PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2014, Review Buku

[Review] Blackjack by @Clara_Ng & @FeliceCahyadi


image

Judul Buku: Blackjack
Penulis: Clara Ng & Felice Cahyadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan 1: Juli 2013
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-979-22-9744-7
Halaman: 320 halaman
Harga: Rp 51.000,- (www.gramediaonline.com)
Rating: 2.5/5

Sinopsis
Cantik, kaya, dan baik hati adalah modal bagi Ashlyn untuk mendapatkan lelaki yang sempurna. Lelaki yang mencintainya. Namun, jalan hidup berkata sebaliknya.

Ashlyn jatuh cinta setengah mati pada Jaeed, sesama mahasiswa Indonesia di Newcastle, Inggris. Jaeed-lah yang memperkenalkan Ashlyn pada permainan roulette, slot machine, dan permainan kartu blackjack. Jaeed-lah yang mengeruk uang Ashlyn untuk membayar utang judinya. Dan Jaeed pula yang mempermainkan cinta Ashlyn.

Mampukah Ashlyn bertahan ketika akhirnya judi merampas seluruh hidupnya? Membuatnya terlunta-lunta di London?

Diangkat dari kisah nyata, cerita Ashlyn adalah kisah yang bisa terjadi pada setiap perempuan.
…Because life is not a gamble.

Review
…Because life is not a gamble.

Pernahkah kamu mengalami kejadian yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya? Kejadian yang benar-benar di luar ekspektasi kamu. Misalnya, luntang-lantung tak punya tujuan juga tempat tinggal dan merasa sendiri sekaligus bingung akan tindakan apa yang harus diambil. Inilah dua dari beberapa kejadian buruk yang dialami oleh Ashlyn selama kuliah di Inggris.

Buku yang terinspirasi dari kisah nyata ini ditulis oleh Clara Ng dan Felice Cahyadi. Clara Ng merupakan penulis yang namanya sudah begitu dikenal di dunia perbukuan Indonesia. Ia tak hanya menulis novel dan cerpen, tapi juga menulis cerita anak-anak, dengan berbagai lintas usia dan genre. Saya sudah baca beberapa karya duetnya dengan penulis lain dan selalu puas dengan karya-karyanya. Ingin rasanya bisa menjadi seperti dirinya yang tak hanya menulis novel untuk dewasa maupun remaja, tetapi juga anak-anak.

Sementara itu, Felice Cahyadi sendiri merupakan penulis yang tidak hanya menulis novel, tetapi juga menulis skenario, puisi, dan cerpen. Kini Ia berkarier sebagai script editor pada divisi Film, Drama, and Sport di Trans TV. Semenjak duduk di bangku SD, Felice sudah cinta menulis fiksi. Jujur, ini kali pertama saya mendengar namanya dan membaca bukunya (buku duet lagi bukan buku solo). Jadi, saya engga bisa berkomentar lebih jauh mengenai karyanya, hehehe.

Kisah yang terdapat dalam buku ini merupakan kisah yang (mungkin) juga telah atau sedang dialami oleh perempuan lain dalam waktu yang berbeda. Kisah di mana seorang wanita yang dibodohi cinta dan terjatuh ke dalam lubang yang sama berkali-kali. Kisah di mana cinta dapat mengalahkan segalanya, termasuk logika. Jadi ingat lagu Tak Ada Logika miliknya Agnes Monica deh, hahaha…

Kisah ini merupakan kisah seorang perempuan bernama Ashlyn yang kuliah di Newcastle, dan kemudian jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan seorang lelaki bernama Jaeed Hassan — yang juga merupakan seorang warga negara Indonesia sama seperti dirinya. Sayangnya, lelaki yang dicintainya tersebut bukan seperti lelaki yang Ashlyn bayangkan selama ini. Dan sayangnya lagi, Ashlyn selalu saja luluh pada kata-kata yang diucapkan Jaeed dan hal-hal yang dijanjikan olehnya.


Cukup heran juga sih ternyata orang seperti Ashlyn itu benar-benar ada. Kedua penulis telah berhasil membuat saya kesal sendiri dengan sikap Ashlyn yang terus saja menuruti permohonan Jaeed dan selalu tidak percaya pada nasehat juga ucapan Laura — salah seorang sahabatnya — mengenai Jaeed. Bahkan Ashlyn sendiri pun pernah melihat Jaeed masuk ke sebuah kasino. Masih engga habis pikir saja kok bisa-bisanya Ashlyn (masih) tetap percaya pada Jaeed dan selalu termakan oleh janji manis yang diucapkan Jaeed.

Kalau dicermati, hampir tidak ada sikap baik yang benar-benar bisa dicontoh dari seorang Jaeed. Jaeed memiliki sikap yang seenak jidat, tidak tahu diri, tidak peduli pada akibat yang telah Ia lakukan terhadap Ashlyn, dan hanya bisa menyalahkan orang lain atas apa yang telah diperbuatnya. Jaeed bersikap baik bila ada perlunya saja. Terlihat dari sikapnya terhadap Ashlyn ketika dirinya mau meminjam uang atau memanfaatkan (entah) kebodohan atau kepolosan Ashlyn.

Beruntungnya, Ashlyn masih punya orang-orang yang peduli terhadapnya dan membantunya ketika Ia benar-benar dalam keadaan terpuruk. Tak bisa saya bayangkan bila berada di posisi Ashlyn, kemudian tak ada satu orang pun yang peduli dan mau membantu saat mengalami keadaan sulit. Mungkin saya akan melakukan hal yang sama seperti yang Ashlyn pikirkan.

Tema yang diangkat saya pikir masih relevan dengan keadaan saat ini karena kejadian yang menimpa Ashlyn bisa dialami oleh siapa saja dan kapan saja. Tokoh-tokoh yang ditampilkan pun memegang peranan penting dan saya jatuh cinta dengan tokoh Sammy yang cool-cool gimana gitu. 😀 Saking sukanya, di tengah-tengah cerita saya pun sempat berpikir kenapa Ashlyn tidak putus saja dengan Jaeed dan lalu menjalin hubungan dengan Sammy, haha.

Sayangnya, cerita kedekatan Ashlyn dan Sammy tidak terlalu ditampilkan di sini. Padahal ketika adegan di mana Ashlyn dan Sammy merencanakan untuk membentuk klub retret, saya berharap kelanjutan dari adegan tersebut ada. Memang cerita dalam buku ini terpusat pada Ashlyn dan Jaeed, namun tak ada salahnya bila diceritakan sedikit tentang retret tersebut, hehe. Saya merasa ada sedikit bagian yang hilang dari buku ini dan saya pikir kekurangan buku ini hanya itu saja. 😀

Salut sama kedua penulis yang mampu mengemas kisah Ashlyn dengan sangat baik. Hanya saja sesekali saya merasa bosan dengan adegan antara Jaeed dan Ashlyn, di mana Ashlyn lagi-lagi tertipu oleh kata-kata manis (namun menyesatkan) yang Jaeed ucapkan. Mungkin kebosanan akan adegan tersebut bisa sedikit hilang bila adegan antara Ashlyn dan Sammy ditambahkan *tetep* kkk. xD Bagi saya, — yang tidak pernah mengalami apa yang dialami Ashlyn (dan semoga tidak akan menimpa saya juga teman-teman) — cerita yang disampaikan penuh dengan pelajaran yang bisa dipetik dan dijadikan suatu pembelajaran hidup.

Salah satunya adalah jangan cepat termakan oleh buaian tentang cinta dan jangan mau dibodohi oleh cinta. Secinta-cintanya kita pada seseorang, namun tetap harus melibatkan logika. Karena hidup ini tidak hanya soal cinta dan pasangan yang kita cintai, tetapi juga diri kita sendiri. Jangan karena rasa cinta kita yang besar terhadap seseorang menjadikan kita orang yang tak punya akal sehat dan merusak kebahagiaan juga kehidupan kita. Sebagai penutup, saya akan mengutip kata-kata yang diucapkan oleh salah satu tokoh dalam cerita ini yaitu Tante Erly pada Ashlyn.

“Dari segala kebodohan, kebodohan cinta adalah kebodohan yang paling bodoh.” (Halaman 206)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s