[Review] 3 (Alif Lam Mim) – Tiga Sahabat, Tiga Pilihan Hidup by Primadonna Angela


ID_GPU2015MTH10FKSAU_B

Cr: scoop.id

Judul Buku: 3 (Alif Lam Mim)

Penulis: Primadonna Angela

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: September 2015

Bahasa: Indonesia

Tebal: 232 halaman

ISBN: 978-602-03-2094-6

Harga Resmi: Rp 55.000,-

Harga Diskon: Rp 44.000,-

Peresensi: Launa Rissadia

Rating: 4/5

Sinopsis

Novelisasi film 3 karya Sutradara Anggy Umbara.

Alif, Lam, dan Mim. Tiga sahabat seperguruan yang menjalani hidup berbeda sejak Indonesia menjadi negara liberal. Alif teguh sebagai penegak hukum. Lam berkarier sebagai wartawan, memaparkan kebenaran sebagaimana yang dilihatnya. Mim tetap setia di padepokan, meski Indonesia mencurigai mereka yang beragama.

Satu demi satu konflik bergulir. Dalam situasi genting, garis antara kawan dan lawan mengabur, dan mereka bertiga harus terus berjuang demi negara, keluarga, dan sahabat yang mereka sayangi…

Review

Buku ini merupakan novel yang diadaptasi oleh Primadonna Angela dari film berjudul sama karya sutradara Anggy Umbara. Buku 3 menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di Jakarta pada tahun 2034. Di mana agama mulai ditinggalkan karena dianggap memicu kekerasan dan menghalangi kebebasan. Pun dianggap membatasi ideologi dan menjadikan penganutnya fanatik sekaligus hanya menganggap diri mereka yang benar. Agama tidak lagi dianggap perlu oleh Negara dan sila kesatu Pancasila telah dimusnahkan. Pada tahun tersebut pula kisah tiga sahabat, yaitu Alif, Lam dan Mim dimulai.

Ketika semua padepokan bela diri di Nusantara ditutup, dan ketika guru mereka yaitu Astaroth pergi meninggalkan padepokan, Alif, Lam dan Mim memiliki keputusannya masing-masing mengenai masa depan. Alif yang ingin negara menjadi aman dan damai memutuskan untuk menjadi penegak hukum. Lam yang ingin masa depan yang lebih baik memutuskan untuk menyebarkan kebenaran dengan cara menulis tentang kebenaran. Dan Mim yang ingin mati dalam keadaan husnulkhatimah memutuskan untuk mondok di sekolah KH Mukhlis. Ia ingin menyebarkan kebaikan melalui agama.

Bagian Pertama: Alif – punya banyak misi, salah satunya menangkap Big Boss Mafia, Mr. Sunyoto

“Semua tak selalu berjalan sesuai keinginan. Begitulah kehidupan.” – Hlm. 35

Alif yang seorang pemimpin diharuskan berani untuk menegakkan kebenaran. Seorang Letnan yang idealis, ambisius, memiliki kemampuan bela diri dan reputasi yang hebat. Alif adalah seseorang yang begitu patuh dan taat pada peraturan, meski dalam hatinya ia merasa bahwa peraturan yang dikeluarkan oleh atasannya di markas besar kepolisian, berkenaan dengan melarang penggunaan peluru besi dan menggantinya dengan penggunaan peluru karet, kurang tepat.

Dalam misinya menangkap Big Boss Mafia, sesuatu telah terjadi dan menyebabkan dirinya menjadi seorang terdakwa sekaligus korban sebuah jebakan. Entah atas dasar apa orang tersebut menjebaknya. Dengan bantuan salah satu sahabatnya yang berprofesi sebagai jurnalis yaitu Herlam, Alif mencoba mencari tahu siapa Big Boss itu dan keluarganya. Telah banyak orang-orang yang menjadi korban dalam misinya selama ini. Meski begitu, Alif masih memiliki nurani dan ia mempunyai caranya sendiri untuk tetap waras. Melalui Herlam, ia selalu berusaha mencari tahu info mengenai keluarga dari para korban.

Foto-foto keluarga orang-orang yang menjadi korban misinya selalu ia tempelkan ke dinding. Ketika Alif melihat salah satu foto dari tumpukan foto yang ada, ia tertegun ketika melihat foto tersebut. Alif mengenali wajah itu. Wajah dari istri salah satu kriminal yang menjadi korban misinya. Perempuan itu bernama Laras. Dulu saat Alif masih jauh lebih muda, Laras pernah menjadi kekasihnya. Dua belas tahun Alif tidak pernah sekalipun memperoleh kabar dari Laras. Dua belas tahun pula perasaannya pada Laras masih bertahan dalam dirinya.

