menganggapnya aneh, namun lain dengan Alfa; murid baru yang juga sekelas dengan Trisula sekaligus keponakan Bu Amelia, asisten penasihat siswa. Ia lebih memilih semeja dengan Trisula daripada dengan Kristal, cewek populer di sekolah. Kalau murid-murid lain terpesona akan kecantikannya, tetapi tidak bagi Alfa. Baginya, Kristal adalah cewek sok cantik.

Continue reading “[Review] Trisula Mentari by Shandy Tan”

PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2017, Review Buku

[Review] Sihir Perempuan by Intan Paramaditha

Judul Buku: Sihir Perempuan

Penulis: Intan Paramaditha

Editor: Eko Endarmoko

Desain Sampul dan Ilustrasi: Emte

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama: April 2017

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-4630-4

Halaman: 168 halaman

Harga: Rp65.000,-

Rating: 4/5

Sinopsis

Sihir Perempuan adalah kumpulan dongeng gelap tentang perempuan-perempuan yang tak patuh. Perempuan bisa menjadi apa saja: ibu, anak, karyawati yang baik, hingga boneka porselen. Namun dalam buku yang menghadirkan 11 cerita pendek ini, peran-peran yang seharusnya nyaman justru diteror oleh lanskap kelam penuh hantu gentayangan, vampir, dan pembunuh. Di sinilah perempuan dan pengalamannya yang beriak dan berdarah terpintal dalam kegelapan.

Dalam Sihir Perempuan, Intan Paramaditha mengolah genre horor, mitos, dan cerita-cerita lama dengan perspektif feminis. Buku ini meraih penghargaan 5 besar Khatulistiwa Literary Award (Kusala Sastra Khatulistiwa) di tahun 2005. Setelah 12 tahun, Sihir Perempuan diterbitkan ulang dengan kemasan baru dan ilustrasi untuk tiap cerita oleh Muhammad Taufiq (Emte).

Review

Sihir Perempuan merupakan kumpulan cerpen yang ditulis oleh Intan Paramaditha yang sebelumnya pernah diterbitkan oleh Penerbit Kata Kita pada tahun 2005. Setelah dua belas tahun, buku ini akhirnya diterbitkan kembali oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada April 2017. Di dalam buku setebal 168 halaman ini terdapat sebelas cerpen dengan kisah dan plot yang menarik. Juga memberikan ending yang, ada yang mudah ditebak pun sebaliknya, ada pula yang menyisakan tanya. Lima dari sebelas cerpen tersebut—Pemintal Kegelapan, Vampir, Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, Pintu Merah, dan Sejak Porselen Berpipi Merah Itu Pecah—sebelumnya pernah dipublikasikan di koran Kompas dan Tempo pada tahun 2004 dan 2005. Tetap menjadi cerita yang baru bagi saya karena baru kali ini membacanya.

Intan Paramaditha adalah seorang penulis sekaligus akademisi yang telah mengeluarkan beberapa karya, di antaranya naskah drama Goyang Penasaran, kumpulan cerpen horor Kumpulan Budak Setan, beberapa cerpen yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan Jerman dalam Spinner of Darkness & Other Tales, dan cerpen berjudul Klub Solidaritas Suami Hilang yang pernah mendapat penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2013. Katanya, tahun ini ia akan menerbitkan novel pertamanya, lo. Wah, saya sebagai penggemar tulisannya sudah tentu tidak sabar menunggu novelnya terbit. 😀 ❤

Ada enam cerpen dalam Sihir Perempuan yang menjadi favorit saya, yaitu Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, Mobil Jenazah, Mak Ipah dan Bunga-bunga, Jeritan dalam Botol, Sejak Porselen Berpipi Merah Itu Pecah, dan Sang Ratu. Menurut saya, keenam cerpen tersebut merupakan cerpen dengan cerita yang paling gelap, menarik, membuat saya terkesan, ending-nya tidak tertebak, dan terasa sekali kelamnya. Berikut sedikit tentang empat dari enam cerpen yang menjadi favorit saya:

Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari

“Begitulah, dalam kompetisi para perempuan harus menyingkirkan lawan dengan penuh kebencian.” (Hlm. 28)

Continue reading “[Review] Sihir Perempuan by Intan Paramaditha”

PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2017, Review Buku

[Review] Fortunately, the Milk (Untunglah, Susunya) by Neil Gaiman

Judul Asli: Fortunately, the Milk

Judul Terjemahan: Untunglah, Susunya

Penulis: Neil Gaiman

Ilustrasi: Skottie Young

Alih Bahasa: Djokolelono

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan I: Desember 2014

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-1225-5

Halaman: 128 halaman

Harga: Rp35.000,-

Rating: 5/5

Sinopsis

“Aku membeli susu,” kata Ayah. “Aku keluar dari toko pojok, dan mendengar suara aneh seperti ini: dhum… dhumm… Aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas Jalan Marshall.”

“Halo,” pikirku. “Itu bukan sesuatu yang kaulihat setiap hari. Lalu sesuatu yang aneh terjadi.”

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Baca saja petualangan aneh dan ajaib ini, yang diceritakan dengan lucu oleh Neil Gaiman, penulis bestseller pemenang Newbery Medalist. Ilustrasi oleh Skottie Young.

