LRM_EXPORT_268248778419414_20180917_091915386Judul buku: The Chronicles of Audy: O2

Penulis: Orizuka

Penyunting: Yuli Yono

Penerbit: Haru

Cetakan I: Juni 2016

Bahasa: Indonesia

Jumlah halaman: 364

ISBN: 978602-7742-86-4

Rating: ♫♫♫♫

Sinopsis

Hai. Namaku Audy.

Umurku masih 22 tahun.

Hidupku tadinya biasa-biasa saja, sampai cowok yang kusukai memutuskan untuk meneruskan sekolah ke luar negeri.

Ketika aku sedang berpikir tentang nasib hubungan kami, dia memintaku menunggu.

Namun ternyata, tidak cuma itu. Dia juga memberikan pernyataan yang membuatku ketakutan setengah mati!

Di saat aku sedang kena galau tingkat tinggi, masalah baru (lagi-lagi) muncul.

Seseorang yang tak pernah kulirik sebelumnya, sekarang meminta perhatianku!

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang sepertinya selalu ribet.

Kronik dari seorang Audy.

Resensi

Melanjutkan resensi buku ketiga The Chronicles of Audy: 4/4, sama seperti pada resensi tersebut saya akan membahas buku terakhir dari seri The Chronicles of Audy secara singkat juga. Karena buku berseri, sebaiknya kawan-kawan baca dulu resensi buku pertama dan kedua, The Chronicles of Audy: 4R dan The Chronicles of Audy: 21, agar memiliki seluruh gambaran cerita sebelumnya.

“Kalo dipikir-pikir, kalian ini … mirip oksigen, ya. Selalu ada, tapi baru kerasa penting waktu nggak ada.” (Hlm. 283)

Dalam The Chronicles of Audy: O2, kehidupan Audy masih terus saja ribet. Seolah Audy ditakdirkan untuk tidak memiliki kehidupan yang tenteram, bahkan sehari saja. Tidak cuma ribet dengan urusan skripsi, kegelisahan, dan masalah dalam keluarga 4R yang sudah menjadi makanan Audy sehari-hari, tetapi juga yang paling utama adalah kerumitan percintaan Audy dengan salah satu dari 4R. Belum lagi satu dari 3R lainnya sempat memberikan pernyataan sekaligus perubahan sikap yang memusingkan Audy dan sudah tentu semakin membuatnya ribet.

“Dalam meraih cita-cita, kamu udah gagal di detik pertama kamu menyangsikan dirimu sendiri.” (Hlm. 315)

Setelah membaca semua buku seri The Chronicles of Audy saya menyadari bahwa betapa payahnya Audy yang seringkali memikirkan hal-hal aneh dan buruk yang belum tentu terjadi. Gemas sekali setiap melihat ia mulai berpikir yang tidak-tidak dan kadang sedikit berlebihan. Kadang saya seperti ingin menoyor kepalanya agar sadar, ha ha. Dalam kisah The Chronicles of Audy: O2 pun kita bisa melihat sisi lain dari Romeo yang sesungguhnya—sentimentil, selalu serius jika itu soal keluarga, selalu menekan perasaannya sendiri dan menampilkan wajah bahagia, dan selalu berpura-pura kuat.

Kalau diperhatikan dan saya tidak salah menyimpulkan, tiga buku sebelumnya masing-masing fokus mengisahkan tentang Audy, Regan, dan Romeo. Cerita The Chronicles of Audy: O2 sendiri lebih banyak memunculkan tokoh Rex dan saya suka sekali bagian What the Future Brings, Gloomy Birthday, Deep Within, serta Into the Future. Pun kebersamaan dan kedekatan Rex-Rafael, serta semua adegan dalam seri The Chronicles of Audy di mana Audy sedang bersama dengan salah satu dari 4R yang pernah menyatakan perasaan padanya.

Ah, akhirnya, saya bisa menutup kisah seri ini dengan tenang dan senang. Lega sekali rasanya. *apaan* Tapi, ending-nya kenapa begitu doang, sih. Saya agak sebal karena tidak sesuai ekspektasi padahal keseluruhan cerita dalam buku terakhir ini sudah menarik. Kalau kisah percintaan Audy dan salah satu dari 4R dibahas sedikit lagi saja pasti lebih menarik dan ending­-nya akan memuaskan.

Meskipun begitu, seri The Chronicles of Audy karya Orizuka ini tetap menghibur dan menarik untuk dibaca. Karena tidak hanya membahas persoalan skripsi, tetapi juga persoalan di dalam dan antaranggota keluarga dan kisahnya manis plus begitu hangat sampai-sampai membuat saya terkadang ingin menjadi Audy, ha ha. Bagi kamu yang sedang ingin membaca buku yang ringan dan menyegarkan, kisah kronik kehidupan Audy Nagisa adalah salah satunya. Siap-siap susah move on dari 4R. 😀

Iklan