Sayangnya, kebahagiaannya bertemu kembali dengan Laras tak berlangsung lama. Sesuatu terjadi di kafe tempat Laras bekerja. Kejadian di mana setitik harapan yang mungkin membuat Alif bahagia, seketika sirna. Dan Alif benar-benar tak menyangka dalang di balik kejadian hebat tersebut.

Bagian Kedua: Lam – mencari motif dari kasus pengeboman di Candi Cafe

“Hanya dalam waktu satu hari, apa pun bisa terjadi…” – Hlm. 119

Herlam atau yang biasa dipanggil Lam adalah seorang jurnalis Libernesia TV yang tetap bisa memegang prinsip sekaligus baik hati dan pemurah pada sesama. Lam memiliki seorang istri bernama Gendis dan seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun bernama Gilang. Gilang memiliki sifat yang menurun dari Herlam. Cerdas, kritis, rajin beribadah dan selalu berusaha adil dalam menilai mana yang benar maupun yang kelihatannya benar.

Dalam menangani suatu kasus, sebagai seorang jurnalis yang jujur, Lam tidak mau bila disuruh membuat sebuah tulisan yang tidak berdasarkan fakta. Chandra, atasan Herlam, menganggap selama Herlam masih salat, Herlam tidak bisa objektif dalam mengusut kasus teroris. Lam selalu dikirimkan ke daerah lain agar tidak bisa mengusut kasus tersebut dan menyelidiki kejanggalan-kejanggalan yang ada. Libernesia ingin pernyataan yang dikeluarkan sama dengan pernyataan dari Polda. Dan hal ini bertentangan dengan Herlam.

Suatu ketika ada seorang perempuan, salah satu korban pengeboman di Candi Cafe, yang dengan sengaja memberikan sebuah flashdrive kepada Herlam. Seorang perempuan yang dikenalnya dan Lam tidak menyangka bahwa perempuan itu masih hidup.

Sesuatu yang tidak beres terjadi di hari di mana Herlam resign. Draf artikel tentang pengeboman Candi Cafe yang dibuatnya telah tersebar ke mana-mana. Tak hanya teman kantornya, Reza, yang telah menuduhnya nge-spam, tetapi juga Alif. Seseorang telah meretas server pribadinya. Herlam pun menyelidikinya dan seketika itu juga ia dibuat terkejut oleh satu dokumen yang dibacanya. Di hari yang sama sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya, sesuatu yang buruk, terjadi. Pun menimpa dua orang yang paling disayanginya, yaitu Gendis dan Gilang.

Bagian Ketiga: Mim – tetap setia melindungi pondokan pesantrennya meskipun ia dan para santri lainnya dianggap sebagai teroris

“Dalam berjihad, ada banyak cara. Banyak yang bisa kita lakukan untuk menyebarkan kebaikan kepada sesama.” – Hlm. 144

Mimbo adalah seorang santri yang begitu tunduk pada Tuhannya dan mengerahkan seluruh hidupnya untuk berjihad. Berjihad menurut caranya sendiri, bukan dengan kekerasan. Namun, buruknya adalah para penegak hukum dan negara beranggapan bahwa mereka yang beragama identik dengan kekerasan dan teroris. Penegak hukum menganggap keberadaan para santri membahayakan keamanan rakyat dan negara.

Ketika pasukan khusus yang dipimpin oleh Bima ‘mengunjungi’ pondok pesantren Al-Ikhlas, usaha mereka untuk menangkap Mim sama sekali tidak berhasil. Mim dengan seni bela dirinya yang enggak kalah hebat seperti Alif berhasil mengalahkan Bima dan melumpuhkan para anggota pasukannya.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Seringkali kita baru menyadari sudah mengambil pilihan atau keputusan yang salah di kemudian hari. Hal ini terjadi pada Laras. Ia merasa telah terjerumus dalam hal yang kini membuatnya merasa berdosa dan tak ada tempat baginya untuk melarikan diri.

Amarah Alif memuncak ketika mengetahui yang sebenarnya dari Kolonel Mason berkenaan dengan pengeboman Candi Cafe. Sama seperti Alif, Lam dibuat terkejut ketika akhirnya ia mengetahui orang yang membunuh Gendis. Hal yang sama juga terjadi pada Mim. Ketika ia dan Kyai Mukhlis hendak keluar dari tempat konferensi pers berlangsung, ia kaget dengan kemunculan sosok yang sudah lama menghilang berdiri tepat di hadapannya.

