PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2017, Review Buku

[Review] Hasrat dan Perjalanan Cewek Bandel by Intan Paramaditha


Judul buku: Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu

Penulis: Intan Paramaditha

Penyelia naskah: Mirna Yulistianti

Desain sampul: Suprianto

Foto sampul: Ugoran Prasad

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan I: 16 Oktober 2017

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-7772-8

Halaman: 512 halaman

Harga: Rp125.000,-

Rating: 5/5

Sinopsis:

Jangan sembarang menerima pemberian, demikian nasihat orang-orang tua dulu, tapi kau telanjur meminta paket itu: hadiah sekaligus kutukan. Iblis Kekasih telah memberimu sepasang sepatu merah.

Kau terkutuk untuk bertualang, atau lebih tepatnya, gentayangan. Bernaung, tapi tak berumah.

Sebuah novel dengan format Pilih Sendiri Petualanganmu, Gentayangan berkisah tentang perjalanan dan ketercerabutan, memotret mereka yang tergoda batas, yang bergerak dan tersangkut, yang kabur namun tertangkap. Tergantung jalan mana yang kau pilih, petualangan terkutuk sepatu merah akan membawamu ke New York kota tikus, perbatasan Tijuana, gereja di Haarlem, atau masjid di Jakarta, di dalam taksi pengap atau kereta yang tak mau berhenti, hidup atau mati (atau bosan). Selamanya gentayangan, berada di antara, kau akan temukan cerita para pengelana, turis, dan migran tentang pelarian, penyeberangan, pencarian atas rumah, rute, dan pintu darurat.

Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan.

Review

“Gentayangan, tak berpikir tentang pulang. Semua ini lebih penting dari apa pun buatmu, dan mungkin juga buat mereka yang terperangkap di kota yang sama, rumah yang sama.” (Hlm. 162)

Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu adalah novel perdana sekaligus karya terbaru dari Intan Paramaditha. Setelah terakhir kali mengeluarkan kumpulan cerpen Sihir Perempuan pada tahun 2005 yang diterbitkan ulang dengan kemasan baru oleh PT Gramedia Pustaka Utama  pada bulan April 2017. Berbeda dengan kumpulan cerpen Sihir Perempuan dan Kumpulan Budak Setan, novel bertema perjalanan dan petualangan dengan format Pilih Sendiri Petualanganmu ini bergenre misteri dan benar-benar tidak sehoror kedua kumpulan cerpen tersebut.

Intan Paramaditha adalah penulis yang hidup berpindah kota dan negara selama lebih dari satu  dekade. Intan telah menerbitkan beberapa karya fiksi, di antaranya kumpulan cerpen Sihir Perempuan, lima besar Khatulistiwa Literary Award (Kusala Sastra Khatulistiwa) 2005 dan diterbitkan kembali setelah 12 tahun; Kumpulan Budak Setan, proyek kumpulan cerita horor bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad (2010); dan naskah pertunjukan teater Goyang Penasaran (Teater Garasi, 2011-2013). Intan juga memenangkan penghargaan cerpen terbaik Kompas tahun 2013 dan cerpen-cerpennya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman dalam buku Spinner of Darkness & Other Tales.

“Perjalanan tak selalu butuh penutup. Di sini, perjalanan adalah ruang di antara, ketidakpastian yang terus-menerus.” (Hlm. 459)

Cerita dalam novel yang digagas sejak tahun 2008 ini dimulai ketika seorang perempuan berusia hampir 28 tahun berharap sesuatu yang besar mengubah hidupnya yang biasa-biasa saja. Bukan kehidupan yang seperti kakak, temannya, atau siapa pun yang ia kenal. Ia ingin petualangan. Ia pun kemudian menantang semesta dan seketika Iblis datang seakan-akan semesta menjawab tantangannya. Si Iblis berjanji akan datang setiap malam dan memenuhi apa pun permintaannya.

Singkat cerita, pada satu malam ia menagih janji si Iblis. Merasa tak bisa memenuhi permintaannya, si Iblis akhirnya menawarkan sesuatu yang lain. Namun, ia tetap bersikukuh pada keinginannya. Iblis pun lalu mengajukan sebuah kontrak persetujuan yang tanpa pikir panjang diterima olehnya. Keesokan harinya, ia menerima sepucuk surat beserta sepasang sepatu merah terkutuk yang bisa mengabulkan keinginannya. Tanpa mengindahkan kertas lain yang terselip dalam amplop, ia langsung memakai sepatu itu.

