PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2014, Review Buku

[Review] The Five People You Meet in Heaven by Mitch Albom


C360_2014-09-08-12-21-53-223Judul Asli: The Five People You Meet in Heaven

Judul Kover: Meniti Bianglala

Penulis: Mitch Albom

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan III: Juli 2007

Bahasa: Indonesia

Halaman: 208 halaman

ISBN: 978-979-22-1349-2

Rating: 4/5

Sinopsis

Eddie bekerja di taman hiburan hampir sepanjang hidupnya, memperbaiki dan merawat berbagai wahana. Tahun-tahun berlalu, dan Eddie merasa terperangkap dalam pekerjaan yang dirasanya tak berarti. Hari-harinya hanya berupa rutinitas kerja, kesepian, dan penyesalan.

Pada ulang tahunnya yang ke-83, Eddie tewas dalam kecelakaan tragis ketika mencoba menyelamatkan seorang gadis kecil dari wahana yang rusak. Ketika terjaga, dia mendapati dirinya di alam baka. Dan ternyata Surga bukanlah Taman Eden yang indah, melainkan tempat kehidupan manusia di dunia dijelaskan lima orang yang telah menunggu. Lima orang yang mungkin orang-orang yang kita kasihi, atau bahkan orang-orang yang tidak kita kenal, namun telah mengubah jalan hidup kita selamanya, tanpa kita sadari.

Review

Ini kisah tentang lelaki bernama Eddie dan kisah ini berawal di akhir, ketika Eddie sekarat di bawah terik matahari. Memang kelihatannya aneh memulai kisah dari akhir. Tapi semua akhir adalah juga permulaan. Hanya saja kita tidak tahu pada saat itu. (Hlm. 7)

Setiap kehidupan memengaruhi kehidupan berikutnya, dan kehidupan berikutnya itu memengaruhi kehidupan berikutnya lagi, dan bahwa dunia ini penuh dengan kisah-kisah kehidupan, dan semua kisah kehidupan itu adalah satu. (Hlm. 202)

Ini kali pertama saya membaca karyanya Mitch Albom dan berhasil membuat saya puas dan salut dengan idenya. Ide dalam buku ini sebenarnya simpel hanya tentang kehidupan. Menurut saya, yang membuatnya menarik adalah kisah yang disuguhkannya dan cara penyampaiannya.

Mitch Albom adalah seorang penulis enam buah buku dan buku yang menjadi bestseller internasional Tuesdays with Morrie–Selasa Bersama Morrie. Tak hanya itu, ia juga seorang kolumnis surat kabar, penyiar, dan sering berpartisipasi dalam berbagai dewan sosial. Saya jadi penasaran deh dengan buku Tuesdays with Morrie-nya. Kayaknya menarik. Jadi pengin baca juga, hehe.

Buku ini mengisahkan tentang seorang pria berusia 83 tahun yang bekerja sebagai petugas Maintenance di Ruby Pier, taman hiburan di tepi samudra besar berwarna kelabu, bernama Eddie. Ia menderita ruam saraf dan sisa hidupnya di dunia hanya tinggal 50 menit saja.ย  Seperti yang tertera di sinopsis, hidupnya hanya dihabiskan dengan penyesalan, kesepian dan rutinitas kerja di Ruby Pier.

Setelah meninggal, Eddie bertemu dengan lima orang di alam baka, baik orang yang dikenalnya maupun yang tidak dikenalnya, namun jalur hidup orang tersebut bersentuhan dengan jalur hidupnya. Orang pertama yang ditemuinya bernama Edward atau disebut juga si Orang Biru; karena kulitnya yang berwarna biru.

“Masing-masing dari kami ada di kehidupanmu karena suatu sebab. Kau mungkin tidak tahu alasannya pada saat itu, dan itulah sebabnya ada alam baka. Untuk mengerti tentang kehidupanmu di dunia.” (Hlm. 40)

“Bahwa tidak ada kejadian yang terjadi secara acak. Bahwa kita semua saling berhubungan. Bahwa kau tidak bisa memisahkan satu kehidupan dari kehidupan lain, sama seperti kau tidak bisa memisahkan embusan udara dari angin.” (Hlm. 52)

Di sini kita bisa memetik pelajaran bahwa semua kehidupan saling berkaitan. Dalam suatu kejadian yang terjadi dalam hidup kita, ada kejadian lain yang juga terjadi, yang menimpa orang-orang di sekitar kita–bisa kejadian menyenangkan, bisa juga sebaliknya.

“Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian.” (Hlm. 55)

Terkadang kita berpikir bahwa kita seorang diri menghadapi kejadian, baik buruk maupun menyenangkan, dalam kehidupan kita. Nyatanya, di sisi lain ada juga orang yang mengalami hal yang sama seperti kita. Bisa jadi orang tersebut jauh lebih terpuruk daripada kita. Satu yang bisa kita lakukan adalah kita harus tetap bersyukur, ikhlas dan mencoba tetap berpikir positif; meski sulit. Mencoba untuk percaya bahwa akan ada hal baik yang akan Tuhan berikan pada kita.

“Kita membuat pengorbanan. Aku membuat pengorbanan. Kita semua membuat pengorbanan. Tapi kau merasa marah atas pengorbanan yang kauberikan. Kau selalu memikirkan apa yang telah kaukorbankan.”

“Kau belum mengerti. Pengorbanan adalah bagian dari kehidupan. Harusnya begitu. Bukan sesuatu untuk disesali. Tapi sesuatu untuk didambakan. Pengorbanan kecil. Pengorbanan besar.” (Hlm. 97)

Orang kedua yang ditemui Eddie adalah kaptennya semasa perang di Filipina. Di sini kita bisa memetik pelajaran tentang pengorbanan dari kisah Kapten dan Eddie beserta tiga teman lainnya ketika perang. Dalam hidup, kita semua pasti pernah berkorban. Seperti yang telah dilakukan Kapten untuk Eddie dan teman-temannya.

“Setiap hari kita berjalan melewati tempat-tempat yang tak akan ada kalau bukan karena orang-orang yang lahir sebelum kita. Tempat kerja kita, tempat kita menghabiskan banyak waktu kita–kita sering berpikir bahwa semua bermula dari saat kita tiba. Itu tidak benar.” (Hlm. 127)

“Aku ingin kau belajar ini dariku. Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri.” (Hlm. 145)

Selanjutnya, orang yang ditemui Eddie adalah seorang wanita tua bernama Ruby yang dulu bekerja di rumah makan Seahorse Grill. Berbeda dengan dua orang sebelumnya, Eddie sama sekali tidak mengenal wanita tersebut. Di sini ia menceritakan pada Eddie apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya sebelum ayahnya meninggal. Kisah yang diceritakan Ruby mengajarkan kita untuk memaafkan orang yang kita benci (yang telah berlaku tidak menyenangkan pada kita) dan tidak memendam rasa benci dan menyimpan rasa marah kita pada orang tersebut berlarut-larut.

Tapi cinta mempunyai berbagai bentuk, dan tidak pernah sama bagi setiap pria atau wanita. Yang ditemukan orang sebenarnya cinta tertentu. Dan Eddie menemukan cinta tertentu dalam diri Marguerite, cinta yang didasari rasa syukur, cinta yang mendalam walaupun tidak menggebu-gebu, cinta yang ia tahu, lebih dari segalanya, tidak akan bisa digantikan oleh apa pun. (Hlm. 160)

Cinta, seperti hujan, bisa menyuburkan dari atas, menghujani pasangan dengan keceriaan. Tapi kadang-kadang, dalam panasnya kehidupan, cinta seolah kering di permukaan dan harus tergantung pada akarnya yang tertanam dalam untuk membuatnya tetap hidup. (Hlm. 169)

Orang keempat yang ditemui Eddie adalah satu-satunya wanita yang dicintainya, istrinya, Marguerite. Dalam pertemuannya dengan Marguerite, diceritakan bagaimana kecelakaan yang menimpa istrinya tersebut dan kebersamaan mereka ketika membina rumah tangga. Bertemu lagi dengan Marguerite membuat Eddie bisa merasakan kembali kehangatan yang sudah lama sekali tidak ia rasakan. Dan di sini akhirnya ia mengerti meski orang yang dicintainya telah pergi, namun cinta yang dirasakannya masih tetap sama hanya saja bentuknya yang berbeda.

“Aku sedih karena aku tidak melakukan apa pun dalam hidupku. Aku bukan apa-apa. Aku tidak menghasilkan apa pun. Aku merasa tidak berguna. Aku merasa aku tidak seharusnya ada di sana.” (Hlm. 198)

Yang tak disangka-sangka adalah orang terakhir yang ditemui Eddie. Orang tersebut adalah seorang anak perempuan berumur lima atau enam tahun bernama Tala. Tala merupakan anak yang tewas ketika perang di Filipina, yang tak sempat Eddie selamatkan. Ia pun kembali merasa menyesal karena tidak menyelamatkan Tala saat itu. Di sini Eddie juga teringat dengan anak kecil–entah bernama Amy atau Annie–yang ia buatkan mainan berbentuk kelinci dari pembersih pipa saat hari terakhirnya di Ruby Pier. Dalam pelajaran terakhir ini, Eddie akhirnya memperoleh jawaban untuk pertanyaannya selama ini mengenai Amy atau Annie.

Berbicara mengenai teknis penulisan, saya cuma menemukan satu atau dua typo dan satu kata nggak baku yakni memperhatikan–di mana yang seharusnya adalah memerhatikan. Karena cerita dalam buku ini menarik dan typo-nya cuma sedikit sehingga nggak jadi masalah buat saya. Saya suka dengan kovernya yang sangat mewakili kisah di dalamnya. Terjemahannya pun bagus jadi bacanya juga enak dan mengalir. ๐Ÿ˜€

Membaca buku ini membuat mata saya terbuka dan lebih mengerti tentang kehidupan. Saya pun jadi ikut berpikir untuk tujuan apa saya hidup di dunia ini. Masing-masing dari kita di dunia ini memiliki sebuah tujuan. Hanya saja banyak dari kita yang belum mengetahui mengapa kita hidup dan untuk tujuan apa kita hidup. Banyak pelajaran tentang hidup yang bisa kamu peroleh dalam buku ini. Dijamin deh selama baca buku ini pandangan kita tentang kehidupan bisa berubah. Thanks buat Sherly yang udah ngasih pinjam buku ini. ^^

Iklan

3 thoughts on “[Review] The Five People You Meet in Heaven by Mitch Albom”

      1. Aku sih suka, ya. Personally, bikin aku lebih leogowo soal kehilangan :’)
        Aku juga punya For One More Day, tapi malah belum baca, bacanya yang ebook, hihihi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s