PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2016, Review 2017, Review Buku

[Review] Kumpulan Budak Setan by Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad


img_20170218_184327Judul Buku: Kumpulan Budak Setan

Penulis: Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Kedua: Agustus 2016

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-3364-9

Halaman: 174 halaman

Harga: Rp23.400,- (eBook by SCOOP)

Rating: 4/5

Sinopsis

Kumpulan Budak Setan, kompilasi cerita horor Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, adalah proyek membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif di era 1970-1980-an. Dua belas cerpen di dalamnya mengolah tema-tema khas Abdullah Harahap—balas dendam, seks, pembunuhan—serta motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian.

♥♥♥

Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku. Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar: “Ina Mia?”

(“Riwayat Kesendirian”, Eka Kurniawan)

Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan―lebih mirip terigu menggumpal tersapu air―dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan.

(“Goyang Penasaran”, Intan Paramaditha)

“Duluan mana ayam atau telur,” gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Sekali. Sekali lagi. Lagi. Darah di mana-mana.

(“Hidung Iblis”, Ugoran Prasad)

Review

Kumpulan Budak Setan merupakan proyek yang ditulis oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad yang terinspirasi dari karya Abdullah Harahap sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap beliau; penulis horor populer. Di dalamnya terdapat dua belas cerpen dengan masing-masing empat cerita dari setiap penulis. Tujuh dari dua belas cerpen tersebut sebelumnya pernah dimuat di koran dan majalah beberapa tahun yang lalu. Seperti yang disebutkan di belakang kover, kedua belas cerpen tersebut mengolah beragam tema khas Abdullah Harahap, seperti balas dendam, seks, pembunuhan, motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib seperti jimat, dan lain-lain, dan manusia jadi-jadian.

Berikut sedikit tentang kedua belas cerpen tersebut dan kesan-kesan saya:

– Penjaga Malam

“Lalu aku merasa mendengar kesunyian, betapapun anehnya ungkapan itu bagiku. Tapi benar, aku mendengarnya, suatu bunyi yang kosong, yang berbeda dengan apa pun.” (Hlm. 3)

Tentang Aku yang sedang berjaga malam bersama Karmin, Miso, dan seorang anak bernama Hamid. Waktu pun berlalu dan Karmin yang pergi berkeliling kampung tidak kunjung kembali. Kemudian disusul oleh Miso dan Hamid, yang keduanya pun sama seperti Karmin; menghilang dan tak kembali. Penasaran dengan apa yang menimpa teman-temannya, Aku pun akhirnya memutuskan untuk menyusul mereka. Sayangnya, ia pun bernasib sama seperti Karmin, Miso, dan Hamid.

Cerpen ini tidak membuat bulu kuduk saya berdiri. Tidak berasa horornya. Tetapi, karena cerpen ini saya jadi tahu apa itu bajang. 😀

– Taman Patah Hati

bkpys18hg-e

“Pergilah ke Taman Inokashira dengan kekasih atau istrimu, kamu akan segera menemukan hubungan kalian hancur total.” (Hlm. 13)

Tentang seorang lelaki bernama Ajo Kawir yang begitu memercayai takhayul. Hingga ketika mau mengakhiri pernikahannya dengan Mia Mia pun, ia begitu niat melakukan perjalanan ke Tokyo. Setelah gagal mengakhiri pernikahannya di Candi Prambanan dan Bali, ia merasa perlu mencobanya lagi di Taman Patah Hati. Ajo Kawir merasa menyesal dengan perjanjian yang dulu telah ia lakukan dengan si lelaki tua. Perjanjian yang menjadi alasan di balik keinginannya menyudahi hubungannya dengan Mia Mia.

Cerpen ini membuat saya berpikir, apa betul orang yang memercayai takhayul sampai sebegitunya. Selain itu, ceritanya cukup menarik karena ada hal yang mengejutkan tentang Mia Mia dan ending yang tak terduga.

