IMG_20171107_154326Judul buku: Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu

Penulis: Intan Paramaditha

Penyelia naskah: Mirna Yulistianti

Desain sampul: Suprianto

Foto sampul: Ugoran Prasad

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan I: 16 Oktober 2017

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-7772-8

Halaman: 492 halaman

Harga: Rp125.000,-

Rating: ♥♥♥♥♥

Sinopsis:

Jangan sembarang menerima pemberian, demikian nasihat orang-orang tua dulu, tapi kau telanjur meminta paket itu: hadiah sekaligus kutukan. Iblis Kekasih telah memberimu sepasang sepatu merah.

Kau terkutuk untuk bertualang, atau lebih tepatnya, gentayangan. Bernaung, tapi tak berumah.

Sebuah novel dengan format Pilih Sendiri Petualanganmu, Gentayangan berkisah tentang perjalanan dan ketercerabutan, memotret mereka yang tergoda batas, yang bergerak dan tersangkut, yang kabur namun tertangkap. Tergantung jalan mana yang kau pilih, petualangan terkutuk sepatu merah akan membawamu ke New York kota tikus, perbatasan Tijuana, gereja di Haarlem, atau masjid di Jakarta, di dalam taksi pengap atau kereta yang tak mau berhenti, hidup atau mati (atau bosan). Selamanya gentayangan, berada di antara, kau akan temukan cerita para pengelana, turis, dan migran tentang pelarian, penyeberangan, pencarian atas rumah, rute, dan pintu darurat.

Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan.

Review

“Gentayangan, tak berpikir tentang pulang. Semua ini lebih penting dari apa pun buatmu, dan mungkin juga buat mereka yang terperangkap di kota yang sama, rumah yang sama.” (Hlm. 162)

Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu adalah novel perdana sekaligus karya terbaru Intan Paramaditha, penulis dan akademisi yang hidup berpindah kota dan negara selama lebih dari satu dekade. Karya fiksinya yang telah diterbitkan, yaitu Sihir Perempuan—lima besar Khatulistiwa Literary Award (Kusala Sastra Khatulistiwa) 2005—yang diterbitkan ulang setelah dua belas tahun dengan sampul dan konsep baru oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada April 2017, Kumpulan Budak Setan (proyek kumpulan cerita horor bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad), naskah pertunjukan teater Goyang Penasaran (Teater Garasi, 2011-2013), dan Goyang Penasaran: Naskah Drama dan Catatan Proses yang ditulisnya bersama Naomi Srikandi. Intan pernah memenangkan penghargaan cerpen terbaik Kompas pada 2013 dan beberapa cerpennya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa Jerman dalam buku Spinner of Darkness & Other Tales.

Gentayangan mengambil tema perjalanan dan petualangan dengan format Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu. Sepatu merah menjadi kunci yang membuka petualangan-petualangan tokoh kau. Juga pengikat antara dirinya dan Iblis Kekasih meskipun tidak benar-benar mengikat. Berbeda dengan kumpulan cerpen Sihir Perempuan dan Kumpulan Budak Setan, novel yang digagas sejak 2008 ini bergenre misteri dan memang tidak sehoror kedua kumpulan cerpen tersebut. Jadi, jangan tertipu atau merasa takut duluan hanya karena judulnya sebelum membaca ceritanya, ya. 😉 Kalau tidak salah hitung, Gentayangan memuat banyak sekali cerita dengan 27 subjudul dan lima belas jalur yang bisa dilewati, yang teruntai dengan sangat menarik dan memikat dalam tujuh plot yang berbeda.

