PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2014, Review Buku

[Review] Un Soir du Paris by Situs SepociKopi


www.grazera.com
http://www.grazera.com

Judul Buku: Un Soir du Paris – Satu Petang di Paris

Penulis: Situs SepociKopi

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan I: September 2010

Bahasa: Indonesia

Halaman: 144 halaman

ISBN: 978-979-22-6208-7

Harga: Rp 30.000,- (www.grazera.com)

Rating: 2.5/5

Sinopsis

Di dalam buku Un Soir du Paris, 12 penulis terkemuka Indonesia berkisah tentang dunia lesbian yang kompleks dan penuh lika-liku cinta yang unik. Mereka adalah Cok Sawitri, Shantined, Abmi Handayani, Ucu Agustin, Stefanny Irawan, Linda Christanty, Clara Ng, Triyanto Triwikromo, Ratih Kumala, Agus Noor, Seno Gumira Ajidarma, dan Maggie Tiojakin. Cerpen-cerpen pilihan situs on-line SepociKopi ini menampilkan kisah-kisah yang menggugah hati dari wilayah yang kerap dipinggirkan dalam masyarakat.

Dua belas cerpen dalam buku Un Soir du Paris memang menyajikan cita rasa yang pahit, getir, dan penuh luka. Alur hidup para tokoh-tokohnya terkoyak oleh “trauma” juga ketimpangan-ketimpangan yang menusuk, baik secara fisik maupun psikologis. Yang disebabkan oleh “limbah” konstruksi sosio-kultur dan masalah sosial lainnya (termasuk agama) yang membuat mereka “terlempar” dalam dunia lain yang sulit terjamah. – Oka Rusmini

Kumpulan kisah ini bukan hanya luar biasa, tapi juga tidak biasa, sebagaimana cinta terkadang mentransedensi batasan konvensional, nalar, dan akal, sementara kita hanya mampu terhanyut dalam alirannya. Kumpulan kisah ini juga merupakan suara, sebuah pernyataan, bahwa siapa pun juga akan selalu tunduk oleh kekuatan cinta yang siap menyergap semua hati, baik itu antara pria-wanita, atau wanita-wanita. Cinta tak pernah mau tahu. Ia hanya ingin Anda menikmati kisah-kisah indah ini. – Dewi “Dee” Lestari

Review

Setelah sekian lama buku ini mejeng di lemari buku, akhirnya dalam waktu enam hari saya berhasil menamatkannya. Buku ini saya beli (kalau nggak salah) via Twitter mengingat di toko buku sudah nggak ada stoknya, tapi saya lupa Twitter-nya apa. 😀 Mulanya saya beli buku ini karena tahu di dalamnya ada cerpennya Clara Ng dan penasaran sama ceritanya, hehe.

Kumcer ini sendiri berjumlah 12 cerpen dan bertemakan tentang lesbian yang ditulis oleh 12 penulis situs SepociKopi—situs lesbian online—yang pernah dimuat di media massa. Sayangnya, cerpen-cerpen dalam buku ini nggak mengangkat tema lesbian tersebut secara mendalam sehingga ada beberapa cerpen yang kurang menarik. Pergumulan-pergumulan yang dihadapi para tokohnya hanya sebatas perasaannya saja dan nggak diterimanya keberadaan mereka oleh orang lain. Dalam buku ini nggak digambarkan bagaimana pergumulan lainnya dan masalah-masalah yang biasanya dihadapi oleh seorang lesbian.

Cerpen pertama berjudul Cahaya Sunyi Ibu, Triyanto Triwikromo, yang berkisah tentang seorang anak yang akhirnya mengetahui persahabatan antara Caroline dan Ibunya, Tari, di Panti Wreda. Dalam cerpen ini, penulis nggak benar-benar menggambarkan tentang seorang lesbian. Di sini pun nggak tergambarkan dengan jelas kenapa ibu Rafli menjadi seorang lesbian dan nggak ada pergulatan seperti apa yang dialami Tari.

Kedua, Danau, Linda Christanty. Dalam cerpen ini hanya tersirat kedua tokoh sama-sama tidak saling tahu bahwa mereka sebenarnya pernah bersama-sama ada di sebuah danau. Karena nggak adanya pengakuan terhadap kaum lesbian sehingga mereka lebih memilih untuk diam. Meski di sini tergambarkan betapa sulitnya menjalin cinta dengan seorang perempuan, namun cerita yang disajikan kurang menarik.

