Kereta Malam Pembawa Kesengsaraan

Kereta Malam Menuju Harlok oleh Maya Lestari Gf (Indiva Media Kreasi, 2021)

Kau tidak menemukan kereta. Kereta yang menemukanmu. Kereta malam singgah dari satu stasiun langit ke stasiun langit berikutnya. Menjemput dan mengantar anak-anak ke keluarga mereka. Langit yang luas adalah daerah perjalanannya. Impianmu adalah awal kepergiannya.

(Lestari Gf, Kereta Malam Menuju Harlok, 2021: 5)

Kutipan di atas seperti memberikan secercah harapan bagi anak-anak yang ingin bahagia. Namun, alih-alih pembawa kebahagiaan, penulis menggunakan kereta malam sebagai pembawa kesengsaraan bagi anak-anak yatim piatu yang telantar dan berharap memiliki keluarga. Impian anak-anak telantar yang dijemput pupus begitu saja saat tiba di langit selatan, tepatnya Harlok. Tidak terkecuali Tamir, tokoh dalam Kereta Malam Menuju Harlok karya Maya Lestari Gf.

Mulanya, saya pikir kisah Tamir tidak sekelam kelihatannya. Nyatanya, justru cukup kelam bagi anak-anak dan begitu memilukan bahkan dari bab pertama. Kehidupan anak-anak di Kulila, panti asuhan khusus anak cacat, tidak bisa dibilang menyenangkan dan bahagia. Selain masing-masing memiliki jadwal memasak, mereka pun disuruh mengamen atau mengemis untuk bisa makan. Sebab, “Di panti asuhan semuanya berbeda. Kau harus mengurus dirimu sendiri.” (halaman 11). Lebih-lebih setelah ditinggalkan pengurus terakhir Kulila.

Lanjutkan membaca “Kereta Malam Pembawa Kesengsaraan”

La Dolce Vita Menyerupai Before 30 oleh Nina Ruriya

La Dolce Vita oleh Nina Ruriya (Gramedia Pustaka Utama, 2020)

Tiga tahun lalu, saya berkesempatan membaca Before 30 karya pertama Nina Ruriya—novel yang salah satu topiknya mengangkat tentang cinta sejati dan persaingan antarpekerja perempuan. Saya tidak bisa tidak membandingkan buku kedua Nina, La Dolce Vita, dengan Before 30. Sebab, saya masih menjumpai topik serupa meskipun fokus utama cerita dan misteri yang disajikan berbeda.

“Aku takut dengan segala sesuatu tentang cinta dan komitmen, Sondra. Begitu takutnya sampai-sampai aku berusaha mengubur perasaanku untukmu.”

(Ruriya, Before 30, 2018: 191)

“Aku tahu persis, ada bagian dari dirinya yang hancur sejak kegagalan pertama itu. Ditambah dua yang lain, dia makin parah dan tidak lagi percaya pada komitmen.”

(Ruriya, La Dolce Vita, 2020: 227)
Lanjutkan membaca “La Dolce Vita Menyerupai Before 30 oleh Nina Ruriya”

Mengintip Kehidupan Keras di Jakarta Lewat Wesel Pos Milik Ratih Kumala

Wesel Pos oleh Ratih Kumala (Gramedia Pustaka Utama, 2018)

Kalau memosisikan diri sebagai pendatang yang mengadu nasib di Jakarta, bagi saya, hidup di sana pasti betul-betul tidak mudah melebihi hidup di kampung sendiri. Jangankan mengadu nasib, sehari berada di Jakarta saja saya sudah tidak betah dan menyerah dengan kemacetan, keruwetan, dan udaranya yang begitu panas. Memang, “Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.” (hlm. 1). Lantaran perlu kesabaran, kesiapan fisik dan mental, serta ketahanan yang tinggi agar tidak mati dikalahkan oleh kerasnya Jakarta. Kehidupan keras di Jakarta cukup jelas tergambar dalam Wesel Pos karya Ratih Kumala melalui kisah Elisa Fatunisa yang merantau.

Elisa hendak mengabarkan kematian Ibu pada kakaknya, Ikbal Hanafi, di Jakarta sekaligus mencari peruntungan dengan bekerja di sana. Belum lama tiba di Jakarta, Elisa sudah dihadapkan pada ketidakberuntungan, merasakan kerasnya Jakarta, dan kenyataan-kenyataan yang mengejutkan dirinya. Hidupnya sudah dramatis dan penuh ujian. Mulai dari kehilangan tas yang ia titipkan kepada ibu-ibu penjual kopi keliling, terjebak berjam-jam di kantor polisi, kesulitan menemukan kakaknya akibat informasi yang ia punya tidak lengkap, dicap perek oleh tetangga, hingga disebut sebagai cewek hot oleh bos penjual narkoba.

Lanjutkan membaca “Mengintip Kehidupan Keras di Jakarta Lewat Wesel Pos Milik Ratih Kumala”