Review 2014, Review Buku, Stiletto Book

[Review] Pre Wedding Rush by @sepatumerah


stiletto preweddingrush cover_FINALJudul Buku: Pre Wedding Rush

Penulis: Okke ‘Sepatumerah’

Penerbit: Stiletto Book

Cetakan I: Desember 2013

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-7572-21-8

Halaman: 205 halaman

Harga: Rp 33.600 (www.stilettobook.com)

Rating: 3.5/5

Sinopsis

“Lo … nggak rela gue nikah dengan Dewo?” Aku memberanikan diri untuk menembaknya.
“Apa masih penting, Nin? Gue rasa enggak, udah nggak penting.” Lanang sama sekali tidak menatapku.
“Penting, Nyet. Penting buat gue.” Suaraku terdengar parau, “Lo nggak rela gue menikah?”
“Sudahlah, Nin. Lupakan. Gue ngaco aja tadi,”
“Lanang. Please jawab. Lo nggak rela?” Suaraku melirih.
“Nggak!” Ia menatap manik mataku,”Puas lo?”
Life goes on. Tapi terkadang ada kenangan-kenangan indah yang membuat seseorang enggan melangkah menuju masa depan. Itulah yang terjadi dengan Menina. Hubungannya dengan Lanang, sang mantan pacar, begitu membekas di hatinya, bahkan sampai ia dilamar oleh pria lain yang lebih mencintainya.

Ketidakmampuannya melupakan masa lalu membuat Menina secara impulsif memutuskan melakukan perjalanan terakhir bersama Lanang ke Yogyakarta. Siapa yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi? Saat Menina dan Lanang berada di Yogyakarta, terjadilah gempa bumi 5.9 SR yang memakan banyak korban.

Menina menyaksikan begitu banyak hal yang membuatnya kembali berpikir tentang hubungannya bersama Lanang dan juga calon suaminya. Apakah yang terjadi pada mereka berdua?

Review

Novel yang ditulis oleh Okke ‘Sepatumerah’ ini berkisah tentang seorang wanita bernama Menina Putri Amanda yang tiba-tiba dilamar oleh kekasihnya yang bernama Dimas Sadewo, tepat di hari ulang tahunnya. Tidak seperti pasangan lainnya yang bahagia bila dilamar kekasihnya, yang dirasakan Menina justru sebaliknya.

Kebimbangan akan perasaan dan keputusannya yang spontan dalam menerima lamaran Dewo semakin menjadi ketika Menina bertemu kembali dengan Lanang Andreadi Kusumo — mantan kekasih yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Menina yang membutuhkan teman cerita akhirnya memutuskan untuk bercerita pada Lanang melalui email tentang dirinya yang dilamar oleh Dewo. Email pun bersambut.

Singkat cerita, Lanang yang berencana balik ke Yogya dan Menina yang mau ke Surabaya — untuk mengurus lamaran resminya — pergi bareng dengan kereta api. Berpacaran dengan Lanang bertahun-tahun lamanya ternyata masih menyisakan perasaan terhadapnya, pun yang dirasakan Lanang. Hal tersebutlah yang membuat Menina secara impulsif memutuskan untuk ikut turun dengan Lanang di Yogyakarta, dan menunda kepergiannya ke Surabaya.

Tanpa diduga bencana gempa bumi terjadi di Yogyakarta. Akibat bencana gempa bumi dan segala hal yang terjadi saat itu membuat Menina merenungkan banyak hal, termasuk hubungannya dengan Dewo dan Lanang. Rasa penasaran Menina akan alasan Lanang meninggalkan dirinya tiga tahun lalu akhirnya terungkap. Namun, semua itu tidak mengubah keadaan dan hubungan mereka saat ini. Terlebih setelah ia mendengar percakapan antara Lanang dan Ayako. Akankah Menina kembali pada Lanang? Bagaimana hubungannya dengan Dewo?

Tokoh utama dalam novel ini, yaitu Menina, Lanang, dan Dewo. Karakter ketiga tokoh ini memiliki sifat yang berbeda satu sama lain. Menina yang super berantakan; Lanang yang tidak pernah menetap di satu tempat, cepat bosan, dan memiliki hasrat yang tinggi dalam dirinya; serta Dewo orang yang well-planned, baginya kehidupan itu seharusnya menetap, settling down, punya rumah, beranak-pinak, dan lain-lain.

Kita akan merasa iba dengan Dewo — yang perhatian dan amat sayang sama Menina — yang terus saja dibohongi Menina. Kita pun akan dibuat kesal dengan sikap Lanang yang selalu saja berusaha membuat Menina goyah akan perasaannya sendiri. Di samping itu, kita juga dibuat gregetan dengan sikap Menina yang mudah tergoda, dan kurang bisa menjaga dan mengerti perasaan orang yang menyayanginya.

Pendeskripsian saat terjadinya gempa dan pasca gempa tergambar dengan jelas. Aku suka dengan idenya yang memasukkan bencana gempa bumi Yogya yang terjadi pada 27 Mei 2006 lalu ke dalam cerita. Setting kejadian tersebut membuatku browsing beritanya dan mengingatkanku bahwa (hampir) delapan tahun yang lalu Yogyakarta pernah diberi ujian yang cukup besar.

Tokoh figuran dalam cerita ini tidak begitu banyak dan tidak sering dimunculkan. Alur ceritanya campuran dan tidak terlalu banyak mengambil setting tempat. Dalam novel ini, selain mendapat info yang tadinya tidak begitu tahu menjadi tahu, dan seolah-olah ikut merasakan betapa mengerikannya saat gempa tersebut terjadi, kita juga akan mendapatkan pelajaran tentang kehidupan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s