PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2014, Review Buku

[Review] In the Bag by Kate Klise


18751885
http://www.grazera.com

Judul Buku: In the Bag

Penulis: Kate Klise

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan 1: Oktober 2013

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-22-9973-1

Halaman: 376 halaman

Harga: Rp 58.500,- (www.grazera.com)

Rating: 4/5

Sinopsis

Dua orangtua tunggal mengira mereka terlalu sibuk untuk kencan. Dua remaja tidak berhenti bertukar email rahasia.

WEBB

Aku mengambil tas yang keliru di bandara. Dad tidak akan berhenti mengomeliku.

ANDREW

Aku tidak bisa berhenti memikirkan perempuan yang duduk di 6B pada penerbangan ke Paris.

COCO

Kenapa sih Mom menyuruhku membawa pakaian dalamku yang paling jelek? Dan sekarang tasku hilang!

DAISY

Aku tidak punya waktu untuk memikirkan si 13C yang menyelipkan pesan ke tasku. Lebih baik kuatasi soal hilangnya tas anakku sebelum liburan kami berantakan.

Jatuh cinta, kadangkala, memang begitu mudah dan penuh risiko seperti tertukar bagasi pada penerbangan internasional.

Review

Pertama tertarik pada buku ini karena kover dan subjudul yang tertera di bagian kover depannya, yang membuat saya penasaran dengan ceritanya dan kemudian memasukkan buku ini ke dalam list buku yang wajib dikoleksi. 😀

In the Bag merupakan novel dewasa d/a muda-dewasa pertama yang ditulis oleh Kate Klise. Kate Klise adalah seorang penulis yang telah menulis banyak sekali buku anak-anak dan beberapa buku anaknya tersebut telah meraih award, seperti Bank Street Best Books of the Year 2011, NPR’s Best Children’s Books for the Holidays 2008, Junior Library Guild Selection 2014, dan lain-lain. Bahkan salah satu buku anaknya yang berjudul Dying to Meet You (buku pertama dari seri The 43 Old Cemetery Road) telah masuk nominasi Top Awards in 17 States. Keren banget ya? Saya sih berharap semoga Kate Klise mengeluarkan novel dewasa lainnya.

Buku ini mengisahkan tentang dua orangtua tunggal yang liburan ke Eropa dengan anak mereka satu-satunya. Kisah dimulai ketika Webb Nelson salah mengambil tas bagasi saat tiba di Paris. Tas cangklong hitamnya tertukar dengan tas milik seorang gadis berusia 18 tahun bernama Coco Sprinkle. Coco merupakan anak tunggal Daisy Sprinkle yang berprofesi sebagai seorang chef berbakat di Chicago.

Modus operandi Sprinkle sejak tiba di Chicago hampir dua dasawarsa lalu adalah bergonta-ganti restoran, dan dengan sentuhan ajaibnya mentransformasi satu demi satu menjadi tempat bersantap paling wajib didatangi di kota ini. (Hlm. 42)

Sementara itu, tajuk utama surat kabar tadi terus berkibar di dalam benakku seperti bendera musuh. “Apa yang Diinginkan Daisy Sprinkle?” (Hlm. 47)

Membaca tautan artikel surat kabar yang dikirimi pelayan yang dikenalnya beberapa tahun sebelumnya, membuat Daisy terus tenggelam dalam pertanyaan tersebut. Ia pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan kemudian menyimpulkan bahwa ia hanya butuh liburan singkat. Apakah benar hanya liburan yang diinginkan oleh Daisy Sprinkle? Semakin ke belakang kita akan mengetahui hal yang benar-benar diinginkan Daisy.

