Judul Buku: Goyang Penasaran: Naskah Drama dan Catatan Proses

Penulis: Intan Paramaditha & Naomi Srikandi

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Cetakan Pertama: Agustus 2013

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-91-0607-0

Halaman: 258 halaman

Harga: Rp75.000,-

Rating: 3.5/5

Sinopsis

Diadaptasi dari cerpen Intan Paramaditha, lakon Goyang Penasaran kini dihadirkan kepada siapa saja yang ingin menikmati, menelaah, maupun mementaskannya kembali. Goyang Penasaran: Naskah Drama dan Catatan Proses memaparkan pengalaman kolektif Teater Garasi dalam mementaskan hasil adaptasi Intan Paramaditha dan Naomi Srikandi tersebut. Buku ini menjawab keingintahuan pembaca atas pertanyaan: Bagaimana proses alih wahana dari cerpen ke panggung? Bagaimana perjalanan suatu naskah drama menjadi teater? Secara mendetail catatan ini mengupas proses kreatif pemanggungan antara lain dengan menyajikan:

  • Cerita seniman yang terlibat perihal penulisan naskah, penyutradaraan, keaktoran, tata panggung, musik, cahaya, rias dan kostum, serta pengelolaan produksi.
  • Ilustrasi oleh Agung Kurniawan dan foto oleh Muhammad Amin.
  • Catatan pekerja seni dan pengamat antara lain: Gunawan Maryanto, Risky Summerbee, Manneke Budiman, Sapardi Djoko Damono.
  • Pembahasan seputar adaptasi, Ifa Isfansyah, Goenawan Mohamad, dan Mira Lesmana ikut berbagi pengalaman.
  • Aneka kiat dan fakta menarik terkait proses kreatif maupun seni pertunjukan.
  • Informasi buku dan situs penting yang berguna untuk mengembangkan pengetahuan tentang seni, sumber dana, serta seluk-beluk teater di dalam maupun luar negeri.

Review

Saya pertama membaca cerita Goyang Penasaran tahun lalu dalam kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan; proyek yang ditulis oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad yang terinspirasi dari karya Abdullah Harahap sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap beliau. Pertama kali pula saya ‘berkenalan’ dengan Intan Paramaditha. Sejak itu, saya menjadi pembaca yang menggemari tulisannya dan penasaran dengan karyanya yang lain. Salah satunya adalah buku ini yang ia tulis bersama Naomi Srikandi dan diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) pada Agustus 2013.

Intan Paramaditha adalah seorang penulis sekaligus akademisi yang telah menerbitkan beberapa karya, di antaranya Sihir Perempuan yang masuk dalam lima besar Khatulistiwa Literary Award (Kusala Sastra Khatulistiwa) 2005 dan diterbitkan kembali setelah 12 tahun; beberapa cerpen yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa Jerman dalam Spinner of Darkness & Other Tales; Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu, novel perdana sekaligus terbaru yang dinobatkan sebagai prosa terbaik 2017 pilihan Tempo; dan lain-lain.

Naomi Srikandi adalah seorang aktris teater, sutradara, dan penulis naskah yang telah terlibat dalam beragam kolaborasi internasional dan mementaskan karya-karya pertunjukan di Asia dan Eropa, seperti Prism (2003), Waktu Batu (2001-2006), Sichinin Misaki (2004 dan 2006), Di Cong Bak (2006), dan opera kontemporer King’s Witch (2006). Naomi pernah menjadi artist-in-residence di Hoo-yong Performing Arts Centre, Wonju (2011) dan DasArts Master School of Theatre, Amsterdam (2012).

Goyang Penasaran: Naskah Drama dan Catatan Proses adalah buku yang menjelaskan proses kreatif dalam memanggungkan pertunjukan Goyang Penasaran. Mulai dari proses penulisan naskah drama, persiapan, hingga tiba saatnya pementasan. Secara garis besar buku ini terbagi dalam lima bagian sebagai berikut.

  • Goyang Penasaran: Sebuah Naskah Drama

Pada bagian pertama ini saya dapat mengetahui bagaimana wujud naskah pertunjukan Goyang Penasaran dari babak pertama sampai babak keempat, dari satu adegan ke adegan lainnya dan siapa saja yang memerankan Salimah, Haji Ahmad, Solihin, Subhan, Banci, preman kampung, juga beberapa tokoh tambahan. Meskipun belum pernah melihat pertunjukannya secara langsung, saya tetap dapat membayangkan pertunjukan itu dalam benak saya dengan rasa yang berbeda ketika membaca cerpennya.

  • Memanggungkan Goyang Penasaran

Membaca bagian ini membuat saya sedikitnya tahu proses penulisan naskah drama yang ternyata rumit, soal penyutradaraan, perihal keaktoran dari wawancara dengan empat aktor dalam pertunjukan Goyang Penasaran, cerita unik aktor Goyang Penasaran, produksi ilustrasi musik dan suara, tentang tata panggung, tata cahaya, tata busana, pengelolaan panggung dan produksi, keproduseran, dan crowdfunding sebagai alternatif. Menariknya, pada bagian ini juga terdapat gambar sketsa masjid dan panggung dangdut; sketsa interior, sketsa warung, dan sketsa desain untuk pertunjukan Goyang Penasaran; serta beberapa foto sehingga pembaca dengan sendirinya dapat mereka pertunjukannya.

  • Seputar Adaptasi

“Proses penulisan ulang dan pengalihwahanaan adalah sebuah proses penciptaan yang lazim terjadi, bahkan sejak dulu kala.” – Gunawan Maryanto (Hlm. 187)

“Adaptasi adalah proses kreatif yang memperkaya sekaligus menantang.” (Hlm. 199)

Berisi sejumlah pendapat dan pengalaman para seniman yang pernah memindahkan cerita dari satu medium ke medium lain. Selain itu, ada pula bahasan tentang 10 hal yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan adaptasi dari prosa ke panggung agar menghasilkan karya adaptasi yang baik, dan beberapa komentar penonton tentang perwujudan cerita Goyang Penasaran. Bagian yang sangat menarik untuk saya.

  • Teater dan Masyarakat Penonton Goyang Penasaran

“Sesungguhnya karya pertunjukan baru menjadi peristiwa ketika penonton hadir. Pertunjukan tanpa penonton belumlah pertunjukan.” (Hlm. 208)

Respons Manneke Budiman yang menyaksikan Goyang Penasaran, beberapa komentar penonton Goyang Penasaran, dan cuplikan ulasan media dapat kita ketahui dalam bagian ini.

  • Suplemen

Bagian terakhir yang berisikan beberapa situs yang dapat menambah wawasan kita tentang teater, lis tim kerja pemanggungan Goyang Penasaran di Yogyakarta dan Jakarta, glosarium terkait pemanggungan, serta referensi dan bacaan perihal teater/seni pertunjukan/seni peran.

Dalam Goyang Penasaran: Naskah Drama dan Catatan Proses terdapat pula catatan tentang tujuh pertanyaan sebelum mulai menulis, buku-buku penting yang direkomendasikan oleh tim aktor Goyang Penasaran untuk pengembangan keaktoran, empat kriteria tata cahaya, beberapa hal yang perlu dilakukan pengelola panggung 30 menit sebelum pertunjukan, dan lain-lain. Catatan-catatan seputar seni pertunjukan yang tentunya amat bermanfaat.

“Alih wahana menuntut orang-orang yang terlibat di dalam proses untuk “mengkhianati” medium awalnya.” (Hlm. 86)

Setiap menonton film yang diadaptasi dari novel ataupun sebaliknya ada saja bagian-bagian yang terasa agak sama dan bahkan sama sekali berbeda. Membaca buku ini membuat saya paham akan adanya keterbatasan ruang dalam mengalihwahanakan sebuah karya. Dulu sehabis menonton film yang diadaptasi dari novel dan sudah membaca novelnya, saya agak kecewa karena ada beberapa bagian yang dihilangkan atau tidak persis sama dengan novelnya. Sehabis membaca bagian ketiga buku ini, saya jadi tersadar dan berpikir tidak semestinya saya maupun seseorang menilai atau berkomentar yang kurang baik atas sebuah karya yang dialihwahanakan ke medium lain. Karena di samping prosesnya yang rumit, ruang di dalam setiap medium tidaklah sama.

Saya pikir sudah semestinya kita memaklumi lebih dulu kemungkinan perbedaan-perbedaan yang akan ditemukan sebelum menonton sebuah pertunjukan/film yang merupakan peralihan dari cerpen/novel maupun ketika membaca novel yang diadaptasi dari sebuah skenario. Dengan kata lain, memperlakukan karya yang diubah ke medium lain itu sebagai karya baru yang sudah sepatutnya dinikmati dan dipandang dengan cara berbeda.

Goyang Penasaran: Naskah Drama dan Catatan Proses mampu membuka mata dan menambah (sedikit) wawasan bagi yang betul-betul ‘buta’ tentang seni pertunjukan ataupun pengalihwahanaan sebuah karya. Buku yang bagus dan menarik bagi siapa saja yang ingin mengetahui sekaligus memahami perihal pengadaptasian sebuah karya ke dalam medium yang berbeda dan seputar pemanggungan.

Iklan