[Review] Cerita Calon Arang by Pramoedya Ananta Toer


15048103_1019726544805818_6305898003626459136_nJudul Buku: Cerita Calon Arang

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara

Cetakan 5: Februari 2010

Bahasa: Indonesia

ISBN: 979-97312-10-5

Halaman: 96 halaman

Rating: 5/5

Sinopsis

Cerita Calon Arang bertutur tentang kehidupan seorang perempuan tua yang jahat. Pemilik teluh hitam dan penghisap darah manusia. Ia pongah. Semua-mua lawan politiknya dibabatnya. Yang mengkritik dihabisinya. Ia senang menganiaya sesama manusia, membunuh, merampas dan menyakiti. Ia punya banyak ilmu ajaib untuk membunuh orang… murid-muridnya dipaksa berkeramas dengan darah manusia. Kalau sedang berpesta, mereka tak ubahnya sekawanan binatang buas, takut orang melihatnya.

Tapi kejahatan ini pada akhirnya bisa ditumpas di tangan jejari kebaikan dalam operai terpadu yang dipimpin Empu BAradah. Empu ini bisa mengembalikan kehidupan masyarakat yang gonjang-ganjing ke jalan yang benar sehingga hidup bisa lebih baik dan lebih tenang, tidak buat permainan segala macam kejahatan.

Review

Baru kali ini saya ‘berkenalan’ dengan Pramoedya Ananta Toer, tepatnya ‘mencicipi’ salah satu karyanya. Ya, Cerita Calon Arang adalah karya beliau yang saya baca pertama kali, sekaligus membikin saya ingin membaca karyanya yang lain. Saya penasaran dan ingin tahu bagaimana cara beliau menyampaikan pemikirannya ke dalam sebuah tulisan. Tentu berbeda bila penyampaian yang beliau gunakan bukan dengan cara mendongeng. Karena dalam buku ini beliau menuturkan kisah Calon Arang dengan cara mendongeng. Koreksi saya kalau salah. Seperti yang diucapkan penulis pada bagian pengantar bahwa buku ini disusun sebagai buku kanak-kanak, agar bisa membangkitkan cerita lama pada mereka.

Buku ini berkisah tentang Negara Daha yang aman dan makmur di zaman raja Erlangga, namun keadaan tersebut segera berubah karena tersiar berita bahwa akan ada musuh yang datang. Ada salah satu dusun bernama Dusun Girah di sana, dan tinggal seorang janda bernama Calon Arang yang memiliki kelakuan buruk dan ditakuti semua orang. Tak ada satupun orang yang berani padanya. Ia memiliki seorang anak perempuan yang cantik bernama Ratna Manggali. Meski cantik, tetapi tidak ada satupun lelaki yang berani memperistrinya. Akibat kelakuan Calon Arang tersebut, Ratna pun menjadi bahan perbincangan orang-orang dan tidak ada yang berani mendekatinya. Ketika ia tahu anaknya jadi buah percakapan, ia marah besar. Bersama beberapa muridnya yang terkemuka ia pun pergi ke Candi Durga demi memohon izin kepada Dewi Durga untuk membunuh orang banyak. Penduduk Dusun Girah semakin takut dengan Calon Arang. Ia tak segan-segannya memberikan teluh pada orang yang mengganggu dirinya maupun murid-muridnya.

Suatu ketika, Sri Baginda Erlangga mengutus Pasukan Balatentara Raja ke Desa Girah untuk membunuh Calon Arang. Namun, usaha tersebut sia-sia belaka. Baginda pun memuja pada dewanya agar diberi petunjuk untuk memberantas penyakit yang disebarkan oleh Calon Arang. Melihat hal tersebut, Calon Arang kembali melakukan perundingan bersama kelima muridnya, dan kembali meminta izin untuk membuat penyakit besar-besaran pada Dewi Durga. Sri Baginda kemudian memerintahkan Kanduruan untuk bersikap hormat, dan menyampaikan perintahnya pada Empu Baradah untuk pergi ke Daha dengan tujuan membatalkan teluh Calon Arang.

Empu Baradah adalah orang yang pandai, banyak belajar, senang menolong orang, dan sangat taat pada agamanya. Ia tinggal di Dusun Lemah Tulis dan memiliki istri dan seorang putri yang cantik bernama Wedawati. Tak lama setelah ditinggal pergi istrinya, Embu Baradah menikah lagi dan memperoleh seorang putra. Sayangnya, sikap istri kedua Empu Baradah tidaklah baik terhadap Wedawati hingga membuatnya meninggalkan asrama. Wedawati sempat kembali ke asrama setelah dijemput oleh Empu Baradah. Tak lama waktu berselang, Wedawati diusir oleh ibu barunya. Ia pun akhirnya memilih untuk tinggal di kuburan saja bersama ibunya. Empu Baradah yang tak tega melihat anaknya menetap di sana, meminta orang-orang untuk mendirikan sebuah rumah di pekarangan kuburan. Beberapa bulan setelah Wedawati tinggal di sana, pekuburan tersebut pun berubah jadi taman bunga yang indah. Singkat cerita, rahasia Calon Arang akhirnya diketahui oleh Empu Baradah atas bantuan Empu Bahula, suami Ratna Manggali. Lalu, apa yang terjadi dengan Calon Arang? Silakan baca saja bukunya, hehe.

Saya suka dengan cara mendongengnya Pram yang mampu menghipnotis pembaca ke dalam cerita. Saya jadi merasa seolah-olah ada pada saat kejadian tersebut terjadi. Baca pengantar penulisnya pun saya sudah mendapat ilmu baru, seperti asal nama Blora dan sedikit tentang Empu Baradah. Ada pula beberapa kosa kata yang terasa asing buat saya, yang tentunya menambah pengetahuan; menandak, terompah, bersitinjak, mengasoh, azimat, diruyaki, mencancang, samadi, tumpaki. Membuat saya mesti membuka kamus untuk mengetahui artinya. Menyenangkan. Cerita Calon Arang adalah dongeng yang di dalamnya terkandung beberapa pesan hidup dan menarik untuk dibaca bagi siapa saja.

NB: Ulasan ini untuk tantangan BACA Reading Challenge week 3 kategori Buku Sejarah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s