Kim Ji-yeong Menghidupkan sekaligus Mewakili Suara Perempuan oleh Cho Nam-joo

Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 oleh Cho Nam-joo (Gramedia Pustaka Utama, 2019)

Bagaimana rasanya menjadi perempuan yang hidup di dunia misoginis pun masih mempraktikkan sistem patriarki—sekalipun sudah dihapuskan—dan mengalami banyak tekanan bahkan dari kecil? Jawabannya sedikit banyak tergambar dalam novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 karya Cho Nam-joo lewat kehidupan Kim Ji-yeong dari kecil sampai menikah, dan memilih meninggalkan pekerjaan pertama sekaligus satu-satunya demi membesarkan anaknya, Jeong Ji-won. Hidup di dalam keluarga yang sangat mengistimewakan anak laki-laki bukan hal mudah bagi Kim Ji-yeong maupun kakak dan ibunya. Mereka sering tidak memiliki pilihan dan tidak memiliki cukup kesempatan.

“Kim Ji-yeong mulai berubah menjadi orang lain. Ia bisa berubah menjadi orang yang sudah meninggal, atau orang yang masih hidup. Ia bisa berubah menjadi wanita mana pun yang ada di sekitarnya. Ia tidak terlihat sedang bergurau atau ingin mempermainkan orang lain. Sungguh, ia benar-benar dan sepenuhnya sudah berubah.”

Cho Nam-joo (Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982, Halaman 166)
Lanjutkan membaca “Kim Ji-yeong Menghidupkan sekaligus Mewakili Suara Perempuan oleh Cho Nam-joo”

Mengintip Kehidupan Keras di Jakarta Lewat Wesel Pos Milik Ratih Kumala

Wesel Pos oleh Ratih Kumala (Gramedia Pustaka Utama, 2018)

Kalau memosisikan diri sebagai pendatang yang mengadu nasib di Jakarta, bagi saya, hidup di sana pasti betul-betul tidak mudah melebihi hidup di kampung sendiri. Jangankan mengadu nasib, sehari berada di Jakarta saja saya sudah tidak betah dan menyerah dengan kemacetan, keruwetan, dan udaranya yang begitu panas. Memang, “Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.” (hlm. 1). Lantaran perlu kesabaran, kesiapan fisik dan mental, serta ketahanan yang tinggi agar tidak mati dikalahkan oleh kerasnya Jakarta. Kehidupan keras di Jakarta cukup jelas tergambar dalam Wesel Pos karya Ratih Kumala melalui kisah Elisa Fatunisa yang merantau.

Elisa hendak mengabarkan kematian Ibu pada kakaknya, Ikbal Hanafi, di Jakarta sekaligus mencari peruntungan dengan bekerja di sana. Belum lama tiba di Jakarta, Elisa sudah dihadapkan pada ketidakberuntungan, merasakan kerasnya Jakarta, dan kenyataan-kenyataan yang mengejutkan dirinya. Hidupnya sudah dