Judul buku: Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial

Penulis: Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah

Editor: Anwar Holid

Penerbit: PT Remaja Rosdakarya

Cetakan I: Mei 2017

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-446-048-8

Tebal: 248 halaman

Harga: Rp78.500,-

Rating: 3.5/5

Sinopsis

Literasi terdengar lebih sakti dari melek huruf, bahkan seolah bisa menggantikan “sastra” dan “pengetahuan”. Pemerintah mendukung dengan berbagai seremoni dan kegiatan, tapi kecakapan literasi dan pendidikan bangsa Indonesia masih termasuk paling tertinggal di dunia.

Tentu ada yang perlu dibenahi dalam gerakan literasi.

Memanfaatkan Kajian Literasi Baru (New Literacy Studies) dengan mengangkat peristiwa dan praktik literasi berbasis penelitian empirik etnografik, penulis mencari cara mendayagunakan kapital budaya dan teks kultural agar melahirkan masyarakat literat, mampu memahami, memilah informasi, dan menggunakannya untuk kehidupan.

Buku ini menyodorkan konsepsi baru yang kontekstual dan autentik demi menumbuhkan praktik literasi yang lebih terarah sesuai konteks sosial, budaya, dan ekonomi Indonesia.

Peminat dan pegiat literasi, pengelola perpustakaan, praktisi pendidikan, dosen, peneliti, dan mahasiswa jurusan pendidikan, ilmu sosial, humaniora yang relevan dengan literasi patut memiliki buku ini.

Review

Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial secara garis besar membahas tentang praktik literasi kaum marginal—komunitas buruh migran dan komunitas anak jalanan—yang ditulis oleh Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah—akrab dipanggil Tiwik. Buku ini menggabungkan disertasi Sofie Stories of the Intersection: Indonesian “Street Children” – Negotiating Narratives at the Intersection of Society, Childhood, and Work saat menyelesaikan program doktoral di University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat dan tesis Tiwik We Have Voices Too: Literacy, Alternative Modernities, and Indonesian Domestic Workers in Hong Kong saat menyelesaikan program Ph.D. di The University of Melbourne, Australia.

Selain keduanya bergiat di Satgas Gerakan Literasi Sekolah dan di Perkumpulan Literasi Indonesia, Sofie juga mengajar academic and journal writing di UPT Pusat Bahasa ITB dan mengetuai Yayasan Litara (Literasi Anak Nusantara), sedangkan Tiwik merupakan staf pengajar dan Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris sekaligus menjadi Koordinator Pusat Literasi Universitas Negeri Surabaya.

“Buku ini mengangkat suara kelompok marginal sebagai kalangan yang selama ini mungkin dilabeli stigma ‘tidak literat’, atau kurang terpelajar, dalam standar pendidikan formal. Buku ini memaparkan bagaimana kelompok-kelompok ini mempraktikkan literasi—di buku ini didefinisikan sebagai kegiatan yang berpusat pada teks—sebagai praktik sosial.” (Hlm. 9)

Bab-bab awal buku yang terbagi dalam tujuh bab ini membahas tentang kompleksitas literasi, peristiwa literasi dan praktik literasi, pemahaman literasi sebagai praktik sosial, penjelasan pendekatan etnografik yang lebih mendalam, dasar peneliti/penulis menggunakan pendekatan tersebut dalam melakukan studi penelitiannya, diskursus literasi, fitur superfisial dan fitur substansial budaya literasi, pemahaman tentang ‘anak jalanan’, praktik literasi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hong Kong, dan lain-lain.

Banyak bagian dalam Suara dari Marjin yang amat menarik untuk saya, yaitu pengalaman literasi kedua penulis yang membuat saya terkesan; istilah-istilah dalam literasi yang baru saya ketahui; kisah Bu Sri (pengajar utama dan pendiri PAUD Bestari) yang mengagumkan yang berupaya mengentaskan anak-anak di permukiman Pasundan dari kehidupan di jalanan; pemahaman tentang anak jalanan dan pembahasan mengenai kompleksitas praktik literasi buruh migran yang menambah wawasan saya; pengalaman Sofie dan Pratiwi selama melakukan penelitian; BMI blogger Hong Kong bernama Rie rie, Yany Wijaya Kusuma, dan Fera Nuraini yang menggunakan media blog untuk mengubah stereotip buruk perihal BMI; contoh representasi literasi sebagai ancaman; serta proses konstruksi identitas melalui kegiatan menulis anak-anak jalanan.

Bagian-bagian tersebut mampu mengubah perspektif dan anggapan pembaca, serta mengungkap hal-hal lain terkait kelompok BMI di Hong Kong dan komunitas anak jalanan di Bandung yang sebelumnya tidak diketahui oleh kita atau hanya diketahui oleh segelintir orang, termasuk pula soal literasi. Nyatanya, dalam praktiknya banyak terjadi permasalahan literasi dan literasi memiliki makna yang lebih dari sekadar kemampuan menulis dan membaca.

Suara dari Marjin juga mengungkap hal yang mendorong anak jalanan dan orang tuanya hidup dan bekerja di jalanan, serta mengubah pandangan saya tentang mereka. Di samping itu, banyak hal tentang BMI yang baru saya ketahui sekaligus melihat kompleksitas kehidupan, baik kelompok BMI maupun komunitas anak jalanan. Bagaimana perjuangan para BMI dan anak jalanan untuk memiliki hidup yang lebih baik dan upaya apa saja yang mereka lakukan untuk mengubah anggapan buruk terhadap status mereka dapat pembaca temukan dalam buku ini.

Iklan