firefliesJudul buku: Fireflies in the Midnight Sky

Penulis: Francisca Todi

Editor: Tisya Rahmanti

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan pertama: 7 Mei 2018

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-8284-5

Halaman: 360 halaman

Harga: Rp79.000,-

Rating: ♫♫♫♪ (3.5/5)

Sinopsis

“Hidup ini kejam. Hidup mempermainkan kita tanpa ampun. Menindas, mencemooh, bergembira melihat kita hancur, berbahagia saat kita terempas—”

“Tapi hidup mempertemukanku denganmu.”

Alyssa bergabung dengan grup gerilya untuk bertahan hidup sejak negerinya diserang meski sebenarnya membenci kekerasan. Di tengah situasi yang semakin genting, Alyssa dikirim dalam misi yang berakhir kacau, lalu akhirnya terdampar dengan kaki terluka di teritori musuh.

Dan saat itulah dia Alyssa diselamatkan oleh Vigo, pemuda misterus yang merupakan musuh negerinya.

Diselundupkan dalam teritori musuh membuat Alyssa mengerti bahwa ternyata Vigo lebih mengerti pergumulan dan trauma gadis itu dibanding teman-teman sebangsanya. Namun, mereka berdua bagaikan air dan api. Saling menjinakkan, juga saling membinasakan. Saat ada percikan kasih sayang antara keduanya, adakah masa depan agar mereka bisa bersatu?

“Apa pun yang terjadi di masa depan, ingatlah hari-harimu di sini tanpa penyesalan.”

Resensi

Perang selalu menyisakan trauma, luka, dan duka bagi siapa saja yang mengalaminya termasuk tokoh-tokoh dalam buku Fireflies in the Midnight Sky karya Francisca Todi. Entah kapan terakhir kali saya membaca novel metropop. Setelah sekian lama akhirnya saya membaca metropop lagi sekaligus pertama kalinya membaca karya Francisca. Fireflies in the Midnight Sky adalah karya terbarunya yang terbit tiga bulan lalu.

Francisca Todi adalah penulis yang kini tinggal di Belanda bersama suaminya. Sampai saat ini Francisca sudah menerbitkan beberapa buku, di antaranya novel seri Alerva: Mission d’Amour dan The Princess & The Bodyguard, e-book seri Mafia Espresso: Irresistible dan Love Roulette, e-book Membangun Rumah Ceritamu: Tips Menulis Novel – Ubah Idemu Menjadi Cerita Menarik, dan cerita pendek Pelangi untuk Matahariku.

“Informasi adalah informasi. Bawa setiap informasi ke markas. Tidak ada berita buruk, tidak ada berita baik. Yang kita lakukan dengan informasi itulah yang akan menentukan nilainya.” (Hlm. 26)

Fireflies in the Midnight Sky menceritakan tentang seorang perempuan bernama Alyssa yang berjuang melindungi negeri Valestia. Alyssa yang belum begitu lama bergabung dengan grup gerilya Valestia mendapat tugas mencari informasi di markas tentara Togaro di Kota Mundria bersama Mikayl, sahabatnya sejak SMP. Ketika Alyssa berhasil mengopi data penting dan hendak pergi, ia mendengar percakapan empat pasukan elite Togaro.

Setibanya di markas, kepala grup gerilya daerah Sungai Hitam, Nina, telah menunggu Alyssa dan Mikayl di Ruang Merah bersama Kolonel Theod, salah satu pemimpin pasukan yang mempertahankan Padang Ris. Misi baru pun dibuat selepas pertemuan diadakan. Tidak seperti biasanya, pada misi berikutnya bukan Mikayl yang menjadi rekan Alyssa, melainkan Izolda. Mereka dikirim ke Sedera untuk menyelidiki kebenaran berita yang didapat Alyssa di Mundria, sedangkan Mikayl pergi ke Padang Ris bersama Kolonel Theod dan grup gerilya Valestia. Penyelidikan itu boleh dikatakan menjadi misi terpenting Alyssa.

Suatu hari, Izolda melakukan pengintaian terhadap wanita yang dilihat Alyssa di Mundria. Namun, pengintaian itu tidak berjalan mulus dan membuat Alyssa turut terluka dan pingsan ketika hendak melarikan diri. Saat tersadar, Alyssa sudah berada di sebuah rumah di Desa Iliya milik tentara Togaro bernama Vigo.

