PlotPoint, Review 2013, Review Buku

[Review] Pintu Harmonika by @clara_ng & @cintapuccino


www.goodreads.com
http://www.goodreads.com

Judul: Pintu Harmonika

Penulis: Clara Ng & Icha Rahmanti

Penerbit: PlotPoint Publishing

Terbit: Januari 2013

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-9481-10-5

Halaman: 307 halaman

Harga: Rp 45.900 (www.gramedia.com)

Peresensi: Launa Rissadia

Rating: 3.5/5

Sinopsis
Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surga di bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan…begitu bahagia hanya dengan berada di situ?
Rizal, Juni, dan David menemukan surga lewat ketidaksengajaan; buka pintu harmonika, berjalan mengikuti sinar matahari, dan temukan surga. Surga yang tersembunyi di belakang ruko tempat tinggal mereka.

Walau mereka berbeda usia dan tidak juga lantas bermain bersama, surga membuat mereka menemukan bukan hanya sahabat, tetapi juga saudara dan keluarga. Ketika surga mereka akan berakhir, semangat mempertahankannya membawa mereka pada sebuah petualangan lewat tengah malam. Apa pula hubungannya dengan pencitraan Rizal, masalah Juni di sekolah dan bulu hitam misterius yang berpendar cantik temuan David serta suara-suara misterius di atap rukonya?

It’s never easy being a parent, and it’s tough being a kid. Most of us in Pintu Harmonika experience both worlds… From Clara Ng, Gina S Noer to the directors. We love theme, those relationship should be celebrated. That’s why this book is a small token of the beautiful, familiar push and pull relationship.Hope you enjoy this book, as a parent, as a son, or as a daughter.” – Sigi Wimala (Director Pintu Harmonika The Movie, Actress & Mum)

“Dunia remaja adalah dunia yang misterius. Dunia yang penuh bingung dan kompleksitasnya sendiri bukan hanya untuk orangtua yang tiba-tiba dilanda kebingungan tentang bagaimana cara menempatkan diri secara benar bersama remajanya, si remaja pun mengalami gamang akan keadaan dirinya. Novel ini bercerita tentang remaja, tentang dunianya, pikiran, ekspresi bahasa, gesture hidup remaja. Buku yang membuat kita mengenal remaja secara lebih.” – Ratih Ibrahim (Ibu dua remaja, Psikolog)

“Cerita unik yang membahas tentang kehidupan keluarga yang tinggal di ruko. Jarang tema ini diangkat. Dan bisa dibaca oleh semua umur.” – Luna Maya(Director Pintu Harmonika The Movie, Actrees)

“Novelnya bagus bisa nyeritain satu kejadian dari 3 sudut pandang gitu. Perjuangan Rizal, Juni, dan David buat mempertahankan surga juga seru. Akhir ceritanya juga gak terduga banget. Aku paling suka cerita ini diliat dari sudut David.” – Iqbaal (Personil Coboy Jr)

“Buku Pintu Harmonika merupakan sebuah buku tentang kisah seorang anak remaja yang mencari zona kenyamanan saat ditinggal oleh ibunya. Clara Ng & Icha Rahmanti menulis buku ini dengan menggunakan kalimat sederhana yang biasa digunakan oleh anak muda zaman sekarang, sehingga pembaca akan merasa hanyut dalam cerita yang mengalir indah. Dipenuhi dengan kisah bagaimana seorang anak remaja yang merasa tertekan hidup bersama ayahnya karena harus menjalani semua pekerjaan rumah seorang diri sehingga kemudian mencari kenyamanan di luar rumah. Novel ini sangat bermanfaat untuk menyadarkan kita semua, betapa anak-anak dan remaja pada dasarnya sangat mendambakan adanya rumah yang ramah anak. Jauh dari kekerasan, baik fisik maupun psikologis. Hanya dengan demikian akan lahir anak-anak dan remaja yang kreatif dan berkarakter di masa depan. Semoga.” – Kak Seto (Pemerhati Anak)

Review

“Gue percaya surga ada di mana-mana. Dan kepunyaan gue letaknya cuma selemparan kolor aja, dalam arti sebenarnya. Yah, walaupun butuh keahlian khusus untuk bisa melempar kolor dengan tepat dari atap ruko bokap ke surga dunia gue.”

