[Resensi] Cerita Kuno Indonesia-Korea 1: Delapan Cerita Sarat Pesan dan Pelajaran

P_20200201_101203_1Cerita-cerita kuno atau legenda seperti dalam buku Cerita Kuno Indonesia-Korea 1 yang disusun oleh Lim Kyung-Ae dan diterbitkan Remaja Rosdakarya ini dapat sedikit mengenalkan kita pada kebudayaan kedua negara. Bagi masyarakat Indonesia maupun Korea sendiri, boleh jadi sudah hafal atau sudah kenal cerita-ceritanya. Meskipun begitu, menurut saya, cerita kuno senantiasa tetap patut dibaca dan diceritakan kembali.

Buku ini memuat delapan kisah kuno (empat cerita dari Indonesia dan empat cerita dari Korea) yang singkat dan menarik. Setiap cerita memiliki pesan yang dalam dan sarat pelajaran. Belum lagi dilengkapi dengan ilustrasi cantik dan berwarna yang cukup menghidupkan cerita, serta disajikan dalam dua bahasa. Kedelapan cerita kuno tersebut, yaitu:

  • Cerita Kuno Indonesia

Legenda Candi Prambanan

“Aku ingin kau membuat seribu candi dan dua buah sumur yang sangat dalam. Semua itu harus kau selesaikan dalam satu malam, sebelum terbit fajar. Jika kau berhasil mewujudkannya, maka aku akan menerima pinanganmu.” (Hlm. 8)

Mengisahkan tentang Rara Jonggrang yang tak ingin diperistri Bandung Bondowoso—yang telah membunuh ayahnya—dan sebagai upaya menggagalkan adanya pernikahan, Rara Jonggrang mengajukan syarat berupa membangun seribu candi dan dua buah sumur yang sangat dalam. Bandung Bondowoso pun menyanggupi permintaan Rara Jonggrang meskipun semua harus diselesaikan dalam satu malam. Bagi Bandung Bondowoso yang sakti dan memiliki bala tentara berupa makhluk-makhluk gaib, mewujudkan syarat tersebut tidaklah sulit. Melewati tengah malam pengerjaan seribu candi dan dua buah sumur hampir selesai dan hanya tersisa satu candi. Melihat hal tersebut, Rara Jonggrang tak bisa tenang dan meminta gadis-gadis di Prambanan untuk membakar jerami, menumbuk padi, dan menaburkan beragam bunga yang harum untuk mengakali bala tentara Bandung Bondowoso. Akan tetapi, upaya tersebut tidak berhasil dan malah membuat Bandung Bondowoso murka sekaligus mengutuk Rara Jonggrang beserta seluruh gadis Prambanan. Keseribu candi yang dibangun tersebut dikenal dengan nama Candi Prambanan, sedangkan candi di mana terdapat arca Rara Jonggrang dikenal dengan nama Candi Rara Jonggrang.

Timun Emas

“Tanamlah biji-biji mentimun ini, niscaya engkau akan mendapatkan apa yang ingin kau dapatkan selama ini.” (Hlm. 19)

Alkisah, ada seorang janda tua yang sampai suaminya meninggal pun belum juga dikaruniai anak. Hasratnya untuk mempunyai anak tetap bergelora. Suatu ketika, seorang raksasa seram mendatangi Mbok Sirni dan memberinya biji-biji mentimun yang apabila ditanam maka apa yang selama ini Mbok Sirni inginkan akan ia dapatkan. Tak lama setelah itu, Mbok Sirni memanen biji-biji mentimun yang sudah berbuah. Saat Mbok Sirni mengambil satu buah yang berukuran besar dengan warna kuning yang berkilauan seperti emas, seketika ia terkejut melihat seorang bayi perempuan di dalamnya. Mbok Sirni bersyukur sekali dan merawat bayi cantik yang dinamai Timun Emas itu layaknya anak sendiri.

Waktu berlalu begitu cepat. Mbok Sirni kian cemas akan kehilangan Timun Emas. Suatu malam lewat mimpinya, Mbok Sirni seakan diberi petunjuk untuk menyelamatkan anaknya. Ia pun segera pergi menemui seorang pertapa dalam mimpinya untuk meminta pertolongan. Saat Timun Emas sudah berusia tujuh belas tahun, sang raksasa seram datang untuk menagih janji Mbok Sirni. Timun Emas pun kabur dengan berbekal empat benda dari pertapa yang ditemui Mbok Sirni. Berhasilkah Timun Emas menyelamatkan diri dari sang raksasa seram?

