Penerbit Haru, Review 2014, Review Buku

[Review] Kronik Kehidupan Audy Nagisa Part 2 by Orizuka


www.owlbookstore.co.id
http://www.owlbookstore.co.id

Judul Buku: The Chronicles of Audy: 21

Penulis: Orizuka

Penerbit: Penerbit Haru

Cetakan I: Juli 2014

Bahasa: Indonesia

Halaman: 308 halaman

ISBN: 602-774-237-2

Harga: Rp 48.450,- (www.owlbookstore.co.id)

Rating: ♫♫♫♫

Sinopsis

Hai. Namaku Audy.

Umurku masih 22 tahun.

Hidupku tadinya biasa-biasa saja, sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R.

Aku sempat berhenti, tapi mereka berhasil membujukku untuk kembali setelah memberiku titel baru: “bagian dari keluarga”.

Di saat aku merasa semakin akrab dengan mereka, pada suatu siang, salah seorang dari mereka mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Aku tidak tahu harus bagaimana!

Lalu, seolah itu belum cukup mengagetkan, terjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan siapa pun.

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang semakin ribet.

Kronik dari seorang Audy.

Review

Setelah menunggu selama kurang lebih tiga bulan, akhirnya buku kedua seri Audy rilis juga. Hah? Tiga bulan? Setahun kali nunggunya. Iya, tiga bulan. Maklum, saya baca seri pertamanya baru di bulan April kemarin bukan tahun lalu. Jadi nggak terlalu lama deh nunggu seri keduanya rilis, hihihi. Bermula dari rekomendasi bacaan yang menarik dan bagus dari seorang teman sesama pencinta buku dan suka menulis, saya pun jadi jatuh cinta dengan Orizuka. Karya-karyanya ternyata wajib banget buat dibaca. Serius. Dijamin seru, kocak, menarik dan bikin pengin baca karyanya yang lain. 😀

Orizuka adalah nama pena dari Okke Rizka Septania. Sejak sembilan tahun yang lalu, ia telah menulis banyak sekali novel remaja, di antaranya yaitu The Chronicles of Audy: 4R, Meet the Sennas, I FOR YOU, seri Oppa & I, Summer Breeze, Miss-J, High School Paradise 2nd Half: Love United, The Truth about Forever, 17 Years of Love Song dan lain-lain. Wah, banyak banget, ya. Keren! Nah, The Chronicles of Audy: 21 ini sendiri merupakan buku kedua dari seri The Chronicles of Audy.

Sebelum membahas buku keduanya, mari kita samakan dulu penyebutan untuk seri Audy ini. Untuk buku pertama, saya akan menyebutnya Audy: 4R, sedangkan buku kedua Audy: 21. Oke? Supaya nggak pada bingung, khususnya buat yang belum baca buku pertamanya, hehehe. 😀

“Setelah Audy pergi, kami langsung sadar kalau kehadiran Audy sangat penting bagi kami,” lanjut Regan. “Bukan sebagai pembantu ataupun babysitter, tapi sebagai…, bagian dari keluarga.” (Audy: 4R hlm. 308)

Pada seri kali ini, inti ceritanya adalah kronik kehidupan seorang Audy Nagisa yang masih terus memikirkan dan mencari jawaban dari kata-kata ‘bagian dari keluarga’ yang dulu pernah diucapkan oleh Regan; ketika meminta izin pada ayah Audy agar Audy diizinkan untuk tinggal bersama-sama dengannya dan 3R lainnya di rumahnya. Nggak cuma itu, dalam buku kedua ini pun Audy dibikin bingung dengan pernyataan perasaan salah seorang dari 4R.

Di sini Regan jarang dimunculkan. Ia seringnya ditampilkan hanya ketika makan siang atau makan malam bersama dan ketika adegan di rumah sakit. Oh, ya, ngomong-ngomong soal rumah sakit, buat yang sudah baca Audy: 4R, pasti masih ingat dong dengan Maura? Itu loh tunangannya Regan yang koma selama dua tahun lebih karena kecelakaan. Nah, di sini hal yang nggak diduga-duga terjadi pada Maura. Saya sendiri dibikin terkejut dengan hal tersebut.

Ketika mengetahui salah satu dari 3R mengungkapkan perasaannya pada Audy, saya pun jadi menebak-nebak siapa gerangan orangnya. Ketika sampai pada adegan di mana salah seorang dari mereka menyatakan perasaannya, ternyata tebakan saya benar. Saya dibuat iri oleh Audy. Nggak nyangka seorang yang antisosial, judes dan dingin bisa suka sama Audy yang kocak dan menghibur.

Saya suka dengan sikap Rex yang kadang-kadang manis, terkadang juga ngeselin dan sulit untuk dipahami. Di antara 3R, terlihat di sini yang paling perhatian soal skripsi hanya Rex. Satu ciri khas dari Rex yaitu suka tiba-tiba muncul dan nggak ketahuan datangnya. Dan kemunculannya itu selalu membuat Audy terkejut.

