[Review] Rubrik Kata Katya by Primadonna Angela


2015-08-28 18.22.30Judul Buku: Rubrik Kata Katya

Genre: Fiksi

Penulis: Primadonna Angela

Penerbit: Elf Books

Cetakan I: Maret 2013

Bahasa: Indonesia

Tebal: 194 halaman

ISBN: 978-602-19335-7-2

Rating: 3/5

Sinopsis

Katya kesal! Masa di umur enam belas, ia masih dilarang pergi sendirian? Apalagi kalau keluarganya menitahkan Diko, tetangga sekaligus teman masa kecilnya, untuk menemani Katya.

Lelah karena selalu dianggap bayi oleh keluarganya, Katya langsung menyambut dengan penuh antusias tawaran dari Nando untuk mengasuh rubrik konsultasi di sebuah majalah remaja. Inilah kesempatan Katya untuk membuktikan pada keluarganya bahwa ia bisa mandiri!

Melalui Rubrik Kata Katya, Katya memberi solusi untuk permasalahan para remaja. Namun, ketika sarannya kemudian berdampak fatal pada kasus tertentu, apa Katya sanggup mengemban tanggung jawab itu?

Review

Novel ini adalah novel pertamanya Primadonna Angela yang diterbitkan Elf Books. Primadonna Angela adalah penulis yang sangat sangat produktif karena setiap tahun selalu mengeluarkan novel baru. Nggak heran kalau sudah puluhan bukunya yang diterbitkan dan saya selalu merasa kagum dengannya. Rubrik Kata Katya sendiri merupakan novel yang terbitnya sudah cukup lama, tepatnya dua tahun lalu.

Novel ini bercerita tentang Katya Kasumi Kirana, atau yang sering dipanggil Katya, yang ingin sekali dianggap sudah dewasa oleh orangtua dan kakaknya. Katya merasa bahwa mereka terlalu mengekangnya karena ia selalu nggak diperbolehkan pergi sendirian tanpa ada yang menemani. Biasanya ia ditemani oleh  Diko, teman masa kecil sekaligus tetangganya. Kadang lebih parahnya lagi ditemani orangtuanya. Dan Katya benci itu. Katya selalu merasa iri dengan kakaknya, Tatyana, yang bisa bebas ke mana pun ia pergi tanpa harus ada orang yang menemaninya.

Lucu melihat tingkah Katya dengan Diko yang nggak pernah akur. Ketika Katya mencoba melarikan diri dari penjagaan Diko dengan bersembunyi di sebuah toko peralatan komputer, ia bertemu dengan John Fernando, atau yang biasa dipanggil Nando, sang penjaga toko. Entah mengapa Katya langsung merasa nyaman meski baru pertama kali bertemu dengannya. Saking nyamannya, tanpa sadar Katya membagi semua unek-uneknya pada Nando.

Singkatnya, Katya memperoleh tawaran kerja dari Nando untuk mengisi salah satu rubrik di sebuah majalah online. Demi ingin membuktikan pada orangtua dan Teteh Tatyana bahwa ia sudah dewasa, ia pun dengan mantap menerima tawaran Nando. Kata-kata yang diucapkan Nando telah menyenangkan hati Katya dan membuatnya menetapkan pilihan.

“Menjadi dewasa berarti harus bisa kreatif menggunakan benda yang ada di sekitar, iya kan?” (Hlm. 95)

Menurut Katya, menjadi dewasa bukan cuma bebas melakukan apa saja dan memiliki pekerjaan,  tapi juga harus bisa kreatif menggunakan segala benda yang ada di sekitarnya. Padahal menjadi orang dewasa bukanlah tentang kedua hal itu aja. Masih banyak hal utama yang lebih penting dan lebih mencerminkan seseorang dianggap sudah dewasa.

Suatu ketika Katya menghadapi sebuah masalah yang membuatnya hampir mengundurkan diri dari pekerjaannya. Masalah yang membuatnya merasa harus bertanggung jawab. Masalah yang nggak pernah ia duga bakal mengalaminya. Katya lupa bahwa menjadi dewasa bukan hanya soal bisa bebas melakukan apa saja, tetapi juga problema-problema yang nggak semuanya bisa diselesaikan dengan mudah pun akan lebih banyak berdatangan.