IMG_20171018_174523

“Perjalanan tak selalu butuh penutup. Di sini, perjalanan adalah ruang di antara, ketidakpastian yang terus-menerus.” (Hlm. 459)

Gentayangan berkisah tentang seorang perempuan berusia hampir 28 tahun yang merasa bosan dengan kehidupannya yang biasa saja dan berharap sesuatu yang besar mengubah hidupnya. Bukan kehidupan yang seperti kakak, teman, atau siapa pun yang dikenalnya. Ia ingin petualangan. Ia pun menantang semesta dan seketika Iblis datang seakan-akan semesta menjawab tantangannya. Si Iblis berjanji akan datang setiap malam dan memenuhi apa pun permintaannya. Namun, siapa yang menyangka bahwa si Iblis tak bisa memenuhinya. Esoknya, ia menerima sepucuk surat beserta sepasang sepatu merah terkutuk sesuai keinginannya dan amplop berisikan kontrak persetujuan yang diajukan si Iblis. Sepatu itu pun langsung dipakainya tanpa menunggu lama dan tanpa menghiraukan isi kontrak tersebut. Ketika sadar ia sudah berada di Kota New York dan di dalam taksi menuju Bandara John F. Kennedy untuk melanjutkan perjalanan ke Berlin. Sesampainya di bandara, ia baru menyadari sebelah sepatunya tidak ada. Akankah ia menemukan sepatu merah itu? Bisakah sepatu itu memenuhi hasratnya untuk bisa bepergian dengan bebas?

Sampai adegan tersebut Intan mengusulkan tiga pilihan utama—membatalkan perjalanan dan kembali ke New York, melanjutkan perjalanan, atau melaporkan kehilangan—yang akan membuat pembaca terperosok ke dalam situasi dan petualangan yang berbeda. Bagi saya, semua pilihan yang ada seperti pintu yang merupakan gerbang menuju tempat yang kita inginkan atau ruang yang ingin kita masuki. Pembatas yang memisahkan antara dua tempat, ruang, atau hal lainnya. Kisah tentang ekspat, turis, pengungsi, imigran gelap, pasangan lesbi hanyalah lima dari banyaknya cerita yang diberikan Intan dari belasan pilihan dan jalur yang terangkum dalam tiga pilihan utama tersebut.

Tiga pilihan utama itu menjadi awal dari perjalanan dan akan membawa pembaca ke petualangan dengan jalur yang cukup singkat, amat singkat, dan amat panjang (banyak rutenya). Pilihan dengan jalur-jalur yang panjang ini boleh jadi akan membuat pembaca bosan karena berkali-kali mengulang atau melewati rute awal yang sama. Bagi pembaca seperti saya yang kelewat penasaran dengan cerita lainnya dan belum puas kalau belum mencapai akhir dari setiap jalur, tentu pengulangan rute tersebut tidak menjadi soal. Apalagi kalau tiap jalur sudah ditandai dengan page marker dan menulis ringkasannya di notes. Rute yang sama tinggal dilewati atau semisal lupa tinggal membaca ringkasannya saja.

Berbagai ending yang ada akan membuat pembaca kadang seperti memenangkan atau kehilangan sebuah lotre. Ada satu ending yang mencengangkan hingga membuat saya speechless, tetapi kalau kembali lagi ke bagian awal di mana tokoh kau sempat berucap tak mau pulang, saya pikir apa yang dialami tokoh kau memang sudah sewajarnya terjadi. Ada pula ending yang membuat geregetan dan menyisakan tanya, ending yang menyebalkan sampai-sampai serasa ingin melempar sepatu, ending yang bahagia, ending versi pembaca (sesuka pembaca yang menulis ending-nya), ending yang tidak terduga dan berhasil membuat saya keheranan, ending yang cukup tragis, dsb. Laiknya seorang penyihir Intan menyihir pembaca lewat jalinan cerita yang dikemas dengan sangat menarik, memantik rasa penasaran, menguji pikiran, dan tak jarang misterius.

