Merpati Pak Handoyo Tak Pernah Ingkar Janji oleh Mira W.

“Sejak lahir Ayah telah menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Sejak lahir hidupnya telah ditentukan. Nasibnya telah diatur. Jalannya telah digariskan. Dan semua itu menuju ke satu titik. Biara. Benarkah dia tidak punya hak untuk memilih? Benarkah tidak ada pintu lain untuknya?” (Hlm. 54)

Penebusan dosa, pergolakan batin, dan penemuan jati diri digambarkan secara gamblang dalam Merpati Tak Pernah Ingkar Janji karya Mira W. Setidaknya tiga hal itu yang saya tangkap selepas membaca novel roman tipis terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada 2009 melalui aplikasi iJakarta—Perpustakaan Digital Jakarta (dan tersedia juga di iPusnas—Perpustakaan Digital Nasional). Tidak setipis bukunya, tema yang diangkat cukup padat dan banyak pelajaran yang bisa kita petik. Dengan kata lain, novel ini bukanlah novel roman biasa. Saat membaca sinopsisnya saya pikir hanya menceritakan kisah percintaan Maria dan Guntur—seperti kebanyakan novel-novel roman yang pernah saya baca. Nyatanya, lebih daripada itu dan ceritanya berfokus pada Maria yang mengalami pergolakan batin atas segala hal yang menimpanya.

Merpati Tak Pernah Ingkar Janji memuat cerita tentang seorang anak bernama Maria yang hidupnya dikekang oleh ayahnya, Pak Handoyo. Maria tidak boleh melakukan apa pun di luar sepengetahuan ayahnya. Pak Handoyo-lah yang menentukan dengan siapa Maria boleh bergaul, serta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sepulang sekolah pun Pak Handoyo selalu memeriksa Maria. Jika Maria melakukan hal yang dilarangnya, Pak Handoyo tak segan-segan main tangan dan memarahi Maria. Singkatnya, Pak Handoyo memegang kuasa atas hidup Maria. Rasa bersalah akibat kejadian di masa lalu membuat Pak Handoyo berjanji kepada Tuhan untuk menebus dosanya dengan menyerahkan hidup Maria.

Lanjutkan membaca “Merpati Pak Handoyo Tak Pernah Ingkar Janji oleh Mira W.”

Delapan Cerita Kuno Indonesia-Korea Sarat Pesan dan Pelajaran

Cerita-cerita kuno atau legenda seperti dalam buku Cerita Kuno Indonesia-Korea 1 yang disusun oleh Lim Kyung-Ae dan diterbitkan Remaja Rosdakarya ini dapat sedikit mengenalkan kita pada kebudayaan kedua negara. Bagi masyarakat Indonesia maupun Korea sendiri, boleh jadi sudah hafal atau sudah kenal cerita-ceritanya. Meskipun begitu, menurut saya, cerita kuno senantiasa tetap patut dibaca dan diceritakan kembali.

Buku ini memuat delapan kisah kuno (empat cerita dari Indonesia dan empat cerita dari Korea) yang singkat dan menarik. Setiap cerita memiliki pesan yang dalam dan sarat pelajaran. Belum lagi dilengkapi dengan ilustrasi cantik dan berwarna yang cukup menghidupkan cerita, serta disajikan dalam dua bahasa. Kedelapan cerita kuno tersebut, yaitu:

Lanjutkan membaca “Delapan Cerita Kuno Indonesia-Korea Sarat Pesan dan Pelajaran”

Cinta dan Kehilangan oleh Ria N. Badaria

Di dunia ini tidak ada hubungan yang benar-benar abadi. Dalam hidup kita akan selalu ada yang datang dan pergi. Setiap orang tentu pernah merasakan kehilangan seseorang yang berarti. Ketika mengalaminya, dunia seolah-olah berhenti dan kadang menyalahkan diri atas apa yang terjadi. Seperti yang dialami Layda Arum, tokoh dalam novel terbaru sekaligus novel Metropop pertama karya Ria N. Badaria, Nothing Hurts Like Love, yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada Februari lalu.

Kehilangan dan rasa sakit tergambar jelas dalam diri Layda yang melindungi diri dan menutupi luka dengan merusak dan tidak memedulikan hidupnya.

“Cinta. Kata yang dikenal indah itu nyatanya mengerikan. Dalam wujudnya yang tergambar indah, nyatanya cinta dapat menghancurkan seseorang, bahkan mengubahnya menjadi sosok baru yang terlahir kembali dengan sifat baru.” (Hlm. 18)

Bagi Layda, cinta selalu menyakitkan dan hanya akan membuat dirinya terluka. Pengalaman cinta yang buruk dan kehilangan orang-orang tercinta telah mengubahnya dari perempuan berhati lembut, tidak menyakiti orang dengan perkataannya, dan menyenangkan menjadi berkepala batu, ambisius, tidak mudah diatur, egois dan arogan, serta berhati dingin. Juga mengambil pilihan yang tidak seharusnya dan malah membuat hidupnya semakin memburuk.

Lanjutkan membaca “Cinta dan Kehilangan oleh Ria N. Badaria”

Ketulusan Cinta yang Menggoreskan Luka oleh Ria N. Badaria

LRM_EXPORT_143561956038841_20190509_195924463Bagi segelintir orang, mengurusi kehidupan pribadi orang lain boleh jadi menyenangkan. Pertanyaan dan perkataan merisak yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar dihilangkan atau diubah, seperti kapan menyusul, kapan menikah, kok masih sendirian saja, pacarnya mana, dan lain-lain, sampai sekarang pun masih saja ada. Bagi beberapa orang, khususnya perempuan, mungkin hal itu tidak menjadi soal. Namun, bagi perempuan seperti tokoh dalam novel Let Me Be With You karya Ria N. Badaria mendapati pertanyaan semacam itu sangatlah mengganggu apalagi dari keluarga sendiri.

“Terlalu banyak hal yang membebaninya selama ini. Cinta yang dulu pernah dirasakannya malah menghancurkan jiwanya alih-alih membuatnya bahagia.” (Hlm. 104)

Let Me Be With You menceritakan tentang Kinanti Putri yang kerap direcoki pertanyaan kapan menyusul dan pertanyaan sejenis oleh keluarganya. Terlebih setelah kakak Kinanti, Harlan, menikah. Kehilangan seseorang yang sangat berarti dan sangat dicintai membuatnya belum siap membuka hati dan belum bisa melupakan rasa sakit yang dirasakannya meskipun sudah lima tahun. Bertemunya kembali Kinanti dengan Rivan, sahabat Harlan yang juga penulis novel best-seller Nothing Hurts Like Love, setelah sekitar 15 tahun dapat dikatakan rencana Tuhan dalam menyembuhkan hati Kinanti.

Saat acara pernikahan Harlan, tante Kinanti yang berdiri tak jauh dari Kinanti menduga Rivan kekasih Kinanti hanya karena ia melihat Kinanti sedang bersamanya. Seolah belum cukup pusing dengan kelakuan keluarganya, Kinanti dibikin terkejut dengan jawaban Rivan ketika ditanya kapan menyusul oleh kerabat Kinanti yang dituakan dan ucapan Rivan padanya. Kejadian itu menjadi awal munculnya gagasan untuk mengikuti rencana perjodohan keluarga Kinanti. Gagasan yang semula tampak sangat gila dan tidak mungkin di mata Kinanti, namun tetap dilakukan karena keadaan dan keduanya tidak memiliki pilihan.

“Untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun lalu, Kinanti bisa merasakan kembali betapa nyaman, tenang, dan membahagiakannya berada di dekat seseorang.” (Hlm. 169)

“Senyumnya dalam foto pernikahannya terlihat sangat kaku dan canggung, ia ingat sekali betapa tidak nyaman dan aneh rasanya saat itu. Belum ada kebahagiaan terasa, belum ada perasaan berbunga-bunga, belum ada cinta. Namun sekarang di saat cinta mulai menghangatkan perasaan dan membahagiakan hidupnya, mengapa Tuhan seperti ingin merenggut semuanya.” (Hlm. 198-199)

Lanjutkan membaca “Ketulusan Cinta yang Menggoreskan Luka oleh Ria N. Badaria”

Tiga Perempuan, Tiga Kehidupan oleh Clara Ng

LRM_EXPORT_621554675429247_20190206_223200482Setiap orang memiliki masalah dalam hidup dan pasti pernah mengalami kejadian buruk yang tak diinginkan. Terkadang tebersit keinginan atau harapan akan kehidupan yang berbeda. Begitu pun yang dirasakan oleh tiga tokoh perempuan dalam Tiga Venus karya Clara Ng. Tiga sahabat dengan tiga status dan tiga masalah berbeda yang dikisahkan Clara dapat dikatakan cukup mewakili perasaan, keadaan, maupun posisi khususnya para pembaca perempuan yang sedang atau pernah mengalami masalah dan dalam posisi yang tidak jauh berbeda.

Tiga Venus mengisahkan tentang tiga perempuan berusia 30-an bernama Juli, Emily, dan Lies dengan tiga kehidupan yang bertolak belakang dan tidak sesempurna pun senyaman kelihatannya. Hari-hari Juliana April Agustina yang seorang ibu rumah tangga kerap dipenuhi masalah seputar rumah tangga, kehamilan ketiga, dan ibu mertua. Amat jauh berbeda dengan yang dialami Emily Tjokro yang masih lajang dan Lies Meliala Suryaningsih yang seorang janda cerai. Hari-hari Emily dipenuhi dengan masalah seputar pekerjaan dan perjodohan, sedangkan Lies dihadapkan dengan masalah anak walinya yang hamil kemudian menggugurkan kandungan di tempat aborsi ilegal.

“Be careful with what you wish for.” (Hlm. 192)

Lanjutkan membaca “Tiga Perempuan, Tiga Kehidupan oleh Clara Ng”

Cinta, Identitas Kesukuan, dan Keimanan oleh Marianne Katoppo

Membaca Raumanen karya Marianne Katoppo mengingatkan pada kisah sahabat saya yang dulu pernah terhalang perbedaan suku dan keinginan orang tua kekasihnya yang kurang lebih sama dengan dua tokoh utama dalam buku ini. Bedanya, kisah cinta Raumanen dan Monang lebih rumit dibandingkan kisahnya. Sebab, permasalahan dalam hubungan mereka tidak hanya menyangkut perbedaan suku dan keinginan orang tua, tetapi juga hukum adat dan keimanan.

Raumanen menceritakan tentang kisah cinta antara Raumanen Rumokoi, perempuan Minahasa yang menjabat sebagai sekretaris pengurus pusat gerakan mahasiswa, dan Hamonangan Pohan, Senior Friend gerakan mahasiswa yang suka berlelucon kasar, tidak dewasa, dan flamboyan. Manen dan Monang bertemu di sebuah pesta ulang tahun Bapak Profesor yang merupakan pelindung gerakan mahasiswa.

“Nyata bahwa masih ada yang tak sanggup mengikuti jalan zaman. Mungkin karena takut kehilangan segala-galanya dari dunia lamanya. Mau mempertahankan sesuatu peninggalan—sekalipun yang terburuk.” (Hlm. 23)

Monang yang senang main dengan banyak perempuan mencoba mendekati Manen. Seiring berjalannya waktu hubungan keduanya pun menjadi dekat, namun kedekatan itu tidak lama bertahan. Perbedaan cara pandang keluarga Manen dan Monang terhadap suku dan adat membuat hubungan mereka menjadi sulit. Belum lagi adanya satu kejadian yang membuat Manen tertekan dan menderita sekaligus sangsi akan perasaan dan ucapan Monang padanya. Akankah nasib baik berpihak pada mereka?

“Rasanya aku tak mempunyai hidup sendiri, tetapi keberadaanku ini hanya demi terlaksananya cita-cita orang tuaku.” (Hlm. 39)

Lanjutkan membaca “Cinta, Identitas Kesukuan, dan Keimanan oleh Marianne Katoppo”