BACA Reading Challenge, Review 2016, Review Buku, Selasar Surabaya Publishing

[Review] Tragedi Hidup Manusia by John Steinbeck


14883632_926069860870357_8830704892636203619_oJudul Asli: Of Mice and Men

Judul Terjemahan: Tragedi Hidup Manusia

Penulis: John Steinbeck

Penerjemah: Shita Athiya

Penerbit: Selasar Surabaya Publishing

Cetakan 1: September 2011

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-25-9413-3

Halaman: 150 halaman

Harga: Rp24.000,-

Rating: 4/5

Sinopsis

Berusahalah memahami masing-masing manusia, karena dengan memahami satu sama lain. kalian bisa bersikap baik satu sama lain. Mengenal baik seorang manusia tak pernah berakhir dengan membencinya dan nyaris selalu menjadi mencintainya.

 ̶  John Steinbeck, 1938

Realitas tragis tentang perjuangan hidup manusia yang berusaha keras meraih impian di antara sekian banyak keterbatasan. Dituturkan oleh penulis humanis untuk merayakan kapasitas manusia yang telah terbukti atas kebesaran hati dan semangat membara atas jiwa ksatria saat dikalahkan, atas keberanian, kasih sayang, dan cinta.

Bacaan wajib bagi siapa pun.

Review

Ini kali pertama saya membaca karya John Steinbeck dan tidak mengecewakan, meskipun ending-nya mengesalkan, haha. John Steinbeck adalah seorang penulis yang telah menulis 27 buku, termasuk 16 novel, enam buku nonfiksi, dan lima kumpulan cerpen. Ia juga pernah meraih Penghargaan Nobel untuk Kesusastraan pada tahun 1962. Membaca buku ini membuat saya tergiur untuk mencicipi buku yang dinilai sebagai karya terbaiknya, The Grapes of Wrath (1939), yang telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor Indonesia dengan judul Amarah. *kode :-D*

“Apa pun yang kita tak punya, tepat itulah yang kau mau.”  ̶  Halaman 14

“Tak perlu otak untuk menjadi orang yang baik. Kelihatan bagiku kadang-kadang tepat terjadi sebaliknya. Lihat saja orang yang benar-benar pintar dan biasanya hampir tak pernah jadi orang baik.”  ̶  Halaman 54

Buku ini menceritakan tentang persahabatan dua orang lelaki bernama George dan Lennie. George adalah lelaki yang memiliki badan kecil dan cukup pintar, sedangkan Lennie adalah lelaki bertubuh besar yang tidak bisa membedakan mana benar dan salah, tidak bisa mengendalikan diri ketika emosi menguasainya, dan bertingkah seperti anak-anak. Meski terkadang George suka merasa kesal dengan sikap Lennie dan sering membikin masalah, namun baginya Lennie tetaplah seorang teman yang baik. Pun George selalu berusaha menjaga Lennie agar tidak ada lagi kejadian yang tak diinginkan seperti saat bekerja di Weed dulu. Ia kerap kali menasihati Lennie untuk tidak melakukan dan berbicara hal-hal yang bisa menimbulkan masalah.

“Tentu saja Lennie luar biasa mengganggu hampir sepanjang waktu. Tapi kalau kau sudah terbiasa bepergian bersama seorang kawan, maka kau tak bisa mengusirnya.”  ̶  Halaman 55

“Siapa pun bisa sinting kalau tidak punya orang dekat. Tak peduli separah apa pun orangnya, asalkan ia selalu ada untukmu.”  ̶  Halaman 98

George adalah seorang lelaki yang tak bisa tanpa kawan bila berkelana, pengertian, juga amat memahami Lennie. Ia terbiasa bersenang-senang dengan Lennie. Walau ketika dalam perjalanan ke sebuah pertanian mereka sempat berselisih karena masalah tikus, dan Lennie hendak pergi ke perbukitan, namun George menahannya untuk tetap tinggal bersamanya. Ia merasa jadi sinting dan tidak tenang bila tidak bersama dengan Lennie.

“Mereka semua duduk diam, semuanya terbengong oleh keindahan tersebut, setiap pikiran menyeruak ke masa depan saat terwujudnya cita-cita indah itu.”  ̶  halaman 81

George dan Lennie saling mengisi satu sama lain. Mereka juga memiliki mimpi yang sama, yaitu punya tempat kecil dan hidup dari mengolah tanah. Mereka hanya ingin hidup bebas; pergi tanpa perlu meminta izin, menikmati hasil olahannya sendiri. Candy yang sedang tidur di dipannya mendengar apa yang dibicarakan George dan Lennie. Ia merasa tertarik saat mendengar cerita tentang tempat kecil itu. Candy bersedia memberikan semua uangnya kepada George dan Lennie untuk menambah biaya membeli tempat tersebut. Singkat cerita, terjadi hal yang tidak diinginkan. Lennie lagi-lagi melakukan kesalahan besar ketika semua penghuni pertanian pergi ke kota. Kesalahan yang membuatnya bersembunyi ke semak-semak, dan membuat George terpaksa melakukan sesuatu terhadap Lennie. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh saya selama membaca buku ini.

Kisah yang diceritakan sebetulnya sangat sederhana, namun penulis mampu membawa pembaca merasakan hal-hal yang dialami oleh para tokohnya. Terlebih membuat saya geregetan dengan ending yang diberikan sampai-sampai mengeluarkan kata kasar. Meski terdapat satu-dua typo, tapi tidak mengganggu kenyamanan selama baca. Terjemahannya pun tidak sulit untuk dipahami. Secara garis besar, cerita dalam buku ini mendeskripsikan kesepian yang dirasakan beberapa tokohnya. Juga mengisahkan tentang persahabatan di antara dua orang yang amat berbeda, baik dari segi fisik maupun mental. Saya bisa mengambil banyak pelajaran dari karakter masing-masing tokohnya pun ceritanya. Melalui kisah George dan Lennie, penulis seperti ingin menyampaikan pada pembaca bahwa suatu keadaan bisa memaksa seseorang untuk melakukan hal yang tidak disangka-sangka. Juga memiliki seorang teman yang buruk jauh lebih baik daripada sendirian. Buku tipis, menarik, dan bagus yang sarat akan makna kehidupan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s