“Jangan becermin lama-lama jam dua belas malam. Kau tak akan pernah tahu wajah siapa yang muncul di sana.” (Hlm. 83)

Dalam novel ini pun kita masih dapat menikmati kekhasan Intan dalam mengolah dongeng-dongeng lama dengan perspektif berbeda, hal-hal mistis, isu-isu budaya dan politik, feminisme, serta gender dan seksualitas. Pada prolog saya seperti sedang berada dalam dongeng Cinderella versi 2017 dengan Iblis Kekasih sebagai ibu peri yang memberikan sepatu kaca dalam wujud lain, yaitu sepatu merah terkutuk. 😀 Sangat menarik. Meskipun cerita Gentayangan terkesan penuh misteri, sedikit horor, dan cukup ngeri, saya merasa kekhasan Intan dalam membangun kengerian dan keseraman kurang begitu keluar. Baca Gentayangan malah membuat saya rindu tulisan Intan yang lebih gelap dengan adegan-adegan plus tokoh perempuan yang kuat, sadis, dan kerap membuat merinding, seperti di kumcer Sihir Perempuan dan Kumpulan Budak Setan.

“Kau datang dari suatu tempat dengan luas wilayah mengagumkan, tapi bahasamu tak laku, tak punya nilai tukar.” (Hlm. 35)

“Di negerimu, orang menculik manusia sungguhan, bukan kurcaci kebun. Mereka dihilangkan tanpa pernah ketemu, dan banyak penculik tak pernah dihukum.” (Hlm. 91)

“Kita terus mengingat, diam-diam, sebab cerita kita tak bisa dipercaya. Mereka ingin bukti. Tapi tak ada bukti sebab tak ada yang melapor. Dan bila kau tak jadi mayat, bicara tak akan menyelamatkanmu. Seorang saksi mati ditikam, maka tak ada pilihan selain bungkam.” (Hlm. 485)

Banyak sindiran-sindiran menggelitik yang tak jarang membuat berpikir dan menyeringai tentang kejadian-kejadian di masa lampau maupun hal-hal yang selalu terjadi lagi dan dekat dengan keseharian, seperti penculikan aktivis 1998, anggapan mengenai bahasa Indonesia yang dinilai tidak penting, rezim Soeharto, Reformasi 1998, kekerasan perkosaan yang dialami perempuan-perempuan Tionghoa saat kerusuhan Mei 1998, dan lain-lain. Selain itu, banyak pula catatan yang menghidupkan rasa penasaran saya pun mendorong saya untuk mencari tahu lebih dalam. Mulai dari peristiwa-peristiwa masa lalu, baik dalam maupun luar negeri (peristiwa G30S/PKI, Perang Korea, kudeta militer di Thailand, perang antar kartel narkotika di Meksiko, peristiwa Revolusi Damai, dan masih banyak lagi), film dan karya beberapa penulis yang disebutkan dalam buku, sampai tempat-tempat yang dijadikan latar cerita.

Gentayangan mengambil setting cerita tahun 2007 sampai 10 tahun setelahnya. Latar tempat yang digunakan tampaknya sebagian besar diambil dari pengalaman Intan selama hidup berpindah kota dan negara. Cukup terasa bedanya ketika sampai di tempat-tempat yang digambarkan sepintas lalu. Namun, Intan tetap mendeskripsikannya secara mendetail. Lewat Gentayangan saya jadi mengenal sekaligus ingin membaca dongeng-dongeng yang sebelumnya tidak saya tahu. Walaupun sebetulnya ceritanya saling terkait satu sama lain, dari puluhan subjudul cukup banyak cerita yang saya suka dan benar-benar menarik sekaligus memberi kesan yang dalam, di antaranya sebagai berikut.

  • Permainan Rumpelstiltskin

IMG_20171025_174534

“Beberapa jam kemudian kusadari bahwa ia menandai babak baru kita. Seharusnya aku tak mempedulikannya. Seharusnya tak kubiarkan kau masuk.” (Hlm. 202)

Dalam cerita ini, tokoh kau memperoleh sebuah cermin dari Iblis Kekasih. Cermin itu seperti sengaja diberikan untuk mengungkap diri tokoh kau yang sebenarnya melalui sosok perempuan yang pernah ada hubungan dengannya. Perempuan yang dulu tokoh kau sapa dan temani dalam perjalanan dari Philadelphia menuju New York. Seseorang yang entah dengan sengaja atau tidak sengaja melupakan tokoh kau. Perempuan yang suaminya dicuri tokoh kau.