“Apa yang salah dengan diriku? Setiap hal yang Vigo lakukan berdampak besar pada diriku.” (Hlm. 134)

“Di medan pertempuran, bagiku Valestia tidak pernah memiliki wajah. Yang kulihat hanyalah barisan tentara dengan satu nama: musuh. Itu saja. Tapi sekarang Valestia punya nama dan wajah.” (Hlm. 184)

Selama tinggal dan bersembunyi dengan menyamar sebagai gadis Sedera di teritori musuh, banyak hal terjadi dan perlahan-lahan Alyssa menyadari kemungkinan orang-orang Togaro memiliki pikiran yang sama tentang Valestia. Cara pandang yang sama, saling memahami pergulatan masing-masing, dan saling pengertian satu sama lain membuat hubungan Alyssa dan Vigo kian dekat hingga memunculkan benih-benih cinta. Tak hanya itu, kepercayaan di antara mereka pun terbangun dan hubungan yang tidak seharusnya terjalin.

“Kau tidak perlu terbiasa. Kau hanya perlu bertahan hidup sampai perang ini selesai.” (Hlm. 49)

“Perang tidak pernah mendiskriminasi. Perang tidak pernah peduli siapa yang benar dan salah. Perang merenggut nyawa siapa pun yang bisa direnggut, menghancurkan siapa pun yang bisa dihancurkan. Perang tidak pernah peduli dari negeri mana kau berasal.” (Hlm. 172)

Perang antara negeri Valestia dan Togaro sudah berlangsung selama dua tahun. Raja Ivar, pemimpin negeri Togaro, menginginkan Valestia takluk pada Togaro. Keserakahan, obsesi, dan sifatnya yang sangat ambisius, telah membuat rakyat Togaro dan Valestia menderita pun tidak memiliki pilihan lain selain tetap bertahan dan melakukan apa yang diperintahkan sekalipun enggan.

Suatu ketika Vigo memperoleh informasi tentang gudang senjata yang dimiliki markas Togaro terdekat. Sayangnya, pengintaian Vigo dan Alyssa tak membuahkan hasil. Ketika satu misi gagal, misi dan rencana baru kembali dibuat meskipun keberhasilannya tidak pasti dan praktiknya tidak mudah. Belum lagi banyaknya rintangan yang mengadang termasuk hubungan Alyssa dan Vigo yang berbeda kebangsaan semakin menyusutkan harapan.

Sanggupkah Alyssa dan Vigo mempertahankan hubungan mereka atau menyerah pada realitas? Bagaimana nasib Mikayl dan grup gerilya Valestia yang berada di Padang Ris? Berhasilkah Alyssa menemukan informasi lengkap senjata maut Sedera? Apakah perang antara Togaro dan Valestia berhasil dihentikan?

Fireflies in the Midnight Sky mengambil latar tempat di Benua Minari yang terbagi menjadi tiga negeri, yaitu Valestia (terletak di dataran rendah), Togaro (terletak di pegunungan, penyuplai minyak terbesar di dunia), dan Sedera (terletak di barat daya Benua Minari, berbatasan dengan Togaro, sebagian penduduknya masih tinggal di desa-desa kecil di pegunungan, menjunjung tinggi tradisi dan adat, menutup diri terhadap pengaruh luar, kaumnya terkenal nyentrik dan tidak bisa ditebak, bukan kaum pengecut, dan pemerintahannya berbentuk republik seperti Valestia, tetapi kekuasaannya dipegang Majelis Adat).

Perang antara Valestia dan Togaro mengharuskan tokoh-tokohnya untuk berpindah tempat termasuk ke hutan. Gambar peta yang ada di dalam buku sangat membantu kita berimajinasi selama membaca. Selain itu, penggambaran tempat, aksi, dll. yang detail mampu membuat kita merasakan ketegangan, kekhawatiran, kegetiran, dan perasaan-perasaan lain yang dirasakan tokohnya. Pun membuat kita seperti masuk dalam cerita dan ikut mengalami semua kejadian. Paling menarik itu ketika terjadi tembak-menembak dan perkelahian yang terasa nyata sekali.