“Menjadi mandiri, bukan berarti kamu harus melakukan segalanya sendirian. Nggak apa-apa kok minta bantuan, asal tahu kapan harus melakukannya.” (Hlm. 114)

“Nggak, Kat. Tapi mungkin dengan membicarakannya, benakmu lebih ringan, dan dengan begitu, solusi bisa dengan lebih mudah dipikirkan.” (Hlm.139)

Saya setuju sekali dengan perkataan Nando di atas. Semandiri apapun seseorang, sekali waktu ia pasti butuh bantuan orang lain. Karena memang manusia adalah makhluk sosial dan sudah kodratnya manusia untuk saling tolong-menolong. Nando ini tokoh yang bisa menarik perhatian seorang wanita. Wajar kalau Katya jatuh hati padanya karena selain berwajah tampan, Nando pun perhatian, bijaksana, berhati baik dan cerdas. Sayangnya, rasa cinta itu bertepuk sebelah tangan.

Ketika membaca buku ini, cukup banyak typo yang saya temukan di dalamnya. Yang lebih bikin saya tercengang adalah ketika membaca nama lengkap Katya yang nggak sama antara halaman 56, Katya Kasumi Kirana, dengan halaman 64, Katya Kasumi Kelana. Saya langsung berpikir, loh bagaimana bisa begitu? Apa penyuntingnya/proofreader-nya kurang teliti sehingga nama lengkap Katya bisa nggak sama.

Saya pikir saya salah baca, tapi sewaktu kembali ke halaman 56, ternyata namanya betul-betul beda. Menurut saya, itu kesalahan yang cukup fatal karena bisa bikin pembaca bingung dengan nama Katya. Saya sebagai pembaca aja begitu membaca nama Katya yang tercantum di halaman 64 langsung merasa ada yang salah dan bingung. Dan seketika saya berkata dalam hati, kayaknya namanya bukan itu deh.

Berbicara tentang ending, saat membaca beberapa bagian akhir cerita saya berharap ada sedikit cerita tentang Diko. Saya sedikit penasaran apakah Diko menyampaikan perasaannya pada Katya secara langsung dan bagaimana sikap Katya pada Diko setelah mengetahui kejadian sebenarnya yang terjadi semasa ia kecil. Sayangnya, di akhir cerita tokoh Diko nggak dimunculkan. Padahal saya ingin sekali mengetahui kelanjutan hubungan Katya dan Diko. Saya merasa seperti ada sesuatu yang kurang. Ending-nya nggak terlalu bikin gereget dan kurang memuaskan buat saya.

Beberapa karya Primadonna Angela sudah pernah saya baca. Dan menurut saya, cerita dan konflik yang disajikan dalam Rubrik Kata Katya bisa dibilang sangat sederhana dibandingkan dengan karyanya yang lain. Karena dalam novel ini tokoh yang ditampilkan nggak banyak, dan konfliknya pun hanya konflik antara tokoh utama (Katya) dengan dirinya sendiri dan keluarganya.

Meski sederhana tapi Kak Donna berhasil membuat ceritanya menjadi menarik, sarat akan makna, dan banyak pesan yang bisa diambil dari kisah Katya. Kak Donna sepertinya ingin menyampaikan pada pembacanya bahwa kedewasaan seseorang nggak hanya dinilai dalam hal bersikap, tetapi juga tingkah laku dan cara berpikirnya. Salah satunya bisa dilihat dari bagaimana cara seseorang menyikapi sebuah masalah. Juga menjadi dewasa pun butuh proses.

Menariknya, ada dua hal yang mengejutkan di sini, yaitu kisah percintaan Nando dan kejadian masa lalu yang menimpa Tatyana. Kejadian buruk yang bertahun-tahun Tatyana sembunyikan dari Katya. Kejadian yang akhirnya membuat Katya mengerti dan menyadari alasan di balik orangtua dan kakaknya yang begitu protektif padanya.

Rubrik Kata Katya adalah bacaan ringan yang bisa ‘disantap’ kapanpun dan di manapun. Bacaan yang memberi kita banyak pelajaran tentang menjadi dewasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s