Kalaupun dia ingin membangkang, aku lebih suka jika setidaknya dilakukan dengan cara yang menarik. Bukannya asyik dengan permainan komputer yang menumpulkan otak atau apa pun itu yang sedang dia hadapi. Kenapa dia tidak mengagumi gadis-gadis muda cantik dan jatuh cinta seperti yang kulakukan saat seusianya? (Hlm. 103)

Aku merasa ingin mengulurkan tangan dan menghujaninya dengan ciuman. Dia kelihatan begitu bahagia. Dan penuh harapan. Ini putriku. Aku senang dia mampu merasakan sukacita sebesar itu. (Hlm. 108)

Tubuhnya melunglai, dengan kesal dia menatap piring. Matanya lembap oleh airmata. “Kau mencoba menghancurkan hidupku, ya? Kau ingin semua orang sendirian dan tidak bahagia. Persis seperti dirimu.” (Hlm. 110)

Dalam novel ini, kita tak hanya melihat kisah percintaan remaja dan orangtua saja, tetapi juga kebimbangan dua orangtua yang melihat anak-anaknya selalu asyik sendiri dengan dunianya, emosinya yang naik-turun dan sikapnya yang berubah-ubah. Kisah tersebut terbagi menjadi tujuh bagian dan disajikan secara apik oleh Kate Klise. Semua kisahnya ditampilkan secara berurutan, dimulai dari kisahnya Webb, Coco, Andrew dan terakhir Daisy. Begitu seterusnya sampai hari ketujuh berakhir.

Entah memang kebetulan atau memang sudah takdirnya tas mereka tertukar, kejadian tersebut berujung pada kisah cinta mereka di masa modern dengan cara yang modern yakni saling berkirim email. Webb tidak diduga jatuh cinta dengan Coco setelah mereka secara intens saling berkirim pesan melalui email. Diam-diam mereka merencanakan sebuah pertemuan di Paris untuk menukar kembali tas mereka masing-masing tanpa diketahui, baik oleh Andrew maupun Daisy. Akibat insiden keju bau yang terjadi di Paris, terjadilah kesalahpahaman di antara mereka.

Petualangan sehari mereka terjadi saat ibu Coco pergi ke Madrid untuk membantu teman baiknya, Solange Bartel, dalam pembukaan pameran yang berjudul “Love in the Postdigital Age“. Kebetulan pula desainer pameran yang dipekerjakan Solange untuk pembukaan pameran tersebut adalah Andrew, ayah Webb. Andrew pun seketika terkejut saat melihat Daisy–wanita yang mampu memikatnya saat naik pesawat dan yang di tasnya ia masukkan selembar kertas berisi pesan darinya–berada di sana. Berkat pameran tersebut akhirnya kedekatan di antara mereka pun terjalin.

Suatu ketika Andrew dan Daisy mengadakan suatu perjanjian santap malam dengan mengajak anak mereka masing-masing di Barcelona. Webb dan Coco saling terkejut ketika mereka bertemu di sana. Di tengah-tengah santap malam, terjadi kesalahpahaman antara Andrew dan Daisy yang disebabkan karena Andrew yang tidak menjelaskan mengenai pesan yang ia masukkan ke tas Daisy dan karena ia tidak memberikan email-nya saat Webb menyuruh mereka saling bertukar email.

Saya suka dengan plot yang disajikan penulis meski cerita dalam novel ini hanya berkisar tentang Webb, Coco, Andrew dan Daisy, tapi nggak membosankan. Petualangan-petualangan yang dihadirkan membuat saya ingin terus lanjut membacanya. Selain itu, saya juga suka dengan kovernya. Kovernya begitu menggambarkan isi dari novelnya. Terjemahannya pun mudah dicerna dan nggak berat. Pertama kalinya saya membaca karya Kate Klise dan nggak kecewa. 😀

Ada dua buah pesan yang saya dapatkan dari novel ini yaitu jatuh cinta tidak mengenal usia dan waktu, siapa pun bisa mengalaminya dalam dimensi waktu yang tidak dapat diprediksikan. Pesan yang kedua adalah jujurlah sejak awal sebelum kebohongan yang kita lakukan sebelumnya mempersulit diri kita sendiri. Membaca novel ini membawa kita merasakan sebuah petualangan cinta yang seru dan menarik. ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s