Review

“Susumu masih ada. Selama ada susu, masih ada harapan.” (Hlm. 31)

“Jika benda yang sama dari dua waktu berbeda bersentuhan, satu dari dua hal akan terjadi. Bisa Jagad Raya musnah atau tiga orang bajang ajaib akan berdansa di jalan-jalan dengan pot bunga di kepala mereka.” (Hlm. 51)

“Terserah padamu. Mau hidup di jagad yang sudah tidak ada lagi, atau biarkan dunia apa adanya.” (Hlm. 89)

Saya menghabiskan Fortunately, the Milk dalam waktu dua hari. Sebetulnya sehari bisa habis karena buku ini terbilang tipis. Hanya saja saat ini waktu membaca saya tidak sebanyak dulu. *curcol lagi* Pun tidak seluruhnya berisi tulisan karena terdapat ilustrasi-ilustrasi manis yang menghiasi setiap halamannya sehingga buku ini bisa selesai dibaca dalam sekali lalu. Selain itu, saya juga suka sekali melihat ilustrasi-ilustrasinya. Pelengkap cerita yang begitu detail dan memanjakan mata. Saya yakin anak-anak pun akan suka.

Baru kali ini saya mencicipi karyanya Neil Gaiman. Neil Gaiman tidak hanya menulis novel, tetapi juga fiksi pendek, buku komik, novel grafis, teater audio, dan film. Beberapa karyanya yang lain, yaitu Blueberry Girl, Coraline, The Graveyard Book, Stardust, The Wolves in the Walls, dan lain-lain.

Fortunately, the Milk sendiri mengisahkan tentang seorang ayah yang membeli sebotol susu di toko pojok untuk anak-anaknya. Ketika keluar dari toko pojok ia melihat sebuah piringan perak besar menggantung di atas Jalan Marshall. Ia pun tersedot ke dalamnya dan bertemu dengan banyak penghuni yang aneh.

Continue reading “[Review] Fortunately, the Milk (Untunglah, Susunya) by Neil Gaiman”

Literati, Review 2017, Review Buku

[Review] Imaji Terindah by Sitta Karina

Judul Buku: Imaji Terindah

Penulis: Sitta Karina

Penerbit: Literati

Cetakan Pertama: Desember 2016

Genre: Fiksi-Romance

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-8740-60-9

Halaman: 290 halaman

Harga: Rp55.200,-

Rating: 4/5

Sinopsis

“Jangan jatuh cinta kalau nggak berani sakit hati.”

Tertantang ucapan putra rekan bisnis keluarganya pada sebuah jamuan makan malam, Chris Hanafiah memulai permainan untuk memastikan dirinya tidak seperti yang pemuda itu katakan.

Dan Kianti Srihadi—Aki—adalah sosok ceria yang tepat untuk proyek kecilnya ini.

Saat Chris yakin semua akan berjalan sesuai rencana, kejutan demi kejutan, termasuk rahasia Aki, menyapanya. Membuat hari-hari Chris tak lagi sama hingga menghadapkannya pada sesuatu yang paling tidak ia antisipasi selama ini, yakni perasaannya sendiri.

Review

Saya menghabiskan buku ini kurang lebih dua bulan. Lama, ya? Iya, lama. Banget malah. Biasanya kalau ceritanya seru dan tidak terlalu tebal seperti Imaji Terindah ini, kelarnya paling lama dua minggu. Berhubung beberapa buku yang tahun lalu saya baca belum kelar jadi saya sembari membaca buku lain juga. Ditambah waktu membaca yang tidak sebanyak dulu membuat saya mesti pintar-pintar membagi waktu.

Ini kali pertama saya ‘mencicipi’ karya Sitta Karina. Sebenarnya sudah sejak dulu saya tertarik ingin baca dua bukunya; Circa dan Rumah Cokelat. Hanya saja seringkali belum berjodoh (baca: tergiur dengan buku baru yang lain sehingga lupa dengan buku yang sebelumnya mau dibeli). Membaca Imaji Terindah membuat saya penasaran dengan seri keluarga Hanafiah lainnya dan karya Sitta Karina yang lain. Duh, jadi ingin mengoleksi semuanya, deh. >.< *Cukup curcolnya, Na* Oke-oke. Saya lanjutkan, ya.

Sitta Karina adalah penulis yang karya-karyanya diterbitkan oleh beberapa penerbit. Imaji Terindah sendiri diterbitkan oleh Literati―imprint dari Penerbit Lentera Hati―pada Desember 2016. Ia juga pernah menjadi juri Khatulistiwa Literary Award 2008, mengisi workshop penulisan, dan menjadi kontributor majalah Gogirl!, CosmoGIRL!, Hai, Spice!, Kawanku, dan lain-lain. Selain Imaji Terindah, karyanya yang lain, yaitu dwilogi Aerial, serial fantasi Magical Seira, serial keluarga Hanafiah lainnya, beberapa kumcer dan novel.

Imaji Terindah merupakan novela seri keluarga Hanafiah yang terbagi menjadi tiga bagian cerita, yaitu Sakura Emas, Imaji Terindah, dan Air Mata Pedang. Bukan cuma kisah Chris saja yang ada dalam buku ini, tetapi juga kisah khusus tentang Kei Kaminari dan Nara Hanafiah, sepupu Chris. Ketiga kisah tersebut menyuguhkan ending yang menarik, dan setiap kisah memiliki rasa yang berbeda.

“Begitu terlelap, Kei kembali menyelam semakin dalam ke alam bawah sadarnya sampai tiba pada sebuah lorong gelap. Instingnya menjadi penunjuk jalan dalam mencari di mana mimpi Kania bersarang.” (Hlm. 19)

“Ada saja hal baik di dunia ini, misalnya kehadiran seorang teman tanpa diminta saat semua orang memperlakukannya seperti penderita penyakit kulit menular.” (Hlm. 22)

Continue reading “[Review] Imaji Terindah by Sitta Karina”