(14/10/17) Pre-Launch Book Signing Event Gentayangan

Salah satu mimpi bagi seorang pembaca adalah bisa bertemu dengan penulis yang disukainya. Hal tersebut pun berlaku untuk saya (atau hanya saya yang beranggapan seperti itu?). Setiap menemukan karya-karya bagus dan menggemarinya, saya selalu berharap untuk bisa bertemu dengan penulisnya. Termasuk pula penulis luar meskipun saya tidak tahu kapan terealisasinya. 😀 Setelah beberapa tahun lalu bertemu dengan Clara Ng, Icha Rahmanti, Dedy Dahlan, Bong Chandra, dan Bambang Trim, tahun ini saya bertemu dengan Intan Paramaditha.

Intan Paramaditha adalah penulis yang hidup berpindah kota dan negara selama lebih dari satu  dekade. Intan telah menerbitkan beberapa karya fiksi, di antaranya kumpulan cerpen Sihir Perempuan, lima besar Khatulistiwa Literary Award (Kusala Sastra Khatulistiwa) 2005 dan diterbitkan kembali setelah 12 tahun; Kumpulan Budak Setan, proyek kumpulan cerita horor bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad (2010); dan naskah pertunjukan teater Goyang Penasaran (Teater Garasi, 2011-2013). Intan juga memenangkan penghargaan cerpen terbaik Kompas tahun 2013, dan beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman.

Setelah April lalu Sihir Perempuan diterbitkan ulang oleh PT Gramedia Pustaka Utama dengan kover baru dan ilustrasi untuk tiap cerita oleh Emte, novel perdananya yang berjudul Gentayangan telah terbit empat hari lalu, tepatnya 16 Oktober 2017. Berbeda dengan kumpulan cerpen Sihir Perempuan dan Kumpulan Budak Setan, novel dengan format Pilih Sendiri Petualanganmu ini—seperti yang diucapkan Intan pada saat pre-launch—tidak begitu horor.

Sesi Diskusi Novel  Gentayangan

Dua hari (14/10/17) sebelum Gentayangan resmi terbit, saya sempat menghadiri Pre-Launch Book Signing Event Gentayangan di Kafe Chez Nous, IFI Bandung. Event yang didukung oleh Omuniuum, Gramedia, dan IFI Bandung ini berlangsung selama satu jam dari pukul 16.00-17.00 dan dipandu oleh Theoresia Rumthe. Singkat memang, tetapi cukup banyak yang dibocorkan dan dibicarakan Intan terkait novel Gentayangan.

Gentayangan enggak terlalu horor. Karena saya melihat horor itu sesuatu yang mengganggu. Saya selalu mempertanyakan apa yang kita anggap normal, apa yang kita anggap konvensi,” ucap Intan saat ditanya mengapa memilih genre horor.

Tak hanya itu, Intan pun sempat berbincang tentang pendapatnya mengenai cewek bandel dan sepatu merah, nama-nama tokoh dalam Gentayangan, alasan memilih judul Gentayangan dan format Pilih Sendiri Petualanganmu, kisah, tokoh, dan setting dalam novel Gentayangan, serta konsep Gentayangan itu sendiri. Ketika sesi tanya jawab berlangsung saya berkesempatan mengajukan satu pertanyaan yang tiba-tiba terlintas di benak saya dan cukup membuat saya penasaran.

Sesi Tanya Jawab

“Ada, tapi saya paling malas meromantisasi pengalaman sendiri. Justru banyaknya pengalaman orang lain,” jawab Intan saat saya tanya tentang apakah dari karyanya yang sudah diterbitkan ada yang ceritanya diambil dari pengalaman sendiri. Karena tak jarang ada penulis yang membuat tulisan dengan mengangkat kisah atau pengalamannya sendiri. Jawabannya tersebut berujung pada nama-nama tokoh yang Intan pakai dalam karyanya yang ia pilih serampangan.

Ini kali pertama saya mengikuti book signing event sekaligus pertama kalinya pula saya bertemu dengan Intan Paramaditha; salah satu penulis yang saya kagumi. Sungguh pengalaman yang berharga dan tidak terlupakan. Bisa bertemu dengannya tahun ini adalah sebuah momen yang tidak terduga. Salah satu yang saya sesalkan saat mendatangi pre-launch kemarin adalah saya tidak membawa kamera sehingga hasil foto dan video pun hanya seadanya. Penyesalan memang kerap datang belakangan, ya.

Sesi Penandatanganan Buku+Foto Bersama

Saya sempat merekam saat Intan menjawab salah satu pertanyaan dari Theoresia Rumthe mengenai satu bagian penting yang tidak luput diceritakan olehnya. Penuturannya tersebut sekaligus sebagai bocoran mengenai isu yang diangkat dalam novel Gentayangan. Simak rekamannya di sini. Maaf kalau kualitasnya kurang bagus. Maklum saya merekamnya pakai ponsel. 😄

Setelah sesi diskusi dan tanya jawab, event tersebut diakhiri dengan sesi penandatanganan buku Gentayangan (juga karyanya yang lain) dan foto bersama. Gentayangan sepertinya menjadi salah satu novel misteri yang sayang untuk dilewatkan. Saya sendiri sedang gentayangan sejak novel tersebut resmi dirilis dan baru sampai di Desa Cibeurit. Kalau kamu sudah sampai mana atau sudah siap gentayangan belum? 😀

Iklan