[Review] Lelaki Harimau by Eka Kurniawan


15306147_1793875710851208_1810053064262942720_nJudul Buku: Lelaki Harimau

Penulis: Eka Kurniawan

Genre: Fiksi

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan I (Cover Baru): Agustus 2014

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-0749-7

Halaman: 204 halaman

Harga: Rp 38.700,- (Grazera.com)

Rating: ♫♫♫♫♫

Sinopsis

Pada lanskap yang sureal, Margio adalah bocah yang menggiring babi ke dalam perangkap. Namun di sore ketika seharusnya rehat menanti musim perburuan, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan pengkhianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas. “Bukan aku yang melakukannya,” ia berkata dan melanjutkan, “Ada harimau di dalam tubuhku.”

Review

Seru. Menarik. Keren. Tiga kata itulah yang selalu saya dapatkan setelah ‘memakan habis’ karya Eka Kurniawan. Berbeda dengan dua karyanya yang lain, Lelaki Harimau jauh lebih tipis sehingga tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menamatkannya. Buku ini merupakan novel kedua setelah Cantik itu Luka yang terbit pada tahun 2004, dan diterbitkan kembali oleh penerbit yang sama dengan kover baru berwarna terang; yang menurut saya jauh lebih keren dan manis ketimbang kover sebelumnya, meski terlihat simpel hanya bergambarkan kepala harimau.

Berbicara mengenai Eka Kurniawan, menurut saya, ia adalah seorang penulis yang sangat cerdas dalam memadupadankan kata dan memainkan plot cerita. Ini terlihat dari caranya menyampaikan gagasannya, kata-kata yang digunakannya, dan plot maju mundur yang tidak biasa. Sebab itu, saya selalu terpikat dan terpesona oleh gaya menulisnya dan selalu penasaran dengan karya berikutnya. Mau berapa lama pun karyanya keluar, pasti akan tetap saya tunggu. Karena karyanya memang layak untuk ditunggu. 😀

“Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. (Hlm. 1)

Novel ini dibikin dengan alur maju mundur yang cepat, yang dimulai dengan berita kematian Anwar Sadat yang dibunuh secara keji dan kejam oleh Margio. Margio yang tak mau mengaku malah mengatakan bahwa harimau di dalam dirinya-lah yang telah membunuh Anwar Sadat. Seluruh motif dan peristiwa yang ada di dalamnya menunjukkan satu kesimpulan yaitu kekerasan yang dilakukan oleh seorang kepala keluarga dapat menimbulkan luka yang dalam dan dendam bagi korbannya, baik itu anak maupun istri. Pun akan berdampak pula pada kondisi psikologis mereka.

Margio adalah anak pertama dari pasangan tidak harmonis bernama Komar bin Syueb dan Nuraeni. Sedari kecil Margio selalu memperoleh perlakuan kasar dari Komar. Tak hanya Margio, bahkan Nuraeni dan anak keduanya, Mameh, juga selalu menjadi korban amukan amarahnya. Komar yang sepanjang hidupnya selalu memukuli Nuraeni telah membuatnya menjadi wanita sinting yang selalu berbicara pada panci dan kompornya.

Mulanya, Nuraeni amat sayang dan cinta pada Komar hingga suatu ketika Komar pergi dari desa dan tak pernah sekalipun mengirimkan surat padanya. Hal tersebut telah membuat Nuraeni sakit hati dan membuat Nuraeni tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan Komar. Rasa cintanya pada Komar pun telah binasa, tak tersisa. Semakin hari sikapnya pada Komar pun semakin sinis dan beku. Perkawinannya dengan Komar adalah hal terburuk dalam hidupnya. Bisa dibilang kesialan juga.

Tak hanya Nuraeni yang membenci Komar, Margio pun membencinya. Sepanjang hidupnya, Margio sering melihat Nuraeni mendapat siksaan dan perlakuan buruk dari Komar. Karena itulah ia membenci Komar dan berkehendak untuk menghabisinya. Sebagai seorang suami, Komar tidak pernah mengindahkan Nuraeni. Sepertinya, satu-satunya yang ia pedulikan dari Nuraeni adalah tubuhnya, terutama selangkangannya yang bisa memuaskan dirinya ketika rasa berahinya muncul.

Nuraeni yang tidak pernah mendapat belaian lembut dan kehangatan dari suaminya, suatu hari memperolehnya dari Anwar Sadat. Pemahaman Anwar Sadat yang begitu memadai tentang wanita seolah memberitahunya bahwa Nuraeni merindukan sentuhan lembut seorang lelaki. Tanpa segan Anwar Sadat pun memenuhinya. Mereka semakin sering bercinta. Entah itu di kamar, bak mandi, sofa, dan di lantai ruang Anwar Sadat melukis.

”Bagi Komar bin Syueb sendiri, tak ada yang lebih menyakitkan diri daripada apa yang terpampang di hadapannya, seorang istri yang memamerkan rahim berisi benih lelaki asing, lebih sakit daripada memikirkan kenyataan bahwa ia tak pernah sanggup membuat mereka senang.” (Hlm. 145)

Baik Komar, Margio, maupun Mameh tak menyadari perubahan yang terjadi pada Nuraeni. Mereka melihatnya sebagai kesintingan belaka karena Nuraeni selalu bersikap aneh. Hingga suatu ketika Komar akhirnya mengetahui bahwa Nuraeni hamil hasil hubungan gelapnya dengan lelaki lain. Amukan Komar pun semakin menjadi-jadi. Margio yang jatuh cinta pada Maharani dengat amat terpaksa harus mengubur perasaannya. Ada luka di dalam keluarganya dan semuanya tersangkut-paut dengan Maharani. Amat sulit bagi Margio untuk menyampaikannya pada Maharani sebab Margio selalu terhalangi oleh rasa pemujaan terhadapnya.

Semakin ke belakang, semakin terkuak latar belakang Komar bin Syueb selalu bersikap kasar pada keluarganya. Seperti karyanya yang lain, bagi saya ceritanya tidak mudah ditebak. Dalam novel ini pun saya menemukan beberapa kosakata baru, seperti surau, lenguhan, pejal, begundal, pelor, mencungkupinya, dan masih banyak lagi. Kata-kata yang sangat jarang—bahkan hampir tidak pernah—saya temukan di novel-novel lain.

Nama tokoh-tokohnya pun sama uniknya dengan karyanya yang lain. Di sini semua tokohnya memiliki peran yang penting dan bikin saya bersimpati pada tokoh-tokohnya, terutama pada Margio, Nuraeni, dan Komar bin Syueb. Lelaki Harimau bisa dibilang novel psikologis-magis meskipun sisi magis yang ditampilkan hanyalah sedikit. Semoga tahun depan Eka Kurniawan mengeluarkan novel baru lagi, ya. Ya kalaupun tidak, semoga rentangnya tidak lama kayak dari Cantik itu Luka ke Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Karena selalu ada keseruan dan pelajaran yang bisa saya ambil setelah membaca karyanya. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s