Menurut saya, cerita ini sedikit gelap, menarik, dan benar-benar mengejutkan sekaligus pelik. Intan begitu piawai dalam menjahit cerita yang mana pada satu bagian kecil di dalamnya terinspirasi dari salah satu dongeng Brothers Grimm. Ending-nya membuat saya geregetan dan menyisakan tanya tentang siapa yang ada dalam cermin dan siapa yang becermin. Terlebih saat membaca pertanyaan yang terdapat pada akhir cerita.

  • Kafe

IMG_20171107_193152

“Ini bukan cinta yang membuatmu sekarat. Ini bahkan bukan cinta, sebab kau sendiri tak tahu apakah kau pernah benar-benar mencintai seseorang.” (Hlm. 184)

Dalam cerita ini tokoh kau tertarik pada laki-laki bernama Vijay. Sayangnya, pada satu hari ia mengetahui kenyataan yang cukup menyakitkan tentangnya dan membuat ia mencoret Vijay dari daftar lelaki potensial di sekitarnya. Saya suka cerita ini karena rasanya berbeda dibandingkan kisah-kisah sebelumnya yang terkesan agak gelap. Selain itu, membuat saya seketika senyum-senyum sendiri saat membaca adegan Elise yang memperkenalkan Vijay kepada tokoh kau. Terlebih ketika melihat adegan antara tokoh kau dan Vijay. Sejenak membuat saya berharap ada adegan mereka lagi dan lebih panjang di halaman-halaman berikutnya. Cerita ini sempat mengecoh saya dan ternyata ending-nya berbanding terbalik dengan yang saya pikirkan.

  • Kematian Bunga-Bunga Ceri

“Ia tak pernah berniat menjadikanmu sahabat. Tapi kita memang kerap bersama seseorang karena tak ada pilihan lain.” (Hlm. 254)

Dalam cerita ini tetangga tokoh kau, Meena, menceritakan pada tokoh kau sebuah rahasia mengejutkan yang juga menguak hubungannya dengan seorang pria dan siapa pria itu. Cerita di mana Intan berhasil membuat saya terkecoh lagi dan terkejut. Sungguh di luar ekspektasi. Di sini Intan kembali mengingatkan pembaca pada isu poligami yang dialami seorang penceramah pada 2006.

  • Klub Solidaritas Suami Hilang

“Sebagian cerita selalu menikam, tak pernah tumpul meski diulang-ulang.” (Hlm. 364)

Di cerita ini tokoh kau berkenalan dengan beberapa orang yang juga kehilangan suaminya. Cerita dengan (lagi-lagi) plot twist yang sangat menarik. Dari kisah salah satu anggota Klub Solidaritas Suami Hilang, Intan seperti ingin menyampaikan pada pembaca bahwa seorang wanita yang berwajah manis dan terlihat lemah sekalipun bisa melakukan hal yang tidak terduga dan menakutkan. Betapa penampilan luar dapat menipu. Betapa sebuah penderitaan bisa menorehkan luka sekaligus menyisakan bekas.

  • Museum

“Mungkin kita memang harus dipaksa mengingat garis lurus dan sudut siku-siku sebab ingatan adalah kabel kusut beragam corak yang berlomba-lomba minta ditarik.” (Hlm. 117)

“Terkadang perjalanan memang bisa memanggil kembali trauma.” (Hlm. 125)

Di sini tokoh kau bertemu dengan seorang perempuan yang membuatnya melupakan Muhammad. Cerita ini menarik sekali karena memantik saya untuk mencari tahu lebih dalam dan mengingat kembali peristiwa-peristiwa kelam di Indonesia pada masa lampau. Dalam cerita ini, disinggung mengenai pemberontakan PKI pada rezim Orde Baru. Juga perkosaan terhadap perempuan-perempuan Cina pada kerusuhan Mei 1998 yang sempat dibocorkan Intan saat pre-launch Gentayangan pada Oktober lalu. Pun peristiwa-peristiwa yang disebutkan bukan sekadar tempelan.