– Riwayat Kesendirian

“Aku sedang sendirian di dalam rumah ketika aku merasa seseorang menepuk pundakku. Seketika aku menoleh ke belakang, tapi aku tak melihat siapa pun.” (Hlm. 21)

Tentang Aku, seorang lelaki yang bertemu dengan seorang gadis, Ina Mia, dua belas atau tiga belas tahun lalu. Gadis yang dititipkan oleh temannya untuk tinggal sementara di kamar kontrakannya. Waktu berlalu dan cinta pun bersemi di antara mereka. Namun, ada perasaan aneh yang timbul dalam diri Aku. Ia merasa seolah-olah pernah berpacaran dengan Ina Mia. Suatu hari, saat Aku sedang sendirian, ia merasa ada sesuatu yang selalu hadir di sekitarnya. Sesuatu yang dapat ia rasakan keberadaannya, tapi tak bisa dilihatnya.

Cerpen ini meninggalkan sebuah pertanyaan di benak saya. Jadi, siapa sebetulnya sesuatu yang selalu hadir itu? Apakah Ina Mia atau ada sosok lain?

– Jimat Sero

bk22jv9b7wl

“Umurku dua puluh sembilan tahun, dan aku baik-baik saja tanpa jimat sero. Dengan pikiran seperti itu, entah kenapa, aku tetap membawa jimat sero di saku celanaku.” (Hlm. 37)

Tentang Aku yang sewaktu kecil tidak berani berkelahi atau melawan orang yang mengerjainya. Suatu hari, Rohman yang ragu dengan jawaban Aku, memberikan sebuah jimat padanya. Aku pun penasaran apakah jimat itu benar-benar dapat bekerja seperti yang dikatakan Rohman atau tidak. Akhirnya, Aku mencoba mengujinya dengan memancing kemarahan Nasrudin, salah seorang teman kerjanya. Berkat jimat sero yang ada di saku kiri celananya, ia berhasil membuat Nasrudin babak belur. Namun, karena jimat sero pula Aku mengalami suatu keanehan.

Baca ending cerpen ini membuat saya sebal. Sebal di sini maksudnya itu mengejutkan sekali. Saking tidak dapat ditebak, sampai-sampai saya berulang kali dalam hati bilang, “Gila lah. Juara. Ih, ya ampun, ending-nya.” Maklum, saya suka kesal sendiri kalau baca ending yang tidak tertebak, haha.

– Goyang Penasaran

“Sejak peristiwa tujuh belasan, Salimah, si ratu dangdut yang bikin mesum lelaki sekampung, tak pernah lagi mendapat tawaran manggung. Para lelaki penggemar yang dulu mengelu-elukannya tak sedikitpun membelanya, walaupun mereka masih meliriknya dan bersiul-siul bila ia lewat.” (Hlm. 51)

Tentang salah seorang penyanyi dangdut idola bernama Salimah. Sejak peristiwa tujuh belasan, ia tak pernah lagi mendapat tawaran manggung. Dua tahun kemudian di kampung muncul seorang perempuan berjilbab dengan wajah kuyu yang ternyata adalah Salimah. Ia pun kemudian menjadi bahan perbincangan orang tentang penampilannya yang tak lagi sama seperti dulu. Ada seorang lelaki bernama Solihin yang dulu rajin memberinya hadiah. Bisa dibilang ia amat tergila-gila pada Salimah. Sampai Salimah telah berubah penampilannya pun, ia masih ingin memperistrinya. Singkat cerita, Salimah memenuhi tawaran dari Solihin yang membawa Haji Ahmad menuju ke kematian. Kejadian tragis yang menimpa ketiganya pun tak terelakkan.

Cerita yang menarik, seru, dan tidak biasa. Saya suka dengan cara penulis menggambarkan setiap kejadian yang dialami para tokohnya. Juga gaya bahasanya yang sederhana, namun mampu menghanyutkan pembaca ke dalam cerita.