Ketika terbangun, ia sudah berada di Kota New York dan sedang bersiap meninggalkan kota tersebut menuju Bandara John F. Kennedy untuk melanjutkan perjalanannya ke Berlin. Sesampainya di bandara, ia baru menyadari bahwa sebelah sepatunya tidak ada. Ia pun mencoba mengingat-ingat di mana sepatu itu terlepas, dan menimbang-nimbang apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Akankah sepatu merah itu ia temukan dan berhasil memenuhi hasratnya untuk bisa bepergian dengan bebas?

Sampai adegan tersebut penulis menyediakan tiga pilihan utama—membatalkan perjalanan dan kembali ke New York, melanjutkan perjalanan, atau melaporkan kehilangan—yang akan membuat pembaca terperosok ke dalam situasi dan petualangan yang berbeda-beda. Perlu dicatat, saya menulis pun memilih ketiga pilihan itu tidak berurutan seperti yang tertulis di buku. Bagi saya, semua pilihan yang ada dalam Gentayangan seperti pintu. Karena pintu merupakan gerbang menuju tempat yang kita inginkan atau ruang yang ingin kita masuki; sebuah pembatas di antara dua tempat/ruang.

Intan memberikan banyak sekali pilihan yang dengan bebas bisa pembaca ambil, yang mana setiap pilihan utama tersebut akan membawa pembaca ke banyak cerita (tentang turis, pengungsi, imigran gelap, pengelana, pasangan lesbi, ekspat, dll), tempat, juga jalur dengan ending yang beragam. Ada satu ending yang mencengangkan dan membuat saya speechless. Tetapi, kalau kembali lagi ke bagian awal di mana tokoh kau sempat berucap tak mau pulang, saya pikir apa yang dialami tokoh kau memang sudah sewajarnya terjadi. Ada pula ending yang membuat geregetan dan menyisakan tanya; ending yang menyebalkan, sampai-sampai serasa ingin melempar sepatu; ending yang bahagia; ending versi pembaca (sesuka pembaca yang menulis ending-nya); ending yang tidak terduga dan berhasil membuat saya keheranan; ending yang cukup tragis; dsbnya. Semua dikemas dalam jalinan cerita yang sangat menarik, memantik rasa penasaran, dan tak jarang misterius.

Ketiga pilihan utama yang menjadi pembuka/awal dari perjalanan akan membawa pembaca ke petualangan dengan jalur yang cukup singkat, amat singkat, dan amat panjang (banyak rutenya). Pilihan dengan jalur-jalur yang panjang ini barangkali akan membuat pembaca bosan karena berkali-kali mengulang/melewati rute awal yang sama. Bagi pembaca seperti saya yang kelewat penasaran dengan cerita lainnya dan belum puas kalau belum sampai ke semua kata tamat, tentu pengulangan rute tersebut tidak menjadi soal. Apalagi kalau tiap jalur sudah ditandai dengan page marker dan menulis ringkasannya di notes. Rute yang sama tinggal dilewati atau semisal lupa tinggal dibaca ringkasannya saja.

“Jangan becermin lama-lama jam dua belas malam. Kau tak akan pernah tahu wajah siapa yang muncul di sana.” (Hlm. 83)

Dalam Gentayangan kita masih dapat menemukan ciri-ciri khas Intan; dongeng-dongeng dengan perspektif lain, cerita-cerita mistis, kesan misteri dan agak ngeri, isu-isu budaya dan politik, feminisme, serta gender dan seksualitas. Meskipun mistis dan agak ngeri, dalam novel ini saya merasa kekhasan Intan yang terkait kengerian kurang begitu keluar. Baca Gentayangan malah membuat saya rindu dengan tulisan-tulisan Intan yang lebih gelap dengan adegan-adegan plus tokohnya yang sadis dan membuat merinding, seperti di kumcer Sihir Perempuan dan Kumpulan Budak Setan. 😀

“Di negerimu, orang menculik manusia sungguhan, bukan kurcaci kebun. Mereka dihilangkan tanpa pernah ketemu, dan banyak penculik tak pernah dihukum.” (Hlm. 91)

Tak hanya itu, dalam Gentayangan kita juga dapat menemukan sindiran-sindiran menggelitik tentang hal-hal yang terus berulang pun terjadi dalam keseharian, dan sepertinya sudah menjadi hal yang lazim (tentang bahasa Indonesia yang dianggap tidak penting, tidak ada orang yang membaca bagian syarat dan persetujuan saat membuat akun email, dll). Termasuk pula sindiran tentang peristiwa-peristiwa masa lalu, seperti peristiwa G30S/PKI, penculikan aktivis tahun 1998, dll.

Gentayangan mengambil setting cerita tahun 2007 sampai 10 tahun setelahnya. Latar tempat dalam Gentayangan tampaknya sebagian besar diambil dari pengalaman Intan selama hidup berpindah kota dan negara. Cukup terasa bedanya ketika sampai di tempat-tempat yang digambarkan sepintas lalu. Namun, Intan tetap mendeskripsikannya secara mendetail. Banyak ‘PR’ yang menghidupkan rasa penasaran saya pun mendorong saya untuk mencari tahu lebih dalam. Mulai dari peristiwa-peristiwa masa lalu (rezim Soeharto, peristiwa G30S/PKI, Perang Korea, kudeta militer di Thailand, perang antar kartel narkotika di Meksiko, peristiwa Revolusi Damai, dll), film-film dan karya beberapa penulis yang disebutkan di buku, sampai tempat-tempat yang dijadikan latar cerita. Lewat Gentayangan saya jadi mengenal sekaligus ingin membaca dongeng-dongeng yang sebelumnya tidak saya tahu.

Gentayangan memuat banyak sekali cerita dengan dua puluhan subjudul dan lima belas jalur cerita yang bisa dilewati, yang teruntai dengan sangat menarik dalam tujuh plot yang berbeda. Cukup banyak cerita yang saya suka dan benar-benar menarik sekaligus memberi kesan yang dalam, di antaranya:

  • Permainan Rumpelstiltskin

“Beberapa jam kemudian kusadari bahwa ia menandai babak baru kita. Seharusnya aku tak mempedulikannya. Seharusnya tak kubiarkan kau masuk.” (Hlm. 202)

Dalam cerita ini, tokoh kau memperoleh sebuah cermin dari Iblis Kekasih. Cermin itu seperti sengaja diberikan pada tokoh kau untuk mengungkap dirinya yang sebenarnya melalui sosok perempuan yang pernah ada hubungannya dengan tokoh kau. Perempuan yang dulu tokoh kau sapa dan temani dalam perjalanan dari Philadelphia menuju New York. Seseorang yang entah dengan sengaja atau tidak sengaja melupakan tokoh kau. Perempuan yang suaminya dicuri tokoh kau.

Menurut saya, cerita ini sedikit gelap, menarik, dan benar-benar mengejutkan sekaligus pelik. Intan begitu piawai dalam menjahit sebuah cerita yang mana pada satu bagian kecil di dalamnya terinspirasi dari salah satu dongeng Brothers Grimm. Ending-nya membuat saya geregetan dan menyisakan tanya; tentang siapa yang ada di dalam cermin dan siapa yang becermin. Terlebih saat membaca pertanyaan yang terdapat di akhir cerita.

  • Kafe

“Ini bukan cinta yang membuatmu sekarat. Ini bahkan bukan cinta, sebab kau sendiri tak tahu apakah kau pernah benar-benar mencintai seseorang.” (Hlm. 184)

Dalam cerita ini tokoh kau tertarik pada laki-laki bernama Vijay. Sayangnya, pada satu hari ia mengetahui kenyataan yang cukup menyakitkan tentangnya dan membuat ia mencoret Vijay dari daftar lelaki potensial di sekitarnya. Saya suka cerita ini karena rasanya berbeda dibandingkan kisah-kisah sebelumnya yang terkesan agak gelap. Selain itu, membuat saya seketika senyum-senyum sendiri saat membaca adegan Elise yang memperkenalkan Vijay kepada tokoh kau. Terlebih ketika ‘melihat’ adegan antara tokoh kau dan Vijay. Sejenak membuat saya berharap ada adegan mereka lagi dan lebih panjang di halaman-halaman berikutnya. Cerita ini sempat mengecoh saya dan ternyata ending-nya berbanding terbalik dengan yang saya pikirkan.