Secara garis besar, novel bergenre fiksi ilmiah-distopia ini memuat kisah tentang kehilangan, balas dendam, kepedihan, kepahitan hidup, kesedihan, trauma yang dimiliki akibat perang, pergulatan yang dialami, keputusasaan, kefrustrasian, ingatan masa silam, perbedaan kebangsaan, dan menyinggung sedikit soal perundungan.

Francisca sepertinya memang lebih menitikberatkan pada hal-hal tersebut atau kondisi tokoh-tokohnya daripada soal perang itu sendiri. Hal ini pun bisa dilihat dari penyebab atau latar belakang perang antara Valestia dan Togaro yang tidak begitu terperinci dan hanya berupa paparan, padahal sepertinya akan lebih menarik kalau lebih dieksplor. Selain itu, aksi pertempuran yang bagi saya betul-betul menegangkan dan terasa nyata malah kurang banyak. *anaknya teh suka sekali dengan adegan-adegan yang menegangkan 😆*

Semakin ke belakang satu per satu hal yang membuat penasaran terjawab, seperti soal senjata maut Sedera, siapa Vigo sebenarnya, asal Benua Minari, siapa kakek jenggotan yang dikejar Alyssa, dll. Sayangnya, alur agak melambat ketika sampai pada pertengahan cerita sehingga kadang sedikit membosankan, dan membuat alur beberapa bagian menuju akhir yang menurut saya menarik justru terasa seperti dipercepat.

Ada pula beberapa hal dalam cerita yang cenderung mudah diterka. Salah satunya pada bagian Alyssa yang salah paham saat bertemu Jenderal Einar di rumah Luan. Ketika sampai pada bagian itu, saya bisa langsung menebak kebenaran atau kelanjutannya sekalipun saya tidak berencana mengira-ngira. Saya merasa klimaks ceritanya kurang memuaskan meskipun pada satu-dua bagian terdapat plot twist yang tidak tertebak.

Dalam Fireflies in the Midnight Sky ada beberapa adegan yang paling saya suka, yaitu tentunya semua adegan ketika Alyssa sedang berdua dengan Vigo 😍; ketika Alyssa menyelamatkan Ollie yang terseret dan terbawa arus sungai, kemudian Vigo datang dan menyelamatkan mereka; adegan ketika terjadi baku tembak di rumah Vigo; dan pertempuran di laboratorium. Menurut saya, adegan-adegan tersebut sangat menghidupkan cerita. ❤️

Melihat karya Francisca yang telah diterbitkan, saya bercuriga jangan-jangan nanti ada kelanjutan Fireflies in the Midnight Sky. Karena bisa dibilang akhir­ ceritanya itu seperti bukan akhir terus ceritanya lebih banyak membahas tentang kedekatan antara Alyssa dan Vigo. Saya berasumsi Francisca tampaknya senang membuat cerita berseri sehingga besar kemungkinan novel ini akan jadi novel berseri juga. Kelak jika benar-benar ada buku keduanya, semoga lebih seru dan lebih menarik, serta ada kisah Mikayl dan Kiara meskipun porsinya tidak sebanyak tokoh utama. Karena saya bisa melihat Kiara begitu perhatian pada Mikayl dan seperti mulai menaruh hati padanya. 😏😆

Fireflies in the Midnight Sky adalah novel menarik yang menyiratkan pesan bahwa akan selalu ada hal baik yang terjadi dan secercah harapan di tengah-tengah kesulitan yang sedang dihadapi sekalipun waktu tunggu yang dibutuhkan tidak sebentar. Sekadar info, novel ini masuk kategori untuk pembaca 17 tahun ke atas meskipun adegan dewasa di dalamnya termasuk biasa atau wajar dan tidak banyak. Bagi kamu yang usianya belum 17 tahun harap sabar, ya. 😉

n.b.: terima kasih untuk kak Francisca dan mas Neko (saya tahu ini pasti bukan nama sebenarnya 😀 ) yang sudah berbaik hati memberikan kesempatan pada saya untuk menikmati kisah Alyssa dan Vigo. ❤️

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan