IMG_20180123_182556

Judul buku: Cinta di Atas Perahu Cadik: Cerpen Kompas Pilihan 2007

Penulis: Seno Gumira Ajidarma, Adek Alwi, Agus Noor, Budi Darma, Damhuri Muhammad, Djenar Maesa Ayu, dll

Penyunting: Ninuk Mardiana Pambudy

Penerbit: Buku Kompas

Cetakan pertama: Juni 2008

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-709-371-6

Halaman: 166 halaman

Harga: Rp38.000,-

Rating: ♫♫♫♪ (3.5/5)

Sinopsis

Melanjutkan yang telah kami mulai tahun lalu. pemilihan cerpen di dalam buku antologi ini tetap dilakukan oleh mereka dari luar Kompas. Kali ini pemilihan dilakukan oleh Ayu Utami, seorang novelis dan kolumnis yang menjadi anggota Komite Sastra Desan Kesenian Jakarta periode 2006-2009 dan pernah menjadi redaktur jurnal kebudayaan Kalam. Sosok lain yang memilih cerpen Kompas kali ini adalah Sapardi Djoko Damono, pensiunan guru besar Universitas Indonesia yang juga penulis cerpen dan puisi, dan pernah menjabat Redaktur Majalah Basis, Horison, dan Kalam.

Dari seluruh cerpen yang terbit di Harian Kompas setiap hari Minggu, keduanya memilih 15 cerpen. Satu di antaranya, Cinta di Atas Perahu Cadik karangan Seno Gumira Ajidarma, terpilih sebagai cerpen terbaik. Ayu menyebut, ada hal-hal yang menjadi usang dan tidak boleh diulang sebagai ciptaan, termasuk dalam menulis cerpen. Sementara Sapardi menghubungkan antara sifat koran yang semakin terbatas ruangnya dengan kemampuan cerpenis menyusun cerpen koran yang meyakinkan. Dua dasar pemikiran itu pula yang antara lain mendasari pemilihan cerpen di dalam antologi Cerpen Kompas Pilihan 2007 ini. Selamat membaca.

Review

Cinta di Atas Perahu Cadik merupakan kumpulan cerpen pilihan Kompas tahun 2007 yang memuat lima belas cerpen dengan tema beragam karya penulis-penulis yang sudah tidak asing lagi namanya, yaitu Adek Alwi, Agus Noor, Budi Darma, Damhuri Muhammad, Dewi Ria Utari, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, GM Sudarta, Gus tf Sakai, Puthut EA, Seno Gumira Ajidarma, Soeprijadi Tomodihardjo, Triyanto Triwikromo, Ugoran Prasad, dan Wilson Nadeak. Beberapa di antaranya ada yang menceritakan tentang seorang ibu yang salah satu anaknya dituduh korupsi, cinta terlarang antara dua orang yang masing-masing sudah berpasangan, lelaki yang kehilangan cincin kawinnya saat hendak menemui perempuan baru, mantan letkol yang di usia tuanya merawat jip tua yang ternyata mobil itu menyimpan sebuah cerita lama, dan lain-lain. Dari lima belas cerpen tersebut, ada lima cerita yang jadi favorit saya, yaitu sebagai berikut.

  • Cinta di Atas Perahu Cadik karya Seno Gumira Ajidarma

“Kukira mereka tidak akan kembali, mungkin bukan mati, tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta.” (Hlm. 8)

Tentang perempuan yang sudah bersuami bernama Hayati yang pergi berlayar bersama pria yang sudah beristri bernama Sukab dengan perahu bercadik. Anehnya, pasangan mereka masing-masing membiarkannya dan seolah menerima hubungan mereka. Sedang mertua Hayati tidak menerima dikhianati oleh Hayati dan membuatnya berang. Berhari-hari Hayati dan Sukab tidak kembali. Banyak orang mengira mereka telah mati. Namun, pada hari ketujuh mereka kembali.

Cerita ini seperti menyiratkan pesan bahwa kejadian masa lalu bisa saja terulang lagi di masa sekarang.

“Di kota ini, ngosu atau membuat nasi goreng bukanlah kegiatan yang bisa dilakukan hanya dengan sekian puluh menit.” (Hlm. 33)

Cerita yang akan membuat pembaca mengiler dan terus dibayang-bayangi oleh nasi goreng dengan kelezatan yang tampak tidak biasa hingga akhir cerita. Cerita yang membawa pembaca pada akhir kenyataan yang pilu.

“Kau tahu, Nak, di tangan tukang jahit itu, kebahagiaan yang robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali.” (Hlm. 103)

Cerpen ini mengisahkan tentang tukang jahit yang bisa menjahit kekecewaan maupun kesedihan menjadi kebahagiaan. Tukang jahit yang selalu dinanti setiap menjelang Lebaran. Cerita ini menyiratkan pesan bahwa tiap Lebaran hampir tiba tidak semua orang bahagia atau senang. Masih ada segelintir manusia yang merasakan kekecewaan ataupun kesedihan.

  • Sepatu Tuhan karya Ugoran Prasad

“Setiap dendam butuh waktu.” (Hlm. 114)

“Menjalankan kesempatan bisa berarti berkhianat pada hati kecil.” (Hlm. 115)

Bercerita tentang seorang laki-laki bernama Asan yang diduga melakukan pembunuhan keji terhadap seorang bandar judi besar di kota tempatnya tinggal. Pembaca diajak untuk menerka sendiri motif Asan membunuhnya yang tersingkap menjelang akhir cerita. Menariknya, cerpen yang mengangkat tema persahabatan antara polisi dan tersangka ini kembali mengingatkan pembaca (dan secara tidak langsung memantik pembaca seperti saya untuk mencari tahu) tentang Piala Dunia 1986 di Meksiko dan kesemrawutan di baliknya.

“Ya, ya, doakan perempuan yang akan datang ini memang manis, gumam Efendi. Bukankah Tuhan selalu mengabulkan doa orang-orang yang teraniaya?” (Hlm. 134)

Berkisah tentang seorang lelaki bernama Efendi yang hendak bertemu dengan Mei, seorang perempuan yang agak trauma dengan pengemis. Saat Efendi menunggu Mei di restoran, ada pengemis yang menghampirinya dan tanpa sadar Efendi memberi recehan bersama dengan cincin kawinnya. Selama di mobil Efendi terus dibayang-bayangi pengemis itu dan mengajak Mei untuk mencarinya. Obrolan mereka pun berlanjut dan Mei tertawa terbahak-bahak saat mendengar cerita Efendi tentang pertemuannya dengan pengemis itu.

Cerita yang benar-benar sederhana dan amat lucu. Cerita yang bisa dibilang menyindir para lelaki yang suka melepaskan cincin kawin dan menyembunyikan identitas aslinya setiap bertemu perempuan lain. Awalnya, saya tidak ingat pernah membaca cerpen ini, namun saat sampai adegan cincin kawin saya merasa familier dengan ceritanya. Setelah mengecek kumcer Eka yang ada di rak buku saya ternyata perasaan saya benar. Sebelumnya saya membaca cerpen ini pertengahan 2015 lalu dalam kumpulan cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Gerimis yang Sederhana masih tetap jadi salah satu cerpen favorit saya.

Semua cerita dalam kumpulan cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik dikemas secara menarik. Membaca antologi cerpen seperti ini selalu menyenangkan karena pembaca bisa melihat gaya penulisan dari masing-masing penulis dan menangkap pesan-pesan yang tersirat dengan penuturan yang berlainan.

Iklan