  • Kematian Bunga-bunga Ceri

“Ia tak pernah berniat menjadikanmu sahabat. Tapi kita memang kerap bersama seseorang karena tak ada pilihan lain.” (Hlm. 254)

Di cerita ini tetangga tokoh kau, Meena, menceritakan sebuah rahasia mengejutkan yang juga menguak hubungannya dengan seorang pria dan siapa pria itu pada tokoh kau. Cerita di mana Intan berhasil membuat saya terkecoh lagi dan terkejut. Sungguh di luar ekspektasi. Dalam cerita ini, Intan kembali mengingatkan pembaca pada isu poligami yang dialami seorang penceramah pada tahun 2006.

  • Klub Solidaritas Suami Hilang

“Sebagian cerita selalu menikam, tak pernah tumpul meski diulang-ulang.” (Hlm. 364)

Di cerita ini tokoh kau berkenalan dengan beberapa orang yang juga kehilangan suaminya. Cerita dengan (lagi-lagi) plot twist yang sangat menarik. Dari kisah salah satu anggota Klub Solidaritas Suami Hilang, Intan seperti ingin menyampaikan pada pembaca bahwa seorang wanita yang berwajah manis dan terlihat lemah pun bisa melakukan hal yang tidak terduga; hal yang menakutkan. Betapa penampilan luar dapat menipu. Betapa sebuah penderitaan bisa menorehkan luka sekaligus menyisakan bekas.

  • Museum

“Mungkin kita memang harus dipaksa mengingat garis lurus dan sudut siku-siku sebab ingatan adalah kabel kusut beragam corak yang berlomba-lomba minta ditarik.” (Hlm. 117)

“Terkadang perjalanan memang bisa memanggil kembali trauma.” (Hlm. 125)

Di sini tokoh kau bertemu dengan seorang perempuan yang membuatnya melupakan Muhammad. Cerita ini menarik sekali karena memantik saya untuk mencari tahu lebih dalam dan mengingat kembali peristiwa-peristiwa kelam di Indonesia pada masa lampau. Dalam cerita ini, disinggung mengenai pemberontakan PKI di rezim Orde Baru. Juga perkosaan terhadap perempuan-perempuan Cina saat kerusuhan Mei 1998 yang sempat dibocorkan Intan ketika pre-launch Gentayangan Oktober lalu. Pun peristiwa-peristiwa yang disebutkan bukan cuma tempelan.

  • Tijuana

“Pagar adalah batas pengaman, antara rumah dan di luar sana, antara yang aman dan yang mengancam.” (Hlm. 484)

Kilas balik ke cerita di mana tokoh kau dan Cynthia mengingat masa lalu dan saat mereka memutuskan untuk pergi ke Tijuana. Cerita ini menarik untuk saya karena dua orang tokoh dalam cerita ini saling berbagi cerita tentang keadaan mereka saat kerusuhan dan pasca kerusuhan Mei 1998. Terasa sekali efek yang dialami keduanya dari peristiwa tersebut.

  • Mengunjungi Rumah Hantu

“Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan.” (Hlm. 416)

Di cerita ini tokoh kau membaca sebuah tulisan panjang yang ada di buku catatan milik seorang perempuan kidal yang ia perhatikan di ruang tunggu Bandara John F. Kennedy. Saya suka cerita ini karena ending-nya tidak terduga dan berhasil membuat saya keheranan.

Sekali waktu saya merasa beberapa hal yang digambarkan dalam novel ini sangat Intan sekali. Misalnya, ketika tokoh Victoria menceritakan cucunya yang senang bikin cerita horor atau ketika tokoh kau memakai gaun hitam dengan panjang selutut dan sepatu merah. Saya langsung membayangkan tokoh kau itu Intan sendiri. Tidak mengganggu kenyamanan saya selama membaca. Hanya saja, saya pikir dapat membuyarkan imajinasi wujud tokoh kau yang sedari awal sudah tergambar dalam benak pembaca meski sekelebat.