– Apel dan Pisau

1475793936864

“Aku menekuni apel Cik Juli yang berada di hadapanku. Merah, bulat, dan ranum. Dan permukaan pisau tajam itu berkilat-kilat memantulkan bayangan. Wajahkukah itu?” (Hlm. 67)

Bercerita tentang seorang perempuan bernama Cik Juli yang selalu menjadi bahan perbincangan bibi-bibi serta adik iparnya. Suatu ketika muncul berita besar tentang Cik Juli yang ketahuan menjalin hubungan dengan seorang pemuda yang indekos di rumahnya. Seolah Cik Juli mengetahui seluruh perbincangan di belakangnya, ia mengundang perempuan-perempuan dalam keluarga besar suaminya untuk datang ke rumahnya. Saat itulah kejadian aneh menimpa keluarga suaminya.

Cerpen ini membuat saya berpikir bahwa menakutkan juga bila ada orang seperti Cik Juli; baik, namun diam-diam bisa melakukan hal di luar dugaan tanpa adanya kecurigaan.

– Pintu

bll1issbjb2

“Kamu mungkin perlu ingat satu tip berwisata. Apa pun yang terjadi, jangan pernah jatuh cinta.” (Hlm. 81)

Mengisahkan seorang lelaki bernama Bambang yang mati mengenaskan di mobil kesayangannya sendiri. Kematian tersebut menguak rahasia-rahasia istrinya yang bernama Ratri, pelayan spesial Ratri bernama Jamal yang terus penasaran oleh pintu, dan Bambang sendiri. Rahasia-rahasia tak terduga yang akan mengejutkan pembaca.

Ceritanya tidak dapat diduga sama sekali. Makin ke belakang banyak kejutan yang akan ditemukan. Cerpen ini adalah cerpen ketiga yang jadi favorit saya.

– Si Manis dan Lelaki Ketujuh

1481417684068

“Tepat setelah kububuhkan tanda tanganku, ia memutar kursi hitamnya, menatapku lurus. Sekonyong-konyong kurasakan tulang-tulangku rontok, berserakan tanpa ampun. Di hadapanku tak kujumpai si Manis, melainkan sebuah kekejian yang siap menelanku bulat-bulat.” (Hlm. 93)

Tentang seorang laki-laki yang putus asa karena tak ada perusahaan yang mau menerimanya sebagai pegawai. Suatu ketika, ia mendengar sebuah kabar di mana ada seorang janda pengusaha kaya yang sedang mencari seseorang yang bisa membantu proyek bisnisnya. Tak disangka, pekerjaan yang ditawarkan adalah pekerjaan yang tidak umum dan mampu mengoyak-ngoyak harga dirinya. Pekerjaan yang membuat dirinya mengalami perubahan dan malah menikmati pekerjaan tersebut.

Cerpen yang paling seru dan terpanjang dibanding tiga cerpen Intan Paramaditha lainnya. Ceritanya tidak biasa dan baru baca prolognya saja sudah bikin penasaran. Dalam hati, saya sempat beberapa kali berkata-kata kasar saking uniknya cerita yang dipaparkan. Cerpen ini jadi cerpen keempat favorit saya.

– Penjaga Bioskop

“Sejak malam itu Maria selalu terbayang-bayang di kepala Rusdi. Setiap malam Rusdi pasti menunggu, berdiri di depan pintu masuk, menyobek karcis penonton sambil berharap penonton berikut yang menyodorkan tangannya adalah Maria.” (Hlm. 116)

Tentang seorang penjaga bioskop bernama Rusdi yang mengenal seorang wanita bernama Maria ketika di malam pembukaan bioskop. Ia terus-menerus menanti dan mengharapkan Maria datang lagi. Suatu ketika Rusdi ditemukan tewas dengan tidak wajar di kamarnya. Kematian yang akhirnya menguak misteri dari mana burung-burung gereja yang bersarang di bioskop itu berasal.

Cerita menarik dengan ending yang mengejutkan.

– Hantu Nancy

img_20170106_113721-01

“Lupa rupa-rupanya bukan suatu cara bertahan yang bisa diwujudkan sekenanya, gotong royong dibutuhkan agar semuanya berjalan sesuai rencana.” (Hlm. 133)

Tentang arwah penasaran seorang pemilik salon di Kebon Sawah bernama Nancy. Ia mati dengan cara keji. Arwahnya pun menjadi penasaran dan memburu orang-orang yang telah membunuhnya, termasuk dalang di balik pembunuhannya.