Malin Kundang

“Hatinya remuk redam. Air mata membasahi pipinya yang menua, bersamaan dengan meluncurnya sumpah dari ibu yang tersakiti hatinya.” (Hlm. 38)

Tentang seorang anak bernama Malin Kundang yang hanya karena malu dan tak ingin dipandang rendah oleh istrinya yang kaya dan para anak buahnya, enggan mengakui ibu kandung yang memeluknya selepas turun dari kapal. Mendapati sikap dan ucapan Malin Kundang yang kasar, sang ibu yang tersakiti pun berdoa dan menyumpahi Malin Kundang—yang membuatnya berubah menjadi seperti apa yang diucapkan sang ibu.

Keong Emas

“Kepada nenek sihir, Galuh Ajeng memohon agar Candra Kirana disihir menjadi makhluk yang aneh, hingga Raden Inu Kertapati tak lagi mengenalinya.” (Hlm. 42)

Cerita tentang Galuh Ajeng, kakak Candra Kirana, yang benci dan iri melihat Candra Kirana bertunangan dengan Raden Inu Kertapati, putra mahkota yang tampan dan gagah perkasa dari Kerajaan Kahuripan. Kebencian dan rasa irinya membuat Galuh Ajeng meminta pertolongan pada nenek sihir jahat. Rencana Galuh Ajeng untuk mengeluarkan Candra Kirana dari istana Daha dan perangkap yang ia rancang bersama nenek sihir jahat pun berhasil. Candra Kirana diubah menjadi seekor keong kecil berwarna kuning keemasan dan dibuang ke tengah laut.

Pada suatu hari di Desa Dadapan, seorang nenek menemukan keong (Candra Kirana) di jalan saat ia sedang mencari ikan. Melihat warnanya yang kuning keemasan, nenek itu menamainya Keong Emas dan memutuskan memeliharanya. Selama berhari-hari kejadian aneh terjadi di gubuk si nenek setiap kali ia pulang melaut. Suatu kali nenek itu sengaja kembali lagi ke gubuk untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sontak ia kaget saat melihat keongnya keluar dari tempayan dan berubah menjadi Candra Kirana.

Raden Inu Kertapati yang mengetahui tunangannya menghilang tidak tinggal diam dan melakukan segala upaya untuk menemukannya termasuk menyamar menjadi rakyat jelata. Meski usaha Raden Inu Kertapati diketahui nenek sihir jahat, di tengah perjalanan ia juga bertemu dengan kakek tua—yang ternyata seorang pertapa sakti—yang memberitahu kebenaran dan keberadaan Candra Kirana. Mampukah Raden Inu Kertapati menemukan Candra Kirana? Apakah kutukan nenek sihir jahat yang ada pada diri Candra Kirana dapat musnah?

  • Cerita Kuno Korea

Shim Cheong, Anak Berbakti

“Jika kamu mempersembahkan 300 karung beras dan berdoa kepada Buddha dengan sepenuh hati, Buddha akan membuatmu dapat melihat.” (Hlm. 57)

Tentang seorang anak yatim bernama Shim Cheong yang tinggal di sebuah desa yang terletak di provinsi Hwanghae bersama ayahnya yang buta, Shim Hak Gyu. Kemiskinan telah merenggut penglihatan Shim Hak Gyu dan membuat hidup mereka amat sulit. Shim Hak Gyu terpaksa mengemis susu dari satu rumah ke rumah lain saat Shim Cheong masih bayi dan sejak berumur empat tahun Shim Cheong membantu ayahnya dengan berkeliling desa meminta makan.

Suatu hari Shim Hak Gyu terjatuh ke sungai ketika sedang mencari Cheong dan ditolong oleh biksu bernama Bong. Saat mendengar keluh kesah Shim Hak Gyu, Bong memberitahunya cara untuk bisa melihat. Namun, Shim Hak Gyu sudah jatuh sakit sebelum berhasil menepati janjinya pada Bong. Melihat kejadian yang menimpa ayahnya, Cheong pun menukarkan dirinya pada para pelaut dengan 300 karung beras untuk menjadi tumbal ke laut yang sedang diamuk badai, dan berharap sang ayah bisa melihat kembali.

Saat di dalam laut Cheong bertemu Raja Naga yang tersentuh dengan baktinya pada sang ayah dan mereka pun menikah. Cheong selalu teringat dan mencemaskan ayahnya meskipun sudah menjadi permaisuri dan tidak lagi hidup susah. Rasa cinta dan kekhawatirannya yang besar pada ayahnya membuat Cheong meminta Raja Naga mengadakan sebuah pesta untuk orang buta dari seluruh negeri. Apakah Cheong berhasil menemukan ayahnya di pesta itu? Apakah pengorbanan Cheong berhasil membuat ayahnya melihat kembali?