Dalam Gentayangan ada beberapa bagian yang isinya serupa di satu-dua jalur di salah satu pilihan utama; narasi ketika tokoh kau membuka email dari kakaknya dan isi email-nya, soal Victoria dan cucunya, foto keponakan tokoh kau dengan kurcaci kebun, serta ketika tokoh kau memulai hidup baru di Los Angeles. Saya sempat berpikir sepertinya akan lebih menarik lagi kalau isinya dibedakan. Namun, begitu sampai di dua paragraf terakhir salah satu jalur panjang di pilihan utama tersebut, saya dapat menangkap maksud penulis dan mengerti mengapa bagian-bagian itu isinya nyaris sama. Ada juga satu bagian tentang satu tokoh yang mudah ditebak di salah satu cerita yang mengambil latar di Amsterdam. Kalau sudah membaca sebagian besar atau keseluruhan cerita dalam Gentayangan, pembaca pasti langsung bisa menebak siapa tokoh itu. Terlepas dari itu, semua ceritanya mampu membuat pembaca tercengang.

Gaya bahasa dalam Gentayangan enak dan mengalir sehingga tidak membosankan meski lebih banyak narasi daripada dialog dan menggunakan sudut pandang orang kedua. Pun gaya penulisan Intan yang memikat dan kepiawaiannya menjalin cerita mampu membuat saya terhanyut ke dalam cerita. Penggunaan diksi dan deskripsi yang mendetail membuat saya tersihir sekaligus membuat imajinasi saya bekerja seketika. Saya merasa seperti benar-benar berada di New York, Jakarta, Berlin, Desa Cibeurit, Manhattan, Los Angeles, Amsterdam, bahkan di stasiun, bandara, terminal, dalam kereta, dan tempat-tempat lainnya. Dalam novel ini pun pembaca akan menemukan banyak sekali kalimat yang menarik dan penuh makna.

Di beberapa cerita ada bagian di mana tokoh kau membuka email dan membaca email dari kakaknya. Terasa sekali hubungan antara tokoh kau dan kakaknya berjarak hanya dari membaca narasi dan isi surelnya. Pun dunia keduanya kelihatan berbeda. Lewat pilihan-pilihan yang ada Intan membuat pembaca beralih menjadi tokoh kau dan menelusuri sendiri arti dari perjalanannya. Intan juga mengajak pembaca untuk merefleksikan diri dengan menilik pilihan-pilihan yang diambil, kejadian-kejadian yang dialami sebagai akibat dari pilihan-pilihan yang diambil, dan hasrat kebebasan pun bertualang yang terpendam dalam diri tokoh kau.

Tak lama sebelum novel ini resmi diterbitkan, ada yang mengatakan Gentayangan seperti novel Goosebumps karya R.L. Stine. Saya penasaran dan setelah mencari tahu, format Pilih Sendiri Petualanganmu ini serupa dengan novel Goosebumps seri Petualangan Maut. Kalau saya tidak salah tangkap, hanya konsepnya saja yang hampir sama. Di mana pembacalah yang menentukan bagaimana ceritanya akan berlanjut dan ending seperti apa yang akan didapat. CMIIW. Gentayangan boleh jadi memang mengadopsi dan mengadaptasi konsep Goosebumps dan saya pikir sah-sah saja.

Bagi yang pernah membaca Goosebumps, tentunya Gentayangan menjadi novel yang sayang sekali kalau dilewatkan. Karena bisa membuat pembaca bernostalgia ke tahun 1990-an di mana novel Goosebumps seri Petualangan Maut hadir. Bagi saya sendiri, membaca novel dengan format semacam ini merupakan hal yang baru karena saya belum pernah membaca Goosebumps sehingga mengasyikkan sekali. *disorakin*