Walaupun demikian, di antara siapa pun, dia yang secara alami bisa akrab denganku, bahkan bertengkar denganku tanpa membuatku merasa buruk. Dulu, kupikir itu karena kami seumuran. Usia mental kami pun mirip. Namun, kalau dipikir lagi, dia melakukan itu terhadap semua orang. Dia punya kemampuan untuk menyesuaikan diri dan membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman. Yah, walaupun kadang caranya berlebihan, sih. (Hlm. 221)

Berbicara mengenai Romeo, walaupun ia yang paling sering membuat Audy kesal, tapi ternyata dirinyalah yang selalu menghibur Audy di kala sedih dan stres. Saya suka dengan kemampuannya membuat orang lain merasa nyaman dan caranya yang unik dalam menghibur orang lain.

Penulis berhasil membuat saya menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Audy yang masih belum juga menyadari bahwa ia sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama seperti yang dirasakan oleh salah satu dari 4R. Hanya saja Audy selalu mengelak perasaannya disebabkan karena umurnya yang terpaut lima tahun lebih tua darinya. Dan Audy selalu berpikir bahwa hubungan dengan laki-laki yang lebih muda nggak akan berhasil.

Ada enam bab yang paling saya suka di buku ini. Berikut keenam bab tersebut beserta alasan saya menyukainya:

  • The Confession

Rambut Rex ikut tertiup, membuatku bisa melihat jelas kedua matanya yang memancarkan sorot yang tadi aku bilang: hangat. Namun, lagi-lagi, itu hal yang gila. ‘Hangat’ adalah kata sifat terakhir yang bisa tercantum di dalam daftar karakteristik seorang Rex. (Hlm. 76)

Di bab ini saya suka dengan kebersamaan antara Rex dan Audy saat jalan pagi bersama. Duh, bikin mupeng banget!

  • Disturbing Behavior

Suka banget dengan kata-kata yang diucapkan oleh Rex pada Audy dalam bab ini.

  • Hope+Action

“Apa salahnya berharap?” Rex balik bertanya, membuatku melebarkan mata. “Berharap bikin kita lebih bersemangat hidup,  kan? Tentunya, sambil disertai usaha yang konkret.” (Hlm. 144)

Di sini saya ketawa melihat tingkah pedenya Audy di sekolahnya Rex ketika mengantarkan inhaler untuk Rex. Juga adegan saat Audy di dapur dan Rex duduk di meja makan.

  • Let it Wither

Sikap manis yang ditunjukkan Rafael pada Audy ketika selesai menyanyi di pertunjukkan seni dalam rangka ultah PAUD Ceria. Juga adegan Romeo yang berusaha menghibur Audy dengan mengajaknya bermain Halo Universe.

  • Shattered

Bab ini merupakan bab yang sedih dan bisa membuatku berkaca-kaca. Terutama saat membayangkan adegan Romeo yang membantu Audy bangun ketika jatuh tersungkur dan meminjamkan Shampoo Visor-nya pada Audy.

  • Sailing

“Kamu lupa kalau kamu juga kocak, menghibur, menyenangkan,” tambah Rex.

Aku menyipitkan mata. “Kamu kayak lagi mendeskripsikan badut.” (Hlm. 293)

Suka banget adegan Rex dan Audy ketika jalan pagi di bab ini. Di sini kesalahpahaman mengenai hubungan mereka sedikit terungkap. Saya suka dengan jawaban Rex yang nggak biasa atas semua pertanyaan yang ditanyakan Audy. Kelihatan banget geniusnya.

Saya suka sekali dengan plot ceritanya. Terlebih semua adegannya Rex dan Audy. Menurutku, cerita di buku kedua ini jauh lebih seru daripada buku pertama. Typo yang saya temukan pun hampir nggak ada. Hanya beberapa halaman (hlm. 66, 71, 74-75, 79, 82-83, 86-87, 90 & 95) tulisannya buram sehingga agak sulit membacanya. Selain itu, nggak ada keterangan untuk kata foie gras yang ada di halaman 109 karena nggak semua orang tahu apa arti foie gras, termasuk saya.

Kesalahan teknis penulisan yang lainnya yakni penggunaan kata nggak baku–yang seharusnya memerhatikan, tapi justru malah ditulis memperhatikan. Lalu, nggak ada footnotes seperti di halaman lain untuk bahasa Jawa yang digunakan. Kalau halaman lain ada, semestinya pada halaman 63 pun ada footnotes-nya. Menurut saya, hanya itu sih kekurangan dari buku ini. 🙂

Apakah Audy akhirnya memperoleh jawaban atas maksud dari kata-kata ‘bagian dari keluarga’ yang selama ini terus gentayangan di benaknya? Bagaimana kejelasan hubungan Audy dan satu dari 4R yang menyatakan perasaannya padanya? Yang jelas ending dari buku kedua ini sama geregetnya seperti buku pertama.

Jadi nggak sabar deh nunggu buku ketiganya. Setelah membaca Audy: 21 banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Kira-kira Romeo bakal nemuin cintanya nggak, ya, dan akhirnya berani keramas nggak pakai shampoo bayi lagi nggak, ya. Tentunya yang paling bikin saya nggak sabar nunggu adalah kelanjutan kisah percintaannya Audy. 😀 Semoga tahun depan bakal ada buku ketiga seri The Chronicles of Audy, hehe.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s