Processed with VSCO with m3 preset

Judul buku: Sengketa: Hiruk Tak Berkesudahan di Kaki Junjung Sirih

Penulis: Wandi Badindin

Penerbit: Wahana Jaya Abadi

Cetakan pertama: Agustus 2016

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-72015-6-9

Halaman: 335 halaman

Rating: ♫♫♫♪ (3.5/5)

Sinopsis

Noeroet baru saja menyelesaikan sekolahnya dan pulang membawa gelar Pakih. Setelah beberapa hari di kampung, datanglah keluarga Kiyah pada keluarganya. Mereka datang dengan hormat dan membawa sebuah kehormatan, Tapi ketika niat baik itu diterima oleh Noeroet, ada peraturan yang menghadang kelanjutan pertunangannya dengan Kiyah. Peraturan yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda yang berkongsi dengan pemimpin pribumi, yang menjadikan harga diri Noeroet terjual. Dan relakah Noeroet menukar dirinya dengan sejumlah gulden?

Masalah belum selesai sampai di situ setelah ia resmi menikah. Tak lama berselang, angin dari Padang Panjang datang menggoncang rumah tangganya, juga membuat hiruk kampung kecil di tepi barat danau Singkarak, Paninggahan. Di kampung itu perkebunan kopi bergelora, angin hulu ribut. Hiruk yang tak berkesudahan, sebuah pergolakan panjang.

Review

Akhirnya, selesai juga saya membaca buku ini setelah empat bulan lamanya—dengan membiarkan buku ini terletak di meja selama tiga bulan dan membuat saya beralih ke beberapa buku lain. Kali pertama pula saya membaca buku fiksi sejarah setebal ini. Cukup mengesankan dan menyenangkan meski sempat merasa bosan. 😀

“Ada banyak hal yang lebih serius dan lebih penting selain menimbang-nimbang perasaan. Cinta hanyalah hal remeh temeh pada masa penjajahan, yang paling berat itu adalah mewujudkannya, menjadikan cinta itu benar-benar nyata.” (Hlm. 31)

Sengketa merupakan novel pertama karya Wandi Badindin, seorang penulis yang lahir di Paninggahan dan bercita-cita menjadi pelukis. Novel berjumlah 335 halaman ini mengisahkan tentang seorang pemuda bergelar Pakih bernama Noeroet. Setelah belajar ilmu agama di Payakumbuh dan mendapat gelar tersebut pada 1920, Noeroet kembali ke kampung halamannya, Paninggahan. Tak berapa lama, datanglah dua orang laki-laki separuh baya membawa sebuah kehormatan pada keluarganya.

Niat baik keluarga Kiyah pun diterima oleh Noeroet. Namun, jalannya untuk bisa bertunangan bahkan menikah dengan Kiyah tidaklah mudah. Ada peraturan yang dibuat pemerintah Hindia-Belanda yang harus dipatuhi setiap pemuda yang ingin berkeluarga termasuk Noeroet; menanam kopi sebanyak dua ribu batang. Meskipun Noeroet enggan mematuhi peraturan itu, akhirnya ia menerima bantuan dari Soetan Radjo Lelo dan memenuhi aturan tersebut karena ia tidak ingin menyiksa batin Kiyah.

“Yang kita butuhkan untuk melawan penjajahan bukan hanya semangat yang berkobar, tapi juga ilmu.” (Hlm. 83)

“Kita harus bergerak laksana semut. Tak masalah jika pada kenyataannya kita memang kecil dibandingkan dengan penjajah itu. Bukan berarti kita tak bisa berbuat apa-apa, kita akan bergerak dengan otak.” (Hlm. 110)

Satu hari terdapat pertemuan di surau, di mana para pelajar menuntut ilmu dan membaca buku, surat kabar, dan jurnal baru yang dibawa Thaib, pelajar Paninggahan yang bersekolah di Sumatera Thawalib, Padang Panjang. Seorang pemuda yang ahli berbicara dan meyakinkan orang akan suatu hal. Pada pertemuan ketiga, Thaib mengajak Noeroet, Bidin, dan lain-lain untuk mulai melakukan pergerakan merebut kembali apa yang sebetulnya menjadi hak milik anak nagari; ladang kopi.

Singkat cerita, rapat kedua pun diadakan bersama angku palo Datuk Radjo Nando dan beberapa orang pejabat Belanda. Permintaan Thaib yang mewakili ninik mamak dan orang empat jenis disetujui olehnya. Pada surat yang ditandatangani Datuk Radjo Nando yang ditujukan kepada yang mulia majelis volksraad, di dalamnya tersimpan sebuah siasat yang dibubuhkan Thaib. Siasat yang membuat pemerintah Hindia-Belanda gempar dan tak bisa tinggal diam.

Satu per satu kejadian tak mengenakkan terus terjadi. Mulai dari pengucilan Thaib, Noeroet, Labai, Bidin, dan Pakih Pasang karena dianggap sudah membawa dan mengajari ajaran sesat, penggiringan dan penyiksaan bertubi-tubi yang dilakukan empat serdadu Belanda terhadap mereka, sampai perbedaan paham yang membuat hubungan di antara mereka menjauh. Tak hanya itu, masalah demi masalah pun kerap berdatangan. Lalu, mampukah Thaib dan kawan-kawan memperjuangkan tiga dari empat belas bukit perkebunan kopi yang menjadi sengketa antara anak nagari Paninggahan dan pemerintah Hindia-Belanda?

Butuh napas panjang selama membaca buku ini. Banyak sekali kiasan-kiasan dan pepatah khas Minang di dalamnya. Bagi saya yang bukan orang Minang, tentu cukup membingungkan karena tidak mengerti maksud kiasan pun pepatah tersebut. Alurnya yang cukup lambat di empat memoar awal membuat saya agak bosan dan mengambil jeda yang cukup panjang untuk kembali melanjutkan. Belum lagi saya merasa benar-benar terganggu dengan kalimat-kalimat tentang perempuan yang dianggap seperti boneka. Tapi, mungkin hanya saya saja yang merasa seperti itu.

Cerita baru terasa seru mulai memoar lima ke belakang, yaitu ketika tokoh Thaib muncul; tokoh favorit saya. Tokoh yang begitu cerdik dan cerdas sekaligus memiliki tekad yang kuat dan pantang menyerah sekalipun banyak hal buruk yang menimpanya. Bagian favorit saya dari buku ini, yaitu ketika Datuk Bandaro Nan Hitam bercerita tentang kebijakan tanam paksa. Bagian yang betul-betul menarik. Juga ketika Thaib, Noeroet, dan lain-lain diculik dan disiksa oleh serdadu Belanda. Penggambaran penulis yang detail mampu membuat saya seperti sedang melihat langsung kejadian itu dan merasakan apa yang mereka alami.

Permasalahan tanam paksa kopi yang diangkat penulis dalam buku ini amat menarik dan tentu menambah wawasan saya sebagai pembaca sekaligus jadi tahu cukup banyak hal tentang adat Minang. Selain itu, adanya beberapa dokumen surat-menyurat zaman penjajahan di dalamnya menjadi bukti bahwa sejarah yang dituturkan benar-benar dapat dipercaya. Sengketa adalah bacaan menarik yang cukup kaya akan ilmu sejarah yang akan membawa pembaca ke Paninggahan tahun 1920.

Iklan