Selama membaca Gentayangan terbayang segala kerumitan penyusunan novel ini dan kalau tidak betul-betul teliti, bisa saja ada cerita atau bagian yang berlubang dan luput. Sampai selesai membaca keseluruhan cerita saya tidak menemukan hal tersebut, kecuali kesalahan-kesalahan tikan dengan satu-dua kata berulang kesalahannya di halaman lain dan dua istilah dalam bahasa Prancis—document de voyage dan ménage à trois—yang hanya dijelaskan lewat penceritaan. Pembaca yang kadang kurang ngeh seperti saya karena terlalu keasyikan membaca mungkin akan sedikit bingung kalau setelahnya atau saat itu juga tidak mencari tahu artinya. Namun, hal tersebut tidak mengurangi kenyamanan membaca. Selain itu, untuk beberapa orang mungkin format semacam ini tidak menarik, melelahkan, dan menjemukan. Bisa jadi juga memusingkan sehingga memilih menyerah setelah menemukan satu-dua kata tamat.

Membaca Gentayangan membuat saya mempertanyakan kembali arti sekaligus mengubah perspektif saya tentang gentayangan, petualangan, pulang, kebebasan, perjalanan, batas, dan cewek bandel. Juga membuat saya berpikir keras dan melakukan hal-hal yang bisa jadi orang lain anggap tidak ada kerjaan atau tidak penting (berselancar di internet hanya untuk mencari tahu tempat-tempat yang tokoh kau kunjungi—cuma biar bisa memperoleh bayangan yang lebih jelas, peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau, dll). Misalnya, peristiwa runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet. Sangat-sangat menyenangkan.

Saya pun tersadar betapa status sosial ternyata memiliki peran yang cukup berpengaruh dalam hidup saya (dan mungkin orang lain juga). Kadang, saya merasa status sosial dan privilese yang saya miliki membatasi satu-dua hal yang amat ingin saya lakukan. Saya teringat dengan wawancara Vice dengan Intan pada Oktober lalu, di mana Intan menyinggung soal status sosial dan privilese yang dimiliki seseorang. Benar adanya bahwa tidak semua orang memiliki status sosial dan privilese yang bisa membuat mereka menerobos bahkan meruntuhkan dinding yang membatasi hasrat mereka. Tidak heran jika tokoh kau kerap mengambil pilihan tanpa mengindahkan segala hal yang bisa dibilang penting termasuk risiko yang akan diterima.

Selama tokoh kau bertualang, pembaca dapat menyelami betapa dalam hasrat bepergiannya lewat perbuatan dan perkataannya. Pun tergambar dengan sangat jelas kalau ia adalah seorang cewek bandel yang seringkali tidak menuruti apa kata orang dan menerobos batasan-batasan yang ada meskipun kadang tak berujung manis. Saya jadi berpikir sebenarnya yang bandel itu tokoh kau atau saya? 😀 Kalau mengingat yang telah lalu, apa saya juga termasuk kategori cewek bandel? Well, saya rasa setiap orang memiliki sisi bandelnya masing-masing yang tentu kadarnya berbeda-beda, atau setidaknya pernah menjadi orang yang bandel. Membaca Gentayangan sekaligus membuat pembaca benar-benar berintrospeksi.

Gentayangan bukan sekadar novel misteri-petualangan biasa. Bagi saya, Gentayangan adalah novel yang sarat akan ilmu dan makna. Lewat Gentayangan Intan mengajak pembaca menafsirkan kembali arti gentayangan, perjalanan, petualangan, pulang, kebebasan, batas, dan cewek bandel melalui beragam cerita dengan plot-plot twist menarik dan pilihan-pilihan yang tak jarang menguji ‘kenakalan’ pembaca (dalam hal ini mengikuti atau tidak mengikuti usulan yang diberikan sebelum menentukan pilihan) sekaligus ending yang, seperti permen NanoNano, ramai rasanya. 😀 Juga lewat banyaknya peristiwa dan isu masa lampau yang dimunculkan. Karena itu, membaca Gentayangan akan membuat pembaca kerap berpikir setiap menyelesaikan satu cerita atau satu jalur. Saya menyebutnya berpikir dengan cara yang menyenangkan. Gentayangan saya rekomendasikan untuk kamu yang ingin membuktikan bahwa gentayangan bukan cuma soal hantu atau horor dan perjalanan lebih dari sekadar sebuah kesenangan. Juga bagi kamu yang ingin mencoba perjalanan dengan cara yang tidak biasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s