Legenda Dangun

“Semua orang menghormati Hwanung dan memanggilnya Kaisar Langit Hwanung yang berarti Kaisar Hwanung yang turun dari langit.” (Hlm. 69)

Tentang Hwanung, putra Dewa Raja Hwanin yang memerintah langit dan bumi, yang selalu senang memperhatikan bumi dari langit. Suatu hari, Hwanung meminta izin pada ayahnya untuk memerintah daerah di Gunung Taebaek. Hwanin memberikan tiga azimat dan orang-orang yang mampu mengendalikan angin, hujan, dan awan, serta memerintah Hwanung untuk memimpin orang-orang tersebut agar menjadi sejahtera. Kedatangan Hwanung di daerah Sinsi telah mengubah kehidupan orang-orang dan membuatnya dihormati sekaligus mendapat panggilan Kaisar Langit Hwanung.

Suatu ketika datanglah seekor beruang dan seekor harimau yang memohon pada Hwanung untuk mengabulkan keinginan mereka menjadi manusia. Mereka pun mengikuti perkataan Hwanung, tetapi hanya beruang yang berhasil bertahan hidup dalam gua yang gelap selama seratus hari tanpa makan apa pun selain bawang putih dan mugwort. Beruang tersebut berubah menjadi wanita cantik dan orang-orang memanggilnya Ungnyeo. Namun, tak ada satu pun orang yang mau menikah dengannya sekalipun ia cantik. Ungnyeo setiap hari berdoa meminta jodoh yang baik pada Kaisar Langit Hwanung. Singkat cerita, Ungnyeo pun akhirnya menikah dan dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Dangun Wanggeom.

Kongjwi dan Patjwi

“Ibu tirinya sejak awal tidak menyukai Kongjwi. Ibu tiri menyayangi Kongjwi hanya saat ayah Kongjwi melihatnya. Namun, saat ayahnya tidak ada, ibu tiri Kongjwi selalu memperlakukannya dengan kasar. Ibu tiri Kongjwi berencana untuk mengusir Kongjwi dari rumah.” (Hlm. 77)

Cerita Kongjwi dan Patjwi mirip sekali dengan dongeng Cinderella. Boleh dibilang kisah Cinderella versi Korea. Bedanya, tidak dijelaskan Kongjwi anak orang berada atau bukan sehingga tidak tampak jelas alasan di balik kebencian dan segala upaya ibu tiri Kongjwi yang ingin mengusirnya. Selain itu, sebelah sepatu Kongjwi hilang ketika ia berusaha menghindari rombongan hakim yang berpapasan dengannya tidak jauh dari tempat pesta yang diadakan keluarga besar ibu kandung Kongjwi—bukan tertinggal di tempat pesta seperti Cinderella. Alur ceritanya menarik meskipun keseluruhan cerita kurang lebih serupa dengan Cinderella.

Penebang Kayu dan Bidadari

“Ingatlah satu hal. Sebelum melahirkan tiga orang anak, jangan kembalikan baju sayap bidadari tersebut.” (Hlm. 89)

“Setelah penebang kayu meninggal, setiap menjelang fajar seekor burung yang kurus terbang ke tempat yang tinggi lalu menatap langit sambil menangis.” (Hlm. 97)

Pada paragraf terakhir tidak jelas sebenarnya setelah meninggal penebang kayu berubah menjadi seekor burung yang kurus atau ayam jantan karena adanya ketidakkonsistenan binatang yang disebutkan. Cerita kuno ini sedikit mirip legenda Jaka Tarub dengan alur cerita yang berbeda, sederhana, dan lebih singkat.

Saya selalu suka baca cerita-cerita kuno seperti ini yang tak jarang menyisakan pertanyaan atas kebenarannya. Kehadiran Cerita Kuno Indonesia-Korea 1 bisa diilihat sebagai salah satu upaya yang baik dalam mengenalkan kebudayaan kedua negara pada pembaca, baik pembaca umum maupun pembaca yang memang ingin mempelajari kebudayaan negara tertentu—dalam hal ini Korea.

n.b.: terima kasih untuk bukunya, Kang Anwar dan Rosda 🙂

Judul: Cerita Kuno Indonesia-Korea 1

Penyusun: Lim Kyung-Ae

Cerita: Shin Young-Ji, Ratna Djumala, Rurani Adinda, Zaini

Penerjemah: Mahasiswa 2010 Prodi Korea FIB UI, Lim Kyung-Ae, Eva Latifah

Ilustrasi: Yoo Ae-Ro, Anindyo Widito, Munadiannur Husni

Penerbit: Remaja Rosdakarya

Cetakan pertama: Agustus 2015

Bahasa: Indonesia dan Korea

Tebal: 104 hlm.

ISBN: 978-979-692-685-5

Rating: ★★★✩ (3.5/5)

Baca sinopsis buku di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.