Dalam cerpen ini pembaca akan menemukan kebenaran-kebenaran yang tidak terduga dari lurah bernama Sudirja, dan kaki tangan Leman yang bernama Zulfikar. Penggambaran pembantaian yang dialami Nancy betul-betul keji dan bikin merinding.

– Topeng Darah

“Sesuatu memaksa Iskandar untuk memperhatikan topeng itu dengan cermat dan semakin lama ia melihatnya, perlahan-lahan, entah datang dari mana, semakin ia diliputi ngeri.” (Hlm. 137)

Tentang seorang lelaki bernama Iskandar yang membaca sebuah iklan penawaran benda antik di koran. Ia kemudian menyadari bahwa terdapat kejanggalan dalam iklan tersebut. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya, ia pun menghubungi pemasang iklan yang mempertemukannya dengan pemilik topeng. Kejadian-kejadian ganjil yang dilakukan Iskandar bermula dari sana, dan pemicunya adalah sepotong pecahan topeng dari abad 9 masehi. Sebuah topeng yang memberikan dampak yang begitu menyeramkan dan mengubah pemakainya menjadi seseorang yang berbeda.

Cerpen paling ‘panas’, buas, dan menegangkan dibanding tiga cerpen Ugoran Prasad lainnya. Penyiksaannya lebih keji daripada pembunuhan dalam cerpen Hantu Nancy. Betapa penggambarannya terasa sangat nyata. Cerpen ini jadi cerpen keenam favorit saya.

– Hidung Iblis

“Mereka, orang-orang yang kubunuh, budak-budak iblis. Seandainya kau bisa melihat tanda iblis di wajah mereka. Kau pasti segera bersepakat pada beberapa hal. Pengusaha, pengacara, birokrat, aparat hukum, mereka sumber kejahatan paling mengerikan di atas bumi.” (Hlm. 163)

Tentang seorang lelaki bernama Sujatmoko yang cinta mati pada perempuan bernama Mirna. Saking cintanya pada Mirna, ia melindungi Mirna dari para lelaki budak iblis dengan caranya sendiri. Suatu ketika ia merasa satu-satunya cara untuk menyelamatkan cintanya pada Mirna adalah dengan memutuskan lingkaran iblis. Sayangnya, ia tak berhasil dan malah menjadi korban dari rencananya sendiri.

Cerpen dengan ending yang tidak mudah ditebak. Saya bisa merasakan betapa besar cinta Sujatmoko pada Mirna. Meski tidak sehoror dua cerpen sebelumnya, namun penulis tetap menyajikan cerita yang seru.

Ada enam cerpen yang menjadi favorit saya, yaitu Taman Patah Hati, Jimat Sero, Pintu, Si Manis dan Lelaki Ketujuh, Hantu Nancy, dan Topeng Darah. Menurut saya, keenam cerpen tersebut adalah cerpen yang paling seru, menarik, membuat saya terkesan, dan terasa horornya. Cukup banyak typo yang saya temukan di beberapa cerpen. Meski begitu, tidak mengurangi kenyamanan saya saat membaca. Membaca keseluruhan cerpen dalam buku ini membuat saya bertanya-tanya tentang kebenaran takhayul, jimat, arwah penasaran, manusia jadi-jadian, dan hal-hal gaib lainnya. Tentunya juga membuat saya kagum dengan ide cerita para penulis yang menakjubkan. Karena menurut saya membuat cerita horor yang tidak biasa dan mampu membuat pembaca ikut merasakan kekejian yang dilakukan para tokohnya tidaklah mudah. Buku ini mampu mengubah pandangan pembaca bahwa horor tidak melulu diidentikkan dengan hantu. Kumpulan Budak Setan adalah bacaan menarik dan seru yang bisa membuat pembaca terheran-heran dan puas dengan ceritanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s