PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2014, Review Buku

[Review] Malaikat Jatuh by @clara_ng


IMG_20140724_100850Judul Buku: Malaikat Jatuh

Penulis: Clara Ng

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan II: Februari 2009

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-22-3935-5

Halaman: 176 halaman

Harga: Rp 29.000,- (www.grazera.com)

Rating: 4/5

Sinopsis

Beppu, manusia bersayap cacat. Sayapnya hanya sebelah tidak dapat mengangkatnya terbang meniti angin.Louissa Manna, seorang ibu berusia ratusan tahun. Dia telah memakan jantung manusia bersayap untuk mendapatkan hidup abadi.

Pada pertemuan mereka yang dipenuhi oleh kekejaman, Beppu dan Manna berjuang mempertahankan kewarasan, kesucian, dan di atas semuanya, cinta.

Sepuluh cerita. Tentang wajah perempuan. Dari ibu sampai pelacur, dari perawan sampai hanya pemeran. Semuanya dibingkai dalam dongeng-dongeng malam, kematian, dan narasi kelam.

Di balik semua kematian dengan berbagai variasinya tampak, dan inilah yang penting, obsesi pengarangnya untuk berbicara, bahwa hubungan ibu dan anak adalah hakikat yang paling mendasar dalam hati nurani makhluk yang bernama manusia. (Prof. Dr. Budi Darma)

Ada aroma kanak-kanak di cerpen-cerpennya, tapi jelas tidak kekanak-kanakan. Juga ada napas pengantar tidur, yang tidak membuat tidur. Tak seperti kita orang dewasa, anak-anak memiliki keliaran imajinasi yang nyaris tak berbatas. Seperti itulah cerpen-cerpen ini diperlakukan. (Eka Kurniawan)

Review

Setelah enam hari ‘mengunyah’ buku ini, akhirnya kemarin habis juga. Beberapa cerpen dalam buku ini sarat dengan pesan bahwa tak ada cinta yang mampu menggantikan cinta seorang ibu pada anaknya. Cinta seorang ibu adalah cinta abadi yang tak akan pernah surut meski ditelan oleh waktu. Seperti yang telah dinyatakan oleh Prof. Dr. Budi Darma, hubungan ibu dan anak adalah hakikat yang paling mendasar dalam hati nurani makhluk yang bernama manusia.

Clara Ng adalah seorang penulis yang telah banyak menelurkan buku, mulai dari novel dewasa hingga novel dan cerita anak-anak. Nggak cuma itu, ia juga menulis cerpen, esai dan skenario. Saya nggak tahu kumcer Malaikat Jatuh ini karyanya yang keberapa karena saat buku ini terbit untuk pertama kalinya, saya belum menjadi seorang pencinta buku, hehe. Yang jelas saat ini Clara Ng adalah salah satu penulis favorit saya yang saya kagumi. 🙂

Dalam buku ini, ada 10 cerpen yang disuguhkan oleh Clara dengan sebagian besar berkisah tentang seorang ibu dan anaknya. Tujuh dari 10 cerpen tersebut sebelumnya sudah pernah diterbitkan di beberapa media cetak. Ketiga cerpen lainnya yang belum pernah diterbitkan berjudul  Malaikat Jatuh, Di Uluwatu dan Akhir. Dari ketiga cerpen tersebut saya paling suka dengan cerita Malaikat Jatuh dan Akhir. Sedangkan untuk cerpen yang sudah diterbitkan, saya paling suka Hutan Sehabis Hujan, Bengkel Las Bu Ijah dan Istri Paling Sempurna. Di sini saya hanya akan mengutarakan secara singkat alasan saya suka dengan lima cerpen favorit saya tersebut.

Pertama, saya suka dengan cerita Malaikat Jatuh karena dalam cerita tersebut terlukis betapa besar cintanya Louissa Manna pada anaknya, Mae. Manna yang sudah berumur ratusan tahun memberikan darah seorang manusia bersayap pada anaknya demi anaknya bisa sembuh dan hidup selama-lamanya seperti dirinya. Namun, setelahnya kejadian-kejadian aneh pun menimpa Mae. Mae berubah menjadi seorang anak yang tidak normal dan mengerikan. Satu yang saya sarankan saat membaca cerita ini adalah jangan baca saat sedang makan karena bisa jadi teman-teman akan muntah/enek ketika membaca part Mae yang memakan hewan, dan lain-lain dengan cara yang nggak biasa. 😀

Berikutnya Hutan Sehabis Hujan. Saya suka dengan penggambaran tentang hutannya yang mampu membuat saya berimajinasi bahwa hutan tersebut indah, dan saya pun jadi kepengin berkunjung ke sana untuk melihat pohon bernyanyi. Menurut saya, narasi cerpen ini nggak kelam seperti beberapa cerpen lainnya. Karena itu, cerpen ini menjadi salah satu cerpen favorit saya.

Cerpen favorit saya yang ketiga adalah Akhir. Saya suka dengan ceritanya karena berbeda dengan cerpen lainnya. Cerpen ini berkisah tentang sebuah keluarga yang hangat dan harmonis. Kalau cerpen lain sebagian besar ceritanya tentang hubungan seorang ibu dan anaknya. Selanjutnya adalah Bengkel Las Bu Ijah. Cerpen ini bercerita tentang hati seorang anak yang bentuknya sudah nggak bagus lagi karena ditinggal mati ayahnya yang selalu mengguyurnya dengan cinta dan kasih sayang. Lagi-lagi saya suka ceritanya karena beda dari cerpen lainnya.

Aku mencintaimu tanpa mengerti bagaimana, sejak kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Aku mencintaimu seperti ini, karena tak ada cara lain untuk mencintai.* (Hlm. 164)

(*) Pablo Neruda, Soneta XVII

Cerpen terakhir favorit saya adalah Istri Paling Sempurna. Kutipan di atas merupakan kutipan dari cerpen tersebut. Cerpen ini berkisah tentang cinta seorang suami pada istrinya. Melalui penyampaian Clara yang amat manis, saya bisa merasakan betapa dalam rasa cinta sang suami pada istrinya–yang menurutnya istri paling sempurna dan selalu terlihat cantik dalam keadaan apa pun. Dalam cerpen ini, saya pun dapat merasakan cinta seorang ibu yang teramat dalam pada anaknya, meskipun anaknya sudah lama sekali tak bersamanya.

Dongeng-dongeng yang ada di setiap cerpennya dapat melatih daya imajinasi kita. Malaikat Jatuh adalah buku yang bagus dibaca nggak cuma buat anak-anak, tetapi juga remaja maupun dewasa. Saya suka banget dengan gaya berceritanya Clara Ng yang manis dan bikin terhanyut ke dalam semua ceritanya. Clara Ng sangat lihai bermain diksi. Beliau adalah penulis yang bisa saya bilang kaya akan diksi terlihat dari narasi cerpennya. Semua cerita dalam buku ini bagus dan saya suka semuanya, meskipun beberapa cerpen narasinya kelam.

Kovernya pun sangat manis dengan warna biru yang lembut. Sangat bertolakbelakang dengan semua cerpennya yang gelap dan ending yang nggak manis yang disajikan penulisnya. Tapi, yang bertolakbelakang itu terkadang bagus juga. Coba kalau kovernya gelap ditambah ceritanya gelap, kurang menarik, kan? 😀 Saya kira review saya sudah cukup segini. Bingung mau ngomongin apa lagi saking kagumnya sama kelincahan Clara Ng dalam bermain-main dengan diksi. Jadi cerita yang kelihatannya kurang menarik pun tetap seru buat dibaca, hehehe. xD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s