PT Gramedia Pustaka Utama, Review 2014, Review Buku

[Review] Jinx by Meg Cabot


image
http://www.gramediaonline.com

Judul Asli: Jinx

Judul Terjemahan: Kutukan Sial (Jinx)

Penulis: Meg Cabot

Alih Bahasa: Caecilia Dian Pratiwi

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan I: Maret 2013

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-22-9396-8

Halaman: 248 halaman

Rating: 4/5

Sinopsis

Sial di sini, sial di sana, sial di mana-mana…

Nasib sial sepertinya merendengi Jean ke mana pun dia pergi, sampai-sampai semua orang memanggilnya Jinx, alias orang yang ketiban sial terus. Nasibnya itu pula yang membuatnya terpaksa mengungsi ke Manhattan, ke rumah paman dan bibinya.

Namun, sepertinya kesialan terus mengikuti Jinx hingga ke sana. Mulai dari tertabrak sepeda pada hari pertama, hingga berselisih dengan Tory, sepupunya. Belakangan, Jinx mengetahui sepupunya itu menyimpan rahasia yang dapat membahayakan mereka semua.

Jinx sadar yang menimpanya selama ini bukan sekadar nasib buruk… bahkan mungkin justru “kutukan” itu yang dapat menyelamatkannya.

Review

Ini kali pertama aku ‘mencicipi’ karya Meg Cabot. Mulanya karena membaca sinopsisnya yang menarik dan bikin penasaran yang akhirnya memutuskanku untuk membelinya. Setelah ‘memakan’ bukunya sampai habis, ternyata memang ceritanya seru dan menarik. Ibarat makanan novel ini rasanya lezat! *yummy* Ditambah dengan tokoh-tokoh yang dimunculkan, khususnya Zach Rosen *starstruck*. Di sini aku tidak akan membicarakan ceritanya secara mendetail, tapi aku akan membahas tiga tokoh utamanya.

Novel ber-genre teenlit ini mengisahkan seorang cewek bernama Jean Honeychurch yang selalu bernasib sial. Kesialan yang menimpanya tak mengenal waktu dan tempat. Kesialan demi kesialan selalu menyapanya sampai-sampai semua orang memanggilnya dengan sebutan Jinx, yang artinya orang yang tertimpa sial terus. Sudah terbang melintasi negara bagian pun Jinx masih ditimpa kesialan. Misalnya, tidak ada seorang pun yang menjemputnya di bandara, sopir taksi yang tidak membawakan kopernya, tidak ada yang mengangkat teleponnya, hampir tersandung dan jatuh mencium trotoar, dan kesialan lainnya.

Jinx terpaksa meninggalkan Hancock dan menghabiskan satu semester sekolahnya, serta liburan musim panasnya di rumah tante dan pamannya — tepatnya di New York City — karena mantan pacarnya yang obsesif. Jinx yang berasal dari Iowa mengalami benturan budaya yang dahsyat setelah apa yang dialaminya dan melihat pergaulan sepupunya yaitu Tory — yang sifatnya sudah jauh berbeda dibandingkan dengan lima tahun lalu — dengan teman-temannya. Budaya pergaulan mereka amat jauh berbeda dengan budaya di Hancock.

“Hal ini menakutkan bagimu, kekuatan yang baru saja kau sadari ini. Mungkin itu yang menyebabkan kesialanmu. Kau sendiri yang menyebabkannya, melalui rasa takutmu.” (Hal. 153)

Buruknya Jinx adalah ia mudah tertipu oleh sikap manis Tory terhadapnya — setelah ia kembali dari menjalani terapi — dan tidak mau mencoba menghadapi ketakutan dalam dirinya. Jinx sebenarnya menyadari kekuatan yang dimilikinya, hanya saja ia tidak mau mengakuinya. Jinx selalu berkata bahwa ia tidak percaya dengan adanya sihir dan mantra.

Tokoh utama kedua dalam novel ini yaitu Zach Rosen. Zach adalah seorang cowok yang tenang, engga gampang marah, dan sangat care pada cewek yang disukainya yaitu Jinx. Sedari awal bertemu dengannya di gazebo, Zach langsung terpikat padanya.  Hanya saja Jinx tidak menyadarinya dan terus beranggapan dan berpikiran bahwa Zach menyukai Petra, seperti yang dikatakan Robert saat mereka berkumpul di gazebo.

Kita akan dibuat tenggelam dengan adegan-adegan antara Jinx dan Zach. Satu-satunya part dalam novel ini yang selalu aku tunggu adalah adegan mereka berdua. Melihat sikap Zach terhadap Jinx membuatku berandai-andai, “andaikan Zach itu nyata” hahaha… Cara Zach memperlakukan cewek yang disukainya akan membuat kita jatuh hati dan (kalau kata orang Sunda, khususnya cewek) bikin ngacay. =D Sejak tokoh ini dimunculkan, aku sudah langsung kepincut padanya. Aku juga suka dengan kedekatan yang terjalin antara Jinx dan Zach.

Tokoh lainnya yang sering dimunculkan dalam novel ini yaitu Tory/Torrance. Tory merupakan salah seorang sepupu Jinx, anak Aunt Evelyn dan Uncle Ted. Tory yang sekarang sikapnya amat jauh berbeda dengan Tory lima tahun lalu. Lima tahun lalu, Tory adalah orang yang manis dan menyenangkan. Sekarang sikapnya yang tidak suka dengan Jinx pun sangat terlihat.

Singkat cerita, Tory percaya akan cerita mengenai nenek moyangnya, Branwen, yang seorang penyihir. Cerita tersebut pun terus berlanjut sampai ke generasi Grandma, dan ia memberitahukan bahwa putri pertamanya — hanya anak perempuan pertama, bukan anak setelahnya — akan mendapat anugerah itu. Tory bersikeras bahwa yang memperoleh anugerah itu adalah dirinya.

Aku punya ucapan terima kasih yang sudah kupersiapkan, khusus untuk Jinx. (Hal. 191)

Tory yang sangat tidak menyukai Jinx suatu ketika menyusun sebuah rencana buruk hanya untuk mempermalukan Jinx. Saking percayanya dengan perubahan yang telah dialami Tory, Jinx pun jatuh ke dalam jebakannya. Tory cemburu dengan kekuatan sihir yang dimiliki Jinx. Ia berpikir bahwa seharusnya penyihir yang lahir di generasinya adalah dirinya, bukan Jinx. Tory juga cemburu dengan mantra sihir Jinx — untuk membuat cowok yang disukainya terpikat padanya — yang dulu berhasil.

Mengenal Tory, kita akan dibuat kesal dengan sikap dan tingkahnya beserta dua orang temannya. Tak hanya itu, kita juga akan sedikit dibuat kesal dengan Zach yang menunda-nunda menyatakan perasaannya pada Jinx (padahal sebenarnya kita tahu bahwa cewek yang disukainya adalah Jinx bukan Petra). Tidak terlalu banyak tokoh figuran yang ditampilkan dalam novel ini. Namun, baik tokoh utama maupun figuran karakternya tergambar dengan jelas.

Salut buat alih bahasa novel ini. Terjemahannya sangat mudah dimengerti. Membaca novel ini seperti bukan membaca buku terjemahan. Kovernya pun menarik dan manis dengan warna orange-nya meskipun simpel. Semoga karya-karya Meg Cabot lainnya yang belum diterjemahkan bisa segera diterjemahkan (dengan alih bahasa yang sama).

Iklan

3 thoughts on “[Review] Jinx by Meg Cabot”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s