Membaca Raumanen karya Marianne Katoppo mengingatkan pada kisah sahabat saya yang dulu pernah terhalang perbedaan suku dan keinginan orang tua kekasihnya yang kurang lebih sama dengan dua tokoh utama dalam buku ini. Bedanya, kisah cinta Raumanen dan Monang lebih rumit dibandingkan kisahnya. Sebab, permasalahan dalam hubungan mereka tidak hanya menyangkut perbedaan suku dan keinginan orang tua, tetapi juga hukum adat dan keimanan.

Raumanen menceritakan tentang kisah cinta antara Raumanen Rumokoi, perempuan Minahasa yang menjabat sebagai sekretaris pengurus pusat gerakan mahasiswa, dan Hamonangan Pohan, Senior Friend gerakan mahasiswa yang suka berlelucon kasar, tidak dewasa, dan flamboyan. Manen dan Monang bertemu di sebuah pesta ulang tahun Bapak Profesor yang merupakan pelindung gerakan mahasiswa.

“Nyata bahwa masih ada yang tak sanggup mengikuti jalan zaman. Mungkin karena takut kehilangan segala-galanya dari dunia lamanya. Mau mempertahankan sesuatu peninggalan—sekalipun yang terburuk.” (Hlm. 23)

Monang yang senang main dengan banyak perempuan mencoba mendekati Manen. Seiring berjalannya waktu hubungan keduanya pun menjadi dekat, namun kedekatan itu tidak lama bertahan. Perbedaan cara pandang keluarga Manen dan Monang terhadap suku dan adat membuat hubungan mereka menjadi sulit. Belum lagi adanya satu kejadian yang membuat Manen tertekan dan menderita sekaligus sangsi akan perasaan dan ucapan Monang padanya. Akankah nasib baik berpihak pada mereka?

“Rasanya aku tak mempunyai hidup sendiri, tetapi keberadaanku ini hanya demi terlaksananya cita-cita orang tuaku.” (Hlm. 39)

Raumanen mengambil latar di Jakarta tahun 60-an dan menyoroti beberapa masalah yang saya pikir masih relevan sampai sekarang, yaitu kemauan atau kehendak orang tua yang membuat anak terpaksa melakukan suatu hal dan merasa terkungkung keadaan dan posisinya sebagai anak; suku dan ketentuan hukum adat; pemikiran dan sikap orang dulu yang masih kolot; orang tua yang menentukan dan turut campur dalam kehidupan anak; kepemilikan atas orang lain (dalam hal ini orang tua atas anak).

Memang, orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Akan tetapi, apa yang terbaik bagi mereka belum tentu baik dan membuat si anak bahagia. Saya pikir sebagai orang tua perlu tidak hanya melihat dari sisinya, tetapi juga melihat dari sisi dan kedudukan anak. Dari Monang saya bisa melihat kebencian anak terhadap ibu dan keterpaksaan seorang anak menjalani nasib yang ditentukan orang tua.

Saya menyayangkan kisah Raumanen tidak sampai 200 halaman padahal tema yang diangkat betul-betul menarik. Kalau saja ceritanya sedikit diperdalam lagi tentu menjadi lebih memikat. Marianne Katoppo sukses menggambarkan perempuan yang menderita dan laki-laki pengecut dengan sangat baik. Terasa sekali penderitaan berat yang dialami Manen. Kisah Manen dan Monang yang penuh kegetiran mengajarkan bahwa hubungan di antara dua orang (dalam hal ini berbeda suku) tidak selalu berjalan dan berakhir baik, tidak semua orang mampu bertahan dan menerima penderitaan, dan mengenal seseorang lebih jauh sebelum berkomitmen pun selektif dalam memilih pasangan tampaknya amat diperlukan.

Novel tipis, tetapi dalam yang pernah memenangkan sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta pada 1975, Hadiah Yayasan Buku Utama 1978, dan SEA Write Award 1982 ini selain menyinggung masalah suku dan agama, juga membahas hal-hal penting yang terkadang luput dari perhatian. Dari Raumanen kita bisa melihat bagaimana penderitaan akibat jatuh hati pada orang yang salah yang dialami perempuan Minahasa seperti Manen yang cerdas, kuat, independen, dan tegar, namun akhirnya terluka dan kalah dalam pertahanan dirinya. Pun laki-laki Batak seperti Monang yang pengecut, playboy, kurang berpendirian, ucapannya tidak bisa dipegang, dan hanya bisa memberi janji palsu, yang hidupnya terus dihantui rasa bersalah dan penyesalan.

“Memang di dunia ini penuh manusia, masing-masing dengan nasib yang sudah dirasikan: terkadang baik, terkadang buruk. Tak ada seorang pun di dunia ini yang jalan hidupnya cuma suatu dendang ria belaka, suatu madah senantiasa bahagia.” (Hlm. 106)

Judul buku: Raumanen

Penulis: Marianne Katoppo

Penyelia naskah: Septi Ws

Penerbit: Grasindo

Terbit: Januari 2018

Halaman: 160 hlm.

ISBN: 978-602-452-511-8

Rating: ♫♫♫♪ (3.5/5)

Baca sinopsis buku di sini

Iklan