Kim Ji-yeong Menghidupkan sekaligus Mewakili Suara Perempuan oleh Cho Nam-joo

Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 oleh Cho Nam-joo (Gramedia Pustaka Utama, 2019)

Bagaimana rasanya menjadi perempuan yang hidup di dunia misoginis pun masih mempraktikkan sistem patriarki—sekalipun sudah dihapuskan—dan mengalami banyak tekanan bahkan dari kecil? Jawabannya sedikit banyak tergambar dalam kehidupan Kim Ji-yeong dari kecil sampai menikah, dan memilih meninggalkan pekerjaan pertama sekaligus satu-satunya demi membesarkan anaknya, Jeong Ji-won. Hidup di dalam keluarga yang sangat mengistimewakan anak laki-laki bukan hal mudah bagi Kim Ji-yeong maupun kakak dan ibunya. Mereka sering tidak memiliki pilihan dan tidak memiliki cukup kesempatan.

“Kim Ji-yeong mulai berubah menjadi orang lain. Ia bisa berubah menjadi orang yang sudah meninggal, atau orang yang masih hidup. Ia bisa berubah menjadi wanita mana pun yang ada di sekitarnya. Ia tidak terlihat sedang bergurau atau ingin mempermainkan orang lain. Sungguh, ia benar-benar dan sepenuhnya sudah berubah.”

Cho Nam-joo (Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982, Halaman 166)

8 September 2015 menandai hari di mana Kim Ji-yeong mulai berubah menjadi orang lain dan kehilangan suaranya. Bukan hanya lingkungan dan sistem yang menyebabkan perubahan pada dirinya, tetapi juga tekanan-tekanan dari keluarga, di sekolah, di tempat kerja, dan orang-orang di sekelilingnya. Tekanan-tekanan itu pula yang membuat suaranya perlahan-lahan hilang. Tidak seperti kakaknya—yang berani bersuara ketika mendapat perlakuan tidak adil, Kim Ji-yeong bersuara hanya pada saat-saat tertentu saja. Namun, selepas menyampaikan pendapatnya ia sering menyesal ataupun meminta maaf karena merasa suaranya bisa menyulitkan orang lain.

Bukan sekali dua kali suara Kim Ji-yeong dihilangkan—yang menyebabkan ia kerapkali memilih tidak melawan ataupun menanggapi dengan ucapan yang berlawanan dengan hatinya. Pada banyak situasi ia terpaksa menahan suaranya lantaran tahu betul sekalipun bersuara, hanya kesia-siaan yang akan didapat atau semakin memperumit masalah. Contohnya, saat Kim Ji-yeong hamil dan mendapat komentar tidak menyenangkan dari rekan kerja laki-laki yang memandang kehamilan sebagai sesuatu hal yang istimewa. Dengan sendirinya kita ikut merasakan kesulitan, kecemasan, kegusaran, dan tekanan yang diterima Kim Ji-yeong sebagai perempuan yang mengalami diskriminasi dan terpojokkan.

Belum lagi keputusan-keputusan besar dan sulit yang diambil Kim Ji-yeong juga sangat berdampak pada hidup dan dirinya. Terasa sekali perubahan yang terjadi pada dirinya setiap ia mengambil keputusan—yang mana keputusan itu bukannya menguntungkan dan menyenangkan, tetapi  justru sebaliknya. Perasaan kecewa, keterpaksaan, dan kesedihan tergambar amat jelas. Tampak hanya sedikit kebahagiaan yang didapat Kim Ji-yeong. Kalaupun ada, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar—seperti hidupnya sebagai seorang pekerja. Cho Nam-joo mendeskripsikan secara gamblang kesulitan dan perjuangan Kim Ji-yeong di tengah ketimpangan-ketimpangan dan beban yang mengimpitnya.

Kisah Kim Ji-yeong dapat dikatakan mewakili apa yang pernah dialami perempuan lain, khususnya saya, meskipun tidak persis sama dan terasa personal sekali. Membayangkan menjalani kehidupan seperti Kim Ji-yeong betul-betul menyesakkan saking menyedihkan dan tidak mudah. Bagaimana tidak? Di saat membutuhkan bantuan ataupun dukungan, suami Kim Ji-yeong, Jeong Dae-hyeon, kerapkali mengatakan ataupun melakukan hal yang tidak cukup membantu dan tidak menenangkan. Alih-alih membantu dan menenangkan, ucapannya sering terdengar seperti omong kosong dan malah mengecewakan sekaligus melenyapkan suara Kim Ji-yeong. Lantas mampukah Kim Ji-yeong menemukan kebahagiaan dan kembali menjadi dirinya yang hilang?

Membaca kisah Kim Ji-yeong seperti berkaca pada kehidupan sendiri dan semakin menyadarkan bahwa dunia yang kita tinggali belum benar-benar berubah. Sebab, apa yang dialami Kim Ji-yeong boleh jadi masih dialami oleh perempuan yang lain. Diskriminasi gender, praktik sistem patriarki, dan penindasan institusional hanyalah sedikit dari banyak isu yang diangkat dalam novel ini. Kim Ji-yeong menghidupkan sekaligus mewakili suara perempuan. Suara-suaranya mampu membawa kita pada kesimpulan bahwa kesulitan hidup yang dialami perempuan dan laki-laki sama, serta pemahaman akan perempuan sebagai individu dengan identitas diri yang berbeda.

“Banyak orang yang menolak menerima kenyataan bahwa pria dan wanita juga merasakan kesulitan hidup yang sama.”

Cho Nam-joo (Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982, Halaman 160)

Judul asli: 82년생 김지영

Judul terjemahan: Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982

Penulis: Cho Nam-joo

Alih bahasa: Iingliana

Editor: Juliana Tan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan pertama: November 2019

Bahasa: Indonesia

ISBN: 9786020636191

Tebal: 192 halaman

Rating: ♥♥♥♥

Baca sinopsis buku di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.