[Review] Bagai Bumi Berhenti Berputar by Clara Ng


JPEG_20160904_133304_1572399268Judul Buku: Bagai Bumi Berhenti Berputar

Penulis: Clara Ng

Ilustrasi: Emte

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Kedua: Oktober 2015

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-22-7884-2

Halaman: 124 halaman

Harga Resmi: Rp 120.000,-

Harga Diskon: Rp 102.000,-

Peresensi: Launa Rissadia

Rating: 4/5

Sinopsis

Apakah arti mati? Mengapa kakak tidak dapat berjalan? Mengapa Mama berpisah dengan Papa? Mengapa adik harus dirawat di rumah sakit? Kenapa aku harus pindah rumah ke tempat yang asing?

Anak-anak tidak lepas dari emosi negatif, seperti duka, shock, sedih, dan malu. Peristiwa yang menguras emosi bisa saja terjadi di dalam keluarga mana pun. Sebagai orangtua kita tak boleh mengabaikannya, menganggap peristiwa yang sangat emosional ini sebagai hal yang harus ditutupi, tak perlu diungkapkan atau dibesar-besarkan. Orangtua wajib memberikan sandaran dan dukungan bagi mereka.

Buku ini membantu anak-anak memahami perasaan mereka; membantu mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian. Buku ini juga menolong anak-anak berempati kepada anak-anak lain yang kebetulan sedang mengalami peristiwa menyedihkan di keluarganya.

Mari baca dan satukan hati bersama si kecil.

Bacaan tepat untuk anak berusia 7+ tahun

BO: Bimbingan Orangtua

Review

Entah ini kali keberapa saya membaca karyanya Clara Ng. Saya tidak pernah tidak suka dengan karya beliau. Karyanya selalu menarik untuk dibaca, termasuk buku anak yang ditulisnya. Buku anak ini berisi lima cerita, di mana masing-masing cerita memiliki pesannya sendiri. Berikut kelima cerita tersebut:

Melihat pohon harapanku tumbuh subur, demikian juga harapan yang ada di hatiku. Aku yakin suatu hari Adik akan benar-benar sembuh.” – halaman 26

Cerita Pohon Harapan: tentang seorang kakak yang amat menyayangi adiknya dan tidak ingin kehilangan adiknya. Ia tak henti-hentinya berdoa dan berharap agar adiknya lekas sembuh dari penyakit kanker. Melalui cerita ini, Clara mengajarkan anak-anak untuk selalu optimis dan berdoa ketika ada saudara yang sedang sakit.

Teman adalah harta karun yang tidak ternilai.” – halaman 45

Cerita Seribu Sahabat Selamanya: tentang ketakutan dan kekhawatiran seorang anak akan sahabat dan hal lainnya, apabila ikut ayahnya pindah ke luar negeri. Di sini Clara mengajarkan untuk tidak menduga-duga dan memikirkan hal yang belum tentu terjadi.

Bunda tidak akan pernah kembali lagi. Yang bisa kita lakukan adalah mengenang semua kebaikan hati Bunda, mengenang kegembiraan yang diciptakan Bunda di keluarga kita.” – halaman 66

Cerita Kerlip Bintang di Langit: tentang perasaan yang dialami oleh seorang anak ketika telah ditinggal pergi ibunya. Cerita ini mengajarkan untuk selalu tabah dalam situasi apa pun, termasuk saat orang yang paling disayangi dipanggil oleh Tuhan. Pun untuk tidak terus-terusan larut dalam kesedihan.

Tapi percayalah, Donna, biarpun Ibu dan Ayah tidak saling mencintai lagi sebagai suami-istri, kami akan tetap berhubungan sebagai orangtuamu, saling menyayangi dan memerhatikan kamu dan Daniel.” – halaman 87

Cerita Jangan Lupa Aku Mencintaimu: tentang ketakutan seorang anak ketika mendengar orangtuanya bertengkar. Juga kesedihan yang dialami Donna saat tahu orangtuanya akan berpisah. Cerita ini mengajarkan apa pun yang terjadi di antara orangtua, sekalipun itu perpisahan, tidak akan mengurangi perhatian dan cintanya kepada anak-anaknya.

Sayang, Reza memandangi Kak Mila karena dia ingin tahu kenapa Kak Mila berbeda dengan anak-anak lain. Reza bertanya-tanya dalam hati tentang cacat Kak Mila. Ini seperti pelajaran sains.” – halaman 115

Cerita Yang Paling Istimewa: tentang seorang adik yang malu memiliki seorang kakak yang mempunyai kekurangan fisik. Ia tidak mau kakaknya dipandangi seperti orang aneh oleh orang lain. Di sini anak-anak diajarkan untuk tidak memandang sebelah mata terhadap orang-orang yang memiliki fisik ‘berbeda’. Terlebih kepada saudara sendiri.

Bahasa yang digunakan Clara sederhana dan sangat mudah dipahami sehingga anak-anak tidak akan kesulitan dalam menangkap isi ceritanya. Saya tidak menemukan adanya typo di sini. Jadi membacanya pun enak dan tidak merasa terganggu. Dari sisi cerita,  hanya satu yang kurang dari buku ini yakni cerita yang disajikan kurang banyak, haha. Saya merasa kurang puas karena tahu-tahu sudah selesai saja. 😀 Cerita dan ilustrasinya pas sekaligus mampu menghanyutkan saya ke dalam cerita.

Ilustrasi dalam setiap cerita amat manis dan begitu memanjakan mata. Sentuhan anak-anaknya terasa sekali. Ditambah di bagian ketika sang tokoh sedang sedih, gambar ornamen lainnya (pot, binatang, dan lain-lain) pun ikut dibikin sedih. Paling favorit gambarnya tokoh Yuli. Ya ampun, lucu sekali! Gambarnya menggemaskan. Sayangnya, menurut saya, ada tiga ilustrasi yang tidak pas dengan deskripsi cerita. Pertama, di cerita pertama ketika Kakak sedang bersama Adiknya. Harusnya Ia memeluk Adiknya, namun di gambar justru merangkul pundaknya. Kedua, di cerita ketiga saat adegan melihat langit. Ayah Pipi tidak menggenggam tangan Pipi, melainkan (sepertinya) menaruh tangannya di pundak Pipi. Ketiga, di cerita keempat saat Donna memeluk Ayahnya. Semestinya Donna memeluk pinggangnya, tetapi di gambar malah memeluk bahu sang Ayah. Saya tidak paham apakah sebetulnya ilustrasi itu harus sesuai dengan cerita atau memang diperbolehkan untuk tidak sesuai. Meski begitu, saya selalu suka dengan gambar-gambarnya Emte.

Dalam buku untuk anak berusia 7+ tahun ini, digambarkan bagaimana hubungan antara orangtua dan anak, hubungan kakak-adik, peran orangtua dan keluarga terhadap anak, nasihat-nasihat yang diberikan seorang ayah pada anaknya, juga cara orangtua menghibur dan memberikan pengertian pada anaknya ketika sedang sedih, shock, malu. Cerita yang simpel, namun bernas dan menyiratkan banyak pesan di dalamnya. Semua orang pasti pernah berada di posisi sang anak pun (akan ada di posisi) orangtua. Keseluruhan cerita dalam buku ini mengajarkan anak-anak untuk berempati kepada orang lain. Buku yang sangat bagus dan patut dibacakan ke anak-anak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s