  • Tijuana

IMG_20171206_105204

“Pagar adalah batas pengaman, antara rumah dan di luar sana, antara yang aman dan yang mengancam.” (Hlm. 484)

Kilas balik ke cerita di mana tokoh kau dan Cynthia mengingat masa lalu dan saat mereka memutuskan untuk pergi ke Tijuana. Cerita ini menarik bagi saya karena dua orang tokoh dalam cerita ini saling berbagi cerita tentang keadaan mereka saat kerusuhan dan pascakerusuhan Mei 1998. Terasa sekali efek yang dialami keduanya dari peristiwa tersebut.

  • Mengunjungi Rumah Hantu

“Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan.” (Hlm. 416)

Di cerita ini tokoh kau membaca sebuah tulisan panjang dalam buku catatan milik seorang perempuan kidal yang ia perhatikan di ruang tunggu Bandara John F. Kennedy. Saya suka cerita ini karena ending-nya tidak terduga dan berhasil membuat saya keheranan.

Dalam Gentayangan ada beberapa bagian yang isinya serupa di satu-dua jalur pada salah satu pilihan utama; narasi ketika tokoh kau membuka surel dari kakaknya dan isi surelnya, soal Victoria dan cucunya, foto keponakan tokoh kau dengan kurcaci kebun, serta ketika tokoh kau memulai hidup baru di Los Angeles. Saya sempat berpikir sepertinya akan lebih menarik lagi kalau isinya dibedakan, namun begitu sampai pada dua paragraf terakhir salah satu jalur panjang pada pilihan utama tersebut, saya dapat menangkap maksud penulis dan mengerti mengapa bagian-bagian itu isinya nyaris sama. Ada juga satu bagian tentang satu tokoh yang mudah ditebak pada salah satu cerita yang mengambil latar di Amsterdam. Kalau sudah membaca sebagian besar atau keseluruhan cerita, pembaca pasti langsung bisa menebak siapa tokoh itu. Terlepas dari itu, semua ceritanya mampu membuat pembaca tercengang.

Sekali waktu saya merasa beberapa hal yang digambarkan dalam novel ini sangat Intan sekali. Misalnya, ketika tokoh Victoria menceritakan cucunya yang senang membuat cerita horor atau ketika tokoh kau memakai gaun hitam dengan panjang selutut dan sepatu merah. Saya langsung membayangkan tokoh kau itu Intan sendiri. Tidak mengganggu kenyamanan saya selama membaca. Hanya saja, saya pikir dapat membuyarkan imajinasi tokoh kau yang sedari awal sudah terbentuk dalam benak pembaca meski sekelebat. Pada beberapa cerita ada bagian di mana tokoh kau membuka dan membaca surel dari kakaknya. Terasa dan tampak sekali dunia keduanya berlainan dan hubungan antara keduanya berjarak hanya dari narasi dan isi surel.

Dalam novel ini pun Intan mencoba menguji pikiran pembaca sama seperti karya-karya sebelumnya. Tak jarang banyak hal yang membuat saya berpikir dan mencoba menangkap maksud yang ia sampaikan. Penggunaan sudut pandang orang kedua membuat pembaca menjadi tokoh kau yang secara bebas bisa memutuskan kelanjutan ceritanya. Intan seperti mengajak kita untuk tidak spontan dan benar-benar berpikir sebelum melanjutkan perjalanan dan melatih kesabaran ketika mengalami kejadian yang sama maupun akhir yang tak terduga. Kita diharapkan mampu menelusuri sendiri arti dari perjalanan, batasan, kebebasan, keinginan, kepulangan, identitas, dan cewek bandel. Pun merefleksikan dan mengoreksi diri dengan menilik pilihan yang diambil, setiap kejadian yang dialami, dan hasrat terpendam tokoh kau.

Gaya bahasa yang memikat dan kepiawaian Intan dalam menjalin cerita, serta penggunaan diksi dan deskripsi yang mendetail mampu membuat saya hanyut dalam cerita. Saya merasa seperti benar-benar berada di New York, Jakarta, Berlin, Desa Cibeurit, Manhattan, Los Angeles, Amsterdam, bahkan di stasiun, bandara, terminal, dalam kereta, dan tempat-tempat lainnya. Otak saya benar-benar dibuat berpikir keras dan panas selama membaca Gentayangan. Sangat-sangat menyenangkan. Terbayang oleh saya segala kerumitan penyusunan novel ini yang kalau tidak betul-betul teliti tentu akan ada cerita atau bagian yang berlubang dan luput. Namun, sampai selesai membaca keseluruhan cerita saya tidak menemukan hal tersebut. Salut pada Intan.

Tak lama sebelum Gentayangan resmi diterbitkan, ada yang mengatakan novel ini seperti novel Goosebumps karya R.L. Stine. Saya penasaran dan setelah mencari tahu, format Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu ini serupa dengan novel Goosebumps seri Petualangan Maut. Kalau saya tidak salah tangkap, hanya konsepnya saja yang hampir sama. Di mana pembacalah yang menentukan bagaimana ceritanya akan berlanjut dan ending seperti apa yang akan didapat. CMIIW.

Gentayangan boleh jadi memang mengadopsi dan mengadaptasi konsep Goosebumps dan saya pikir sah-sah saja. Bagi yang pernah membaca Goosebumps, tentunya Gentayangan menjadi novel yang sayang sekali kalau dilewatkan. Bagi saya sendiri, membaca novel dengan format semacam ini merupakan hal yang baru karena saya belum pernah membaca Goosebumps sehingga mengasyikkan sekali. Bagi beberapa orang mungkin tidak menarik, melelahkan, menjemukan, atau memusingkan sehingga memilih menyerah setelah menemukan satu-dua kata tamat.

Melihat status sosial tokoh kau menyadarkan saya betapa status sosial ternyata memiliki peran yang cukup berpengaruh dalam hidup. Kadang, saya merasa status sosial dan privilese yang saya miliki membatasi satu-dua hal yang amat ingin saya lakukan. Saya teringat dengan wawancara Vice dengan Intan pada Oktober lalu, di mana Intan menyinggung soal status sosial dan privilese yang dimiliki seseorang. Benar adanya bahwa tidak semua orang memiliki status sosial dan privilese yang bisa membuat mereka menerobos bahkan meruntuhkan dinding yang membatasi hasrat mereka. Tidak heran jika tokoh kau kerap mengambil pilihan tanpa mengindahkan segala hal yang bisa dibilang penting termasuk risiko yang akan diterima.

Lewat Gentayangan kita dapat menikmati petualangan dengan cara yang tidak biasa. Selama bertualang, kita dapat menyelami betapa dalam hasrat bepergian dan betapa bandelnya tokoh kau melalui perkataan dan sikapnya yang senang mendobrak batasan meskipun terkadang tak berujung manis. Saya jadi berpikir sebenarnya yang bandel itu tokoh kau atau saya, ya? 🤔😄 Kalau mengingat yang telah lewat, apa saya juga termasuk kategori cewek bandel? Well, saya rasa setiap orang memiliki sisi bandelnya masing-masing atau setidaknya pernah menjadi orang yang bandel.

Bagi saya, Gentayangan adalah novel yang sarat ilmu, makna, pesan, dan bukan sekadar novel misteri-petualangan biasa. Karena itu, membaca novel ini akan membuat pembaca kerap berpikir dengan cara yang menyenangkan setiap menyelesaikan satu cerita atau satu jalur. Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu menunjukkan bahwa gentayangan bukan cuma soal hantu atau hal-hal horor, akan selalu ada hal-hal yang membatasi kita dari kebebasan, dan banyaknya tempat yang dikunjungi ketika melakukan perjalanan bukanlah tolok ukur keberhasilan, kebahagiaan, ataupun pencapaian seseorang.

Iklan