Novel anak-anak yang ditulis oleh dua orang penulis yang telah mengeluarkan banyak sekali buku best-seller ini berisikan tiga catatan atau jurnal yang ditulis oleh tiga orang yang berbeda, yaitu Rizal Zaigham Harahap, Juni Shahnaz, dan David Christian Hadijaja a.k.a David Edogawa. Rizal adalah seorang remaja yang baru saja pindah ke kompleks ruko Gardenia Crescent dan hanya tinggal bersama ayahnya. Rukonya terletak diantara ruko milik Juni dan David.

Catatan atau jurnal pertama ditulis oleh Rizal. Ia memiliki hobi nge-blog, dan amat eksis di jagat maya sampai-sampai mempunyai sekumpulan fans yang menyebut diri mereka sebagai Rizal’s Angels. Di jagat maya, Ia menggambarkan dirinya sebagai seorang yang ganteng, kaya, ber-body six packs, dan sering jalan-jalan ke luar negeri. Sangat bertolak belakang dengan kenyataannya. Nyatanya, Rizal hanyalah seorang anak dari pemilik toko kelontong yang telah ditinggal pergi oleh ibunya untuk selama-lamanya. Dan body atletis yang dielu-elukannya itu diperoleh dari seringnya Ia mengangkat galon air minum dan tabung gas.

Awal mula Rizal menemukan Surganya yakni ketika melarikan diri dari tugas yang akan diberikan oleh ayahnya. Dalam kesendiriannya di Surga, dalam sunyi, tanpa sadar pipinya telah dibasahi oleh air yang luruh dari matanya. Ia pun teringat akan ibunya. Di sana pulalah Ia bertemu dengan David untuk pertama kalinya. Petualangan mereka dimulai dengan tertancapnya sebuah plang kayu besar yang menandakan bahwa kebahagiaan mereka di Surga di kompleks yang garing itu akan segera berakhir.

Untuk menyelamatkan Surganya bersama ‘adik-adik’nya, Rizal membuat sebuah rencana yang disebut dengan Progressive Indirect Attack (PIA). Singkatnya, Rizal berhasil melakukan operasi PIA tersebut bersama dengan Juni. Setelah sebelumnya saat sepulang sekolah, Ia berhasil mencopot delapan plang penunjuk arah ke Surga. Total daripada plang tersebut yaitu 14 plang. Operasi PIA yang mereka jalankan pun sukses besar.

“Ibarat melihat jelangkung (memang bagaikan jelangkung yang datang nggak diundang pergi nggak diantar), papan-papan kecil penunjuk arah dan informasi Surga sudah terpasang lagi di tempat semula, seolah kejadian semalam nggak pernah terjadi.”

Melihat penunjuk-penunjuk arah yang telah dicopot terpasang kembali membuat inisiatif Juni pun muncul. Ia pun membuat sebuah info di kertas HVS kuning berukuran dua sentimeter. Operasi PIA part 2 sedikit lebih sulit dibandingkan yang pertama. Cukup banyak rintangan yang mesti mereka lalui. Namun, pada akhirnya operasi tersebut berhasil dijalankan dengan sukses.

Jurnal yang ditulis Rizal berisikan usahanya dalam menyelamatkan surga, kehidupan remajanya di sekolah, dan perasaannya terhadap satu-satunya cewek yang cuek pada dirinya, yaitu Cynthia Amaranti Fizzikri Asnan. Demi menaikkan nilai matematikanya yang jeblok, Rizal pun menerima tawaran gurunya yakni membantu grup dance Cynthia mencari dana. Namun, mencari dana tak semudah menaikkan popularitasnya di jagat maya. Dan Rizal pun merasa malu ketika suatu saat Cynthia mengetahui yang sebenarnya tentang kehidupannya.

“Masa skorsku berakhir hari ini. Aku akan kembali ke sekolah besok. Tapi pertanyaannya, apakah aku betulan akan terbebas dari masalah-masalah ini?”

Jurnal kedua ditulis oleh Juni Shahnaz, seorang cewek yang menyebut dirinya sebagai tahanan rumah. Penyebab Ia menjadi tahanan rumah yaitu karena insiden di sekolah di mana Ia telah mendorong adik kelasnya yang bernama Manda. Yang ternyata Manda adalah anak dari klien bisnis ayahnya.Perbuatannya tersebut memengaruhi kondisi bisnis sablon keluarganya yang sedang tidak baik. Hubungan Juni dengan ayahnya pun kian berjarak dengan adanya insiden tersebut.

Dalam jurnalnya Juni tak hanya menceritakan tentang kesehariannya menjadi seorang tahanan rumah, tapi juga misinya menyelamatkan Surga bersama dengan Rizal, rasa bersalah yang dialaminya atas perbuatannya terhadap Manda yang mengakibatkan bisnis ayahnya semakin memburuk, dan kisah di balik awal mulanya Ia menjadi seorang pem-bully.

Catatan terakhir ditulis oleh David Edogawa. Ia adalah seorang anak yang sangat suka dengan Detektif Conan. Selain itu, David juga merupakan seorang anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, dan amat senang menyelidiki hal-hal misterius — yang menurutnya selalu ada alasan logis di balik terjadinya hal-hal misterius tersebut.

“Keadaan semakin aneh dan tidak masuk akal. Tahukah kamu apa yang saya temukan di atap tadi siang? Benda hitam di tiang jemuran itu adalah — bulu!”

Satu misteri yang telah berhasil David selidiki dan selesaikan adalah ditemukannya Merci — kucing milik Tante Linda — yang sempat hilang. Misteri terbesar yang sedang Ia selidiki adalah berkaitan dengan bulu berwarna pekat serta nampak berkilau dengan panjang sekitar dua jengkal yang ditemukannya diatap. Tak hanya itu, ada pula misteri lain yang selalu membuatnya bertanya-tanya, yaitu sikap mamanya yang semakin aneh terhadap dirinya. Hasil penyelidikannya terhadap dua hal misterius tersebut amat mengejutkan dirinya sendiri.

Ini pertama kalinya aku membaca novel anak anak. Mulanya karena membaca komen-komen yang mengatakan bahwa novelnya bagus, suka cerita dari sudut David, dan sebagainya yang di retweet oleh kedua penulis. Aku suka cara kedua penulis menyuguhkan kisah ketiga anak-anak dengan latar belakang yang berbeda di buku ini. Tak seperti novel anak-anak lainnya — yang tak membahas tentang percintaan –, di sini kedua penulis membahas mengenai percintaan, persahabatan, juga hubungan antara anak dengan orangtua.

Buku yang ditulis dalam bentuk catatan atau jurnal ini menghadirkan kisah dengan konflik yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan mungkin kini ada anak-anak yang sedang atau telah mengalaminya. Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju-mundur. Aku suka buku yang ceritanya menggunakan alur maju-mundur karena tidak membuat cepat bosan. 😀

Penyampaian karakter dari masing-masing tokohnya telah berhasil disampaikan oleh Clara Ng dan Icha Rahmanti dengan baik. Gaya bahasa yang digunakan pun sangat ‘anak-anak’. Sehingga mudah dipahami oleh anak berumur 8-12 tahun. Anak yang sedang beranjak menjadi seorang remaja pun tak ada salahnya membaca buku ini. Semua cerita disuguhkan secara menarik oleh kedua penulis.

Dari tiga sisi yang berbeda, aku suka cerita dari sisi Juni dan David. Namun, yang paling aku suka adalah cerita dari sisi David. Aku suka dengan karakternya David. Rasa ingin tahunya yang besar, juga kasih sayang dan cintanya yang dalam terhadap ibunya telah berhasil memikatku. Ending dan surat yang ditulis oleh mamanya David pun berhasil membuatku berkaca-kaca.

Seru dan menyenangkan sekali bisa membaca satu inti cerita dari tiga sisi anak-anak yang berbeda. Ditambah dengan ending yang tak terduga, kisah yang hangat, dan dua cerita terakhir David Edogawa yang sangat mengharukan semakin menambah daya pikat buku ini. Kekurangan buku ini hanya satu yaitu cukup banyaknya typo yang aku temukan di dalamnya. Beruntungnya typo tersebut hanya sedikit kesalahan ketik dan kurang titik pada beberapa kalimat saja sehingga tak terlalu menjadi masalah.

Sebagai penutup, aku akan kasih satu paragraf yang sangat aku suka dan menurutku amat menyentuh, yaitu:

“David sayang, kamu selalu menjadi inspirasi Mama untuk berkarya dan maju. Mama ingat kata-katamu selalu. “Dengerin ya Ma, life is like a piano. The white keys represent happiness and the black keys show sadness. But as we go through life, remember that the black keys make beautiful music too.” Itu suaramu. Selalu Mama dengar dan hidup di hati Mama, menyemangati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s