IMG_20180311_110429Judul Buku: 9 Summers 10 Autumns (Augmented Hinted Ilustrative Book)

Penulis: Iwan Setyawan, Obed Irwanto, dan Edwin Nazir

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama: Agustus 2015

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-2095-3

Halaman: 96 halaman

Rating: 2.5/5

Sinopsis

Terinspirasi dari kisah nyata, novel  9 Summers 10 Autumns bercerita tentang perjalanan Iwan Setyawan menembus batas berbekal pendidikan dan cinta keluarga. Setelah sukses diadaptasi menjadi film, kini novel best seller ini terbit dengan bentuk terbaru, yaitu augmented motion picture hinted illustrative book.

Inilah buku pertama di Indonesia yang menggabungkan novel, komik, app, dan film. Temukan pengalaman membaca yang seru di buku ini!

Review

Sebenarnya buku yang saya inginkan itu novelnya karena beberapa tahun lalu buku 9 Summers 10 Autumns cukup menarik perhatian saya ketika sedang heboh-hebohnya dan membuat saya penasaran ingin baca ceritanya. Cuma karena sudah lewat empat tahun dari tahun terbit sehingga mungkin stoknya sudah tidak ada dan buku inilah yang diberikan Gramedia Pustaka Utama sebagai salah satu hadiah resensi pilihan pada tahun 2015 lalu.

Ini kali pertama saya ‘berkenalan’ dengan Iwan Setyawan. 9 Summers 10 Autumns adalah novel pertama yang terinspirasi dari perjalanan hidup Iwan sebagai anak seorang sopir di Kota Batu ke New York City. Penulis yang sekarang tinggal di Batu, Jawa Timur, ini merupakan lulusan terbaik Fakultas MIPA IPB 1997 dari Jurusan Statistika dan sempat bekerja selama tiga tahun di Nielsen dan Danareksa Research Institute, Jakarta, sebelum merambah karir di New York City selama 10 tahun.

“Impian haruslah menyala dengan apa pun yang kita miliki, meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun itu retak-retak.” (Hlm. 81)

Novel dengan bentuk augmented motion picture hinted illustrative book ini mengisahkan tentang perjalanan anak seorang sopir asal Batu bernama Iwan dalam memperbaiki kualitas hidup dan memenuhi hasratnya melalui pendidikan dan cinta keluarga. Didikan keras Hasim, bapak Iwan, pada akhirnya mampu membentuk Iwan menjadi sosok laki-laki dewasa yang kuat. Berasal dari keluarga yang tidak berkecukupan membuat Iwan tidak mudah dalam menjalani hidup. Sedari kecil Iwan harus berjuang dan bekerja keras untuk bisa berhasil. Masalah dan konflik kerap bermunculan termasuk pula perselisihan dengan orangtuanya. Lalu, mampukah Iwan bertahan dan mencapai hal-hal yang diimpikannya?

9 Summers 10 Autumns (Augmented Hinted Ilustrative Book) merupakan buku pertama di Indonesia yang menggabungkan novel, komik, aplikasi, dan film. Sayangnya, saya tidak dapat merasakan keseruan membaca buku ini karena terus gagal saat menge-scan gambar-gambar yang ada sehingga tidak bisa melihat videonya. Saya menyayangkan diri saya yang telat membacanya. Pengalaman membaca saya pun jadi terasa kurang. Selama membaca buku ini saya agak terganggu dengan kehadiran anak kecil yang digambarkan (mungkin) sebagai bayangan diri Iwan saat kecil(?) yang tak jarang bercakap-cakap dengan Iwan dewasa. Bagi saya terasa kurang halus penyampaiannya. Tapi, mungkin itu hanya perasaan saya saja.

Selain itu, cukup banyak dialog-dialog bahasa Jawa dalam buku ini. Syukurnya, dialog-dialog itu bisa saya mengerti sekaligus membuat saya bernostalgia dan sadar ternyata sisa-sisa pelajaran bahasa Jawa dulu masih ada. 😀 Sayangnya, tidak adanya arti atau penjelasan untuk percakapan-percakapan dalam bahasa Jawa maupun bahasa Inggris saya pikir dapat mengganggu kenyamanan membaca untuk sebagian orang yang tidak mengerti kedua bahasa tersebut. Bisa jadi pula akan menyulitkan pembaca dalam memahami cerita sehingga memungkinkan pesan tidak tersampaikan dengan baik, kecuali memang target pembaca buku ini bukan pembaca umum.

Bagi saya, kisah dalam buku ini tidak jauh berbeda dengan kisah-kisah yang pernah saya baca. Selama membaca saya kerap bertanya-tanya dan mencari hal menarik apa yang ada dalam buku ini. Sayangnya (lagi), sampai akhir cerita saya tidak menemukan sesuatu yang berhasil membuat saya takjub. Ketika segala upaya sudah dilakukan dan berhasil meskipun membutuhkan waktu yang tidak sebentar, lalu apa? Menariknya apa? Bukankah rata-rata (atau mungkin sebagian besar) orang sukses memang mengalami hal serupa? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus-menerus ada dalam benak saya dan buku ini tidak berhasil melenyapkannya. Karena itu, saya merasa ceritanya kurang gereget dan biasa saja.

Tapi, mungkin itu hanya bagi saya yang tampaknya sudah mulai cukup kenyang dengan buku yang mengangkat perjalanan hidup penulisnya. Di luar itu semua kisah Iwan sedikit mampu menginspirasi pembaca untuk tetap semangat dan tetap berjuang meraih impian. Lewat kisahnya pula pembaca bisa melihat betapa besar upaya, dukungan, dan cinta keluarga yang tak henti-hentinya diberikan pada Iwan—terutama orangtuanya—agar Iwan dapat maju dan berhasil.

“Bapak selalu menjaga impian kami agar terus menyala dengan apa pun yang kami miliki, meskipun yang kami miliki tidak sempurna.” (Hlm. 81)

Iklan