Setelah membaca habis buku ini saya baru bisa menyimpulkan keseluruhan cerita di dalamnya. Semakin ke belakang, satu per satu potongan ‘puzzle‘ yang berantakan dan terpecah-pecah menjadi lengkap. Barulah saya bisa menangkap pesan yang tersirat di dalamnya. Sungguh cerita yang mencerahkan dan membuka pikiran saya terhadap banyak hal. Dugaan yang sempat terpikirkan oleh saya saat membaca bagian-bagian awal, semuanya terkuak di bagian akhir cerita. Alurnya benar-benar enggak bisa ditebak dan ceritanya enggak terduga! Cuma satu yang saya sayangkan, yakni ending-nya yang kurang greget dan masih ada rasa penasaran dalam diri saya yang belum terjawab.

Dibandingkan dengan karya Primadonna Angela yang lainnya, buku 3 ini tentunya beda banget. Genre sudah jelas beda. Buku ini berisi tiga genre, yaitu action, drama dan religi. Gaya bahasanya pun terasa bedanya, tapi tetap mudah dimengerti. Meski di beberapa bagian lebih banyak narasinya, tapi enggak membosankan. Primadonna Angela memaparkan setiap peristiwa dalam buku ini dengan sangat baik. Ia mampu membuat saya membayangkan kejadian-kejadian yang terjadi seolah-olah saya berada di sana. Nyata banget!

Ketika baca bagian ketiga yakni kisahnya Mim, saya dibuat tercengang oleh sosok dan pandangannya tentang jihad, dan lain-lain. Sosoknya amat berbeda dan saya sempat salah menduga. Saya suka sekaligus kagum dengan sikapnya yang tenang dalam menghadapi masalah, berpendirian kuat dan begitu menghormati gurunya. Selain itu, saya juga suka dengan tokoh Herlam. Perhatiannya pada keluarga, cintanya yang dalam pada Gendis dan Gilang, kecerdasannya, kekritisannya, bagi saya Herlam adalah lelaki sempurna. πŸ˜€ Penokohan setiap tokohnya, terutama Alif, Lam dan Mim disampaikan dengan amat baik.

Baca buku ini membuat saya berpikir kayaknya filmnya keren, deh. Jadi pengin nonton filmnya. *telat banget, ya* (-_-“) Buku 3 mengajarkan saya bahwa enggak semua yang kita lihat atau dengar itu benar. Juga mengajarkan untuk berhati-hati dan jangan mudah mempercayai apa yang kita lihat atau dengar sebelum mencari tahu dan memperoleh info yang jelas. Buku ini tentunya menarik untuk dibaca karena isinya bukan cuma tentang persahabatan Alif, Lam dan Mim, tetapi juga tentang keluarga, pekerjaan, mereka yang beragama sekaligus kehidupan.

Iklan

3 thoughts on “[Review] 3 (Alif Lam Mim) – Tiga Sahabat, Tiga Pilihan Hidup by Primadonna Angela

  1. Weh? Jadi belum nonton filmnya ya?
    Saya pun 😦
    Kata teman yang sudah lama nonton sejak pemutaran pertamanya, dia bilang keren banget. Terlebih, ada sesuatu yang menakjubkan ketika film sudah berakhir. Yaitu tepuk tangan semua penonton bioskop waktu itu, dan tak tanggung-tanggung, mereka sambil berdiri πŸ˜€
    Setelah diceritakan ini saya jadi penasaran akut. Apalagi dia juga bilang kalau Alif Lam Mim ini adalah cerita futuristik pertama dalam industri perfilman Indonesia.
    Tema agama di cerita ini mengingatkan saya akan hadis Rasulullah saw tentang analogi “menggenggam bara api”. Dan pada kenyataannya, semakin kesini praktik agama semakin sulit untuk dilakukan. Kebenaran makin sulit untuk diimplementasikan. Jadi, sebagai kisah fiksi, film ini cukup rasional. Dan sangat mengerikan ketika memikirkan dunia (Indonesia) sekarang ini bergerak ke arah situ :mrgreen:

    • Hehe belum, Mbak. Saya jarang banget nonton film lokal maupun luar. Bukan penggemar film. πŸ˜€ Oh, ya? Wah, keren ya. Saya baru tahu kalau soal itu. Thanks infonya, Mbak.
      Setuju. Sekarang susah sekali membedakan mana yang benar dan salah. Semoga saja dengan adanya film maupun buku ini, cukup banyak yang tercerahkan. Mengerikan sekali membayangkan bila kelak Indonesia seperti cerita dalam buku/film ini. Trims ya Mbak udah berkunjung dan baca review saya. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s