PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2015, Review Buku

[Review] 13: Kumpulan Cerpen Horor by PAST!


Follow my blog with Bloglovin
20150619_103541Judul: 13: Kumpulan Cerpen Horor

Penulis: PAST! (Primadonna Angela & Shandy Tan)

Genre: Horor

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Juni 2015

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-1784-7

Halaman: 200 halaman

Harga: Rp 45.000,-

Rating: 3.5/5

Peresensi: Launa Rissadia

Sinopsis

Ada sesuatu yang magis dengan angka 13. Bagi kami, ini angka berbahaya. Banyak hal aneh, bahkan menyeramkan, terkait dengan angka 13.

Jika selama ini kamu mengganggap itu omong kosong belaka, pikirkan lagi. Kisah-kisah di buku ini akan membuatmu lebih berhati-hati pada apa pun yang terkait dengan angka 13: rumah, buku, jalan, bahkan bidal. Kami dulu juga begitu, tidak percaya angka ini bisa membawa petaka. Selama dan setelah menyelesaikan kumcer horor 13 ini, kami berubah pikiran. Mungkin seusai membaca buku ini, persepsimu tentang angka 13 tidak akan sama lagi…

Review

Ini kali pertama aku baca buku bergenre horor. Seru juga ternyata. Sebagai pembaca yang baik, kita mesti coba baca semua genre, kan? 😀 Alhamdulillah dua minggu lalu, aku mendapat tawaran dari Kak Donna untuk jadi early reviewer dan reader untuk buku 13 ini yang akan segera rilis, tepatnya (kalau nggak ada perubahan) tanggal 29 Juni 2015. Terima kasih Kak Donna atas tawarannya. Juga terima kasih untuk Kak Shandy, dan tentunya GPU. 🙂

Primadonna Angela adalah penulis yang menurut aku sangat produktif karena setiap tahun selalu ada saja buku barunya yang dirilis. Nggak heran kalau karyanya banyak banget! Buku ini sendiri merupakan buku ke-28-nya sekaligus kumcer pertamanya bersama Shandy Tan. Shandy Tan adalah penulis yang karyanya juga telah banyak diterbitkan. Dan kumcer ini pun merupakan buku duet pertamanya bersama Primadonna Angela. PAST! sendiri merupakan singkatan nama dari kedua penulis tersebut. Buku ini adalah buku duet mereka yang pertama, dan mereka berencana untuk tetap kontinyu menulis buku-buku berikutnya.

13. Apa yang kamu pikirkan tentang angka 13? Mungkin tak terpikirkan olehmu kalau 13 adalah angka yang benar-benar magis. Mungkin tak terpikirkan juga olehmu kalau banyak hal-hal aneh yang terjadi karena angka 13. Mungkin kamu akan beranggapan semua hanyalah kebetulan. Tapi, setelah baca buku ini, akankah anggapanmu tetap sama? Cerpen-cerpen di buku 13 bakal bikin kamu berpikir. Berpikir benar atau tidaknya semua kejadian yang ada dalam kumcer ini.

Aku nggak akan menyebutkan judul dari setiap cerpen yang ada dalam buku ini. Jadi aku tulis Cerpen 1-13 saja, ya. Biar pada penasaran, haha. Sebelum review keseluruhan untuk buku ini, sila dibaca dulu pendapatku tentang masing-masing cerpennya.

*Cerpen 1

textgram_1434789006

Saat baca cerpen ini, mulanya aku berpikir, “Oh, tentang boneka. Pasti ada yang aneh dengan bonekanya. Pasti bonekanya menyeramkan seperti di film-film.” Namun, setelah membaca sampai selesai ternyata dugaanku salah, haha. Aku jadi berpikir mungkin ada juga boneka yang nggak menakutkan seperti Rowena. Bahkan boneka tersebut merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu pemiliknya dengan caranya sendiri. Meski ceritanya nggak terlalu menyeramkan, tapi bisa bikin penasaran karena alur ceritanya yang nggak bisa ditebak.

*Cerpen 2

Kadangkala kita punya keinginan yang keluar begitu saja dari mulut kita/tercetus dari pikiran kita, tanpa kita pikirkan lebih dulu baik atau buruknya. Hingga kita rela melakukan apa saja demi tercapainya keinginan itu. Seperti yang dikatakan Reta dalam cerpen ini, hati-hati dengan keinginanmu. Kenapa harus berhati-hati? Karena segala hal bisa terjadi akibat dari sebuah keinginan, termasuk hal yang tidak pernah kita duga. Apabila keinginan tersebut udah terpenuhi dan hal yang tidak kita harapkan malah terjadi, maka siapa yang sanggup untuk membalikkannya? Hal ini terjadi pada Trisa.

*Cerpen 3

The unknown is sometimes more exciting. Because we fill the blanks with our wild imaginations. – Hlm. 34

Rasa penasaran. Kadang rasa penasaran akan sesuatu hal yang ganjil bisa menyebabkan hal yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Nggak percaya? Jawabannya ada dalam cerpen ini.

*Cerpen 4

Suara hati penuntun sejati, tapi orang sering menanggapi dengan setengah hati. Jika hati kecilmu menyuruh pergi, segeralah angkat kaki. Mendapat julukan pengecut jauh lebih baik daripada selamanya tidak bisa lagi menyaksikan matahari esok hari. – Hlm. 42

Entah kenapa aku suka sekali dengan kutipan ini. Permainan katanya bagus banget. Untuk ceritanya, bakal bikin kita menebak-nebak sendiri kayak gimana akhir ceritanya. Nggak nyangka ternyata Aldo bukanlah teman yang baik. Lagi-lagi aku salah menduga, haha. Dari cerita ini jadi berpikiran mungkin benar adanya kalau angka 13 benar-benar angka yang magis.

*Cerpen 5

Ceritanya cukup menyeramkan. Dan bikin aku jadi berpikir memang benaran ya. Seram juga kalau benaran. Nggak nyangka Karin pun akhirnya terbujuk oleh rayuan hantu-hantu yang menyertainya, sama seperti yang dilakukan Pitra.

*Cerpen 6

Ceritanya nggak seram. Menurutku, cerpen ini seperti kurang ‘bumbu’ kalau untuk sebuah cerita horor, meskipun sisi magisnya tetap terasa. Untuk genre horor, cerpen ini biasa saja.

*Cerpen 7

Alur ceritanya nggak terduga. Setelah baca sampai habis, aku jadi menyimpulkan sendiri jangan-jangan mama Maida menderita sakit karena permohonan Tante Sani ke bidal ketiga belas milik mamanya Maida.

*Cerpen 8

Bersyukur takkan mudah jika kita selalu menganggap orang lain lebih beruntung dan hidupnya lebih bahagia daripada kita. Tiap orang memiliki keberuntungan dan percobaan masing-masing, berusahalah berfokus menghitung berkat alih-alih iri dan merutuki apa yang tidak kita miliki. – Hlm. 86

Seru banget ceritanya. Bikin penasaran dengan buku tipis penuh misteri yang terpaksa dibeli Ayu. Cerpen ini memberi pelajaran tentang pentingnya mensyukuri hidup dan apa yang sudah kita miliki.

*Cerpen 9

Ending-nya nggak seperti yang aku bayangkan. Aku pikir hantu yang mengabulkan harapan Arin meminta imbalan seseorang yang Arin sayangi, ternyata bukan, haha. Suka sama ceritanya. Apalagi pas adegan Candra mengajari Arin bermain biola yang benar.

*Cerpen 10

Merinding membayangkan apa yang dialami Nida. Kalau aku sih nggak berani untuk mengecek suara berisik apa yang udah mengganggu, seperti yang dilakukan Nida.

*Cerpen 11

Cerpen ini nggak berasa seramnya. Baca cerpen ini seperti baca cerpen biasa. Saking kayak cerpen biasa, aku jadi kurang ngeh sama angka 13-nya. Setelah balik lagi ke halaman sebelumnya, aku baru ngeh ternyata kejadian yang menimpa rombongan sekolahnya Mayang itu tepat pada tanggal 13. Lemot ya? Haha.

*Cerpen 12

Ending cerpen ini bikin aku berpikir berarti kekayaan yang dimiliki orangtua Gustaf dan kepopulerannya itu karena bantuan dari Nyi Seruni. Dan keberuntungan pun sekarang berpihak pada Tara berkat strap HP berbentuk ayam yang nggak disengaja ditemukannya.

*Cerpen 13-17

Kelima cerpen ini semuanya nggak seram, tapi bikin sedikit merinding dengan kejadian aneh yang menimpa para tokohnya. Kalau aku jadi mereka mungkin aku udah lari terbirit-birit saking takutnya, haha.

Boleh jadi karena buku ini untuk kategori TeenLit sehingga hampir semua cerpennya nggak begitu seram. Keseluruhan cerpennya menarik. Ada yang ceritanya terasa nyata, ada juga yang terasa benar-benar seperti cuma sebuah cerita. Ada juga yang bikin agak merinding meski nggak seram. Kalau ceritanya seram banget, bisa jadi pembacanya (yang masih belasan tahun, lebih-lebih yang penakut) malah jadi ketakutan benaran, hehe.

Aku salah satu orang yang suka sebal kalau baru baca halaman pertama, lalu nemu beberapa typo. Halaman pertama saja udah banyak typo, gimana dengan halaman-halaman selanjutnya. Ya, kan? Syukurlah dalam buku ini nggak ada typo sedikit pun. Bacanya juga jadi enak karena nggak mengganggu mata.

Alur ceritanya nggak mudah ditebak. Tiap ending bikin mikir benar atau nggak ya kejadian-kejadian di ceritanya. Bahasa yang digunakan juga bahasa sehari-hari, tapi bukan bahasa alay loh ya. 😀 Hampir semua cerpen dalam buku ini bermula dari sebuah rasa penasaran para tokohnya akan sesuatu yang janggal. Yang mana rasa penasaran itu malah membuat mereka mengalami kejadian magis yang nggak pernah terpikirkan sebelumnya.

Salah satu hal yang menyenangkan buatku ketika baca buku adalah kalau menemukan kata baru yang belum pernah aku temukan sebelumnya. Di beberapa cerpen dalam buku ini aku menemukan cukup banyak kata baru yang membuatku mesti buka KBBI dulu buat tahu artinya. Biar bisa paham sama ceritanya juga sih, hehe. Dan itu seru karena menambah pengetahuan aku.

Dalam setiap cerpennya tersirat pesan-pesan buat para pembacanya, seperti tentang pentingnya mensyukuri hidup, tidak iri sama kehidupan orang lain, berhati-hati pada harapan/keinginan diri sendiri, dan masih banyak pelajaran hidup lainnya.

Baca buku ini bisa bikin pandanganmu tentang angka 13 berubah, seperti yang sudah tertulis di sinopsis. Banyak kejadian yang (mungkin) bikin kamu mikir benar atau nggak. Barangkali juga bikin kamu berpikir pernah atau nggak mengalami kejadian serupa atau kejadian aneh/magis lainnya. Semoga di buku duet berikutnya kalau genrenya horor lagi, ceritanya bisa lebih bikin merinding daripada cerita-cerita di buku ini. 😀

Iklan

2 thoughts on “[Review] 13: Kumpulan Cerpen Horor by PAST!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s