Cerpen berikutnya berjudul Dua Perempuan dengan HP-nya, Seno Gumira Ajidarma. Cerpen ini mengisahkan dua perempuan menikah yang memiliki hubungan layaknya seorang pria dan wanita. Cerpen ini lebih menarik dibandingkan dua cerpen di atas, namun ending-nya gantung dan semestinya bisa sedikit diperpanjang dengan bagaimana cerita kebersamaan mereka setelah Susan berpisah dengan suaminya.

Cerpen keempat berjudul Hari Ini, Esok, dan Kemarin, Maggie Tiojakin. Tentang seorang wanita yang sudah berumah tangga dan memiliki kekasih wanita bernama Elena. Ketika mau jujur mengenai hubungannya dengan Elena pada suaminya, tak ada yang bisa ia lakukan. Ia lebih memilih tersesat dan menunggu hari yang tepat untuk mengakui segalanya.

Berikutnya adalah Lelaki yang Menetas di Tubuhku, Ucu Agustin. Cerpen ini tentang seorang perempuan yang merasa ada jiwa lelaki yang menetas di tubuhnya. Ketika ia mengakui yang sebenarnya bahwa istrinya perempuan, orang-orang malah justru mengecapnya salah.

Cerpen keenam adalah cerpen penulis favorit saya yaitu Clara Ng yang berjudul Mata Indah. Berkisah tentang seorang kakak bernama Lei yang memiliki mata yang indah, yang membenci adiknya sendiri karena bayangan gelap yang membungkus seluruh tubuh adiknya. Selain itu, karena Lea memiliki rupa yang menawan, suara yang indah, semua lelaki terpikat olehnya, termasuk lelaki yang dicintai Lei. Lea membenci Lei karena dia tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Saya selalu suka dengan cerita-ceritanya Clara Ng karena kemahirannya dalam memainkan kata-kata membuat saya hanyut ke dalamnya.

Selanjutnya cerpen karya Abmi Handayani yang berjudul Menulis Langit. Cerpen ini tentang seorang anak perempuan yang mencintai guru-guru perempuannya dan begitu mencintai langit. Namun, karena semua cerpen dalam buku ini bertemakan lesbian, ceritanya jadi kurang menarik. Di sini nggak jelas jenis kelamin langit tersebut apakah perempuan atau laki-laki.

Cerpen selanjutnya berjudul Potongan-potongan Cerita di Kartu Pos, Agus Noor. Cerpen ini mengisahkan seorang wanita yang sudah berumah tangga bernama Maiya, dan suaminya yang berselingkuh dengan salah satu teman arisan istrinya yang bernama Mulan. Menariknya, ternyata Maiya pun memiliki hubungan dengan teman arisannya yang lain bertahun-tahun lamanya.

Cerpen kesembilan adalah karya Shantined yang berjudul Saga. Berkisah tentang seorang wanita yang terus disakiti oleh suaminya dan kemudian bertemu dengan seorang wanita bernama Aini. Ia merasa ‘pulang’ ketika mengenalnya dan menjalani hari-hari bersamanya. Dalam cerpen ini, kita bisa merasakan betapa sakitnya hati tokoh utama ketika hubungannya dengan kekasihnya dulu, Lorena, diketahui oleh orangtuanya.

Cerpen kesepuluh yakni berjudul Sebilah Pisau Roti, Cok Sawitri, mengenai seorang perempuan yang memiliki hubungan dengan perempuan lain. Perasaan salah satu dari mereka tidak keruan. Hubungan mereka begitu rumit dan selalu diakhiri dengan pertengkaran.

Berikutnya adalah karya Ratih Kumala dengan judul Tahi Lalat di Punggung Istriku yang berkisah tentang seorang suami yang begitu mencintai istrinya karena tahi lalat yang ada di punggung istrinya. Sampai suatu ketika saat akan bercinta, Si Suami tak menemukan tahi lalat yang disukainya tersebut. Si Istri rindu akan sentuhan-sentuhan Si Suami pada tubuhnya, yang akhirnya ia rasakan kembali saat Ratri menyentuh lembut dadanya. Penulis kurang dalam mengangkat tema lesbiannya. Bila cerita antara Ratri dan Si Istri agak diperpanjang, cerpen ini akan jauh lebih menarik.

Cerpen terakhir merupakan judul dari kumcer ini yaitu Un Soir du Paris, Stefanny Irawan. Cerpen ini menceritakan dua orang kekasih yang dipaksa berpisah dan kemudian bertemu kembali di suatu malam di Paris. Namun, hanya salah satu di antara mereka yang masih mengingat kenangan akan hal-hal yang dulu pernah terjadi di antara mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s