Penerbit Inari, Review 2017, Review Buku

[Review] Purple Eyes by Prisca Primasari


Judul Buku: Purple Eyes

Penulis: Prisca Primasari

Penerbit: Penerbit Inari

Cetakan Pertama: Mei 2016

Genre: Fantasi

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-74322-0-8

Halaman: 144 halaman

Harga: Rp36.000,-

Rating: 4.5/5

Sinopsis

“Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.”

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

Review

Fantasi adalah genre yang jarang sekali saya lirik. Bisa jadi Purple Eyes adalah buku fantasi pertama yang saya baca sekaligus kali pertama saya membaca karya Prisca Primasari. Penulis yang juga berprofesi sebagai editor dan penerjemah ini sudah menelurkan banyak buku; menurut Goodreads ada lima belas buku. Karyanya sebelum ini adalah Love Theft #1 dan Love Theft #2. Purple Eyes membuat saya jatuh hati dengan cara penulis dalam menuturkan ceritanya dan berhasil menyentuh rasa penasaran saya akan karyanya yang lain.

“Orang menangis karena kehilangan itu wajar. Yang tidak wajar adalah kalau dia tidak menangis. Lebih tidak wajar lagi kalau tidak merasa sedih.” (Hlm. 50)

“Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.” (Hlm. 78)

Purple Eyes menceritakan tentang seorang laki-laki bernama Ivarr Amundsen yang tinggal di Trondheim, Norwegia, yang tidak bisa merasakan lagi emosi-emosi dalam dirinya setelah kematian adiknya, Nikolai. Kematian Nikolai yang mati secara keji dan tidak manusiawi telah membuatnya mati rasa. Hingga sebulan setelah kematian adiknya pun ia sama sekali belum pernah menumpahkan air mata.

Pembunuh adiknya tersebut masih berkeliaran dan korban-korban lainnya pun mati dengan cara yang sama seperti Nikolai. Dewa Kematian bernama Hades yang melihat hal tersebut tidak bisa tinggal diam. Ia ditemani asistennya, Lyre, akhirnya kembali lagi ke bumi setelah seratus tahun lamanya tidak ‘berkunjung’ ke sana.

Adalah Ivarr Amundsen tujuan Hades―yang menyamar dengan nama Halstein―dan Lyre kembali ke bumi. Tidak seperti tugas-tugas sebelumnya, kali ini Hades melakukan perencanaan yang matang untuk menyelesaikan tugasnya di bumi. Semakin ke belakang saya semakin penasaran dengan rencana-rencana yang disusun Hades dan pembunuh yang menghabisi nyawa Nikolai.

“Selagi Ivarr menatap Solveig, hatinya sekonyong-konyong dirundung perasaan-perasaan baru, meskipun dia tidak menginginkannya. Samar dan sedikit, tetapi bercampur aduk dan cukup membuat tenggorokannya sedikit perih. Kerinduan, kehangatan, kepedihan.” (Hlm. 68)

“Solveig merasakan sesuatu yang tidak asing, yang dia pikir sudah lama dia lupakan. Ketertarikan, perasaan terhipnotis, juga keinginan janggal yang membuat dirinya bersedia untuk bergeser lebih dekat kepada pemuda itu.” (Hlm. 92)

Kerinduan, rasa kehilangan, kesadaran akan sesuatu yang menyakitkan mulai Ivarr rasakan kembali ketika ia melihat lukisan The Scream bersama Solveig—nama samaran Lyre selama berada di bumi. Pertemuan demi pertemuan yang dilalui Ivarr bersama Solveig mampu membuatnya merasakan kembali kehangatan, kerinduan, dan kepedihan yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Hubungan mereka pun menjadi kian dekat dan perlahan timbul perasaan ingin memiliki dan tidak ingin meninggalkan di antara keduanya. Namun, apakah mungkin akhirnya mereka bisa bersama? Mengingat Solveig bukan lagi seorang manusia dan kunjungannya ke bumi tidaklah lama.

Suatu ketika Ivarr menemukan sebuah buku mungil milik Solveig yang tergeletak di karpet. Lantaran amat ingin mengetahui Solveig lebih jauh, ia pun membuka lembar demi lembar buku tersebut. Tanpa diduga ia menemukan sebuah tulisan yang mengejutkan dan seketika memunculkan kengerian dalam dirinya. Tulisan yang juga membuat saya ikut terkejut.

Satu per satu segala pertanyaan yang muncul di kepala terjawab. Terungkaplah siapa pembunuh keji yang menghabisi nyawa Nikolai, penyakit yang diderita Ivarr, dan alasan Ivarr memilih untuk mati rasa. Semua diungkap penulis secara lugas dan jelas. Saya kagum dengan cara Prisca Primasari dalam menuturkan setiap detail cerita. Prisca mampu membawa saya seperti melihat adegan tiap adegan secara langsung. Pun membuat saya ingin tahu seperti apa riset yang ia lakukan yang sudah pasti tidaklah sedikit waktu yang ia habiskan.

Selama membaca Purple Eyes saya menemukan cukup banyak kosa kata baru, seperti menggamit, perkamen, parket, nakas, langkan, mencelus, melesak, dan lain-lain. Banyak pula istilah baru yang saya ketahui dari buku ini. Contohnya grovkake, arti nama Solveig dan Halstein, Thanatos, fossegrim, fiddle, kelpie, elsket og savnet, dan masih banyak istilah lainnya. Kosa kata dan istilah baru yang tentunya sangat menambah pengetahuan saya.

Kekurangan Purple Eyes yakni terdapat kesalahan penulisan pada halaman 46. Di mana tulisan tersebut tidak sama dengan yang tercantum dalam halaman 24; tanggal lahir Nikolai. Juga beberapa typo lain yang masih bisa dimaklumi sehingga tidak mengganggu kenyamanan saya saat membaca. Kekurangan tersebut tertutupi oleh gaya penulisan Prisca Primasari yang sangat enak dibaca dan sederhana. Selain itu, detail-detail tokoh pun setting yang ditunjukkan, dan info mengenai Norwegia dan Inggris juga mitos mistletoe yang disuguhkan menjadi nilai plus dari Purple Eyes.

Ada banyak kalimat quoteable yang saya suka dalam Purple Eyes. Beberapa di antaranya, yaitu:

“Kalau kau tidak suka, jangan memberi harapan. Kau sama saja menyakiti mereka.” (Hlm. 34)

“Terkadang, ada sesuatu yang perlu dikorbankan. Demi tujuan yang lebih baik.” (Hlm. 86)

“Tapi sering kali, lebih baik merasa sakit, daripada tidak bisa merasa sama sekali.” (Hlm. 95)

“Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih.” (Hlm. 117)

“Kalau tidak aneh, namanya bukan cinta.” (Hlm. 122)

“Tidak ada salahnya memiliki harapan, baik ketika hidup maupun setelah mati.” (Hlm. 123)

Jangan tanya adegan apa yang menjadi favorit saya karena saya suka setiap adegan yang ditampilkan penulis, baik ketika Solveig sedang bersama Hades maupun Ivarr. Karena kepribadian keduanya yang amat berbeda. Melalui adegan Solveig-Hades saya bisa merasakan hal-hal menggelikan hati, sedangkan melalui adegan Solveig-Ivarr lebih ke hal-hal romantis, kepedihan, dan kemuraman.

Kalau orang-orang jatuh hatinya sama Hades, lain halnya dengan saya. Saya justru jatuh hati dengan Ivarr Amundsen. Si Patung Lilin yang nyatanya adalah orang yang hangat dan rela melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya. Duh, melihat segala usahanya untuk mengetahui tentang Solveig bahkan dengan keadaannya yang tidak sehat membuat saya kian suka padanya.

Nah, kalau kamu sedang ingin membaca buku yang tidak tebal, tapi padat dan seru, saya amat merekomendasikan Purple Eyes. Selain ceritanya yang seru dan menarik, banyak sekali pengetahuan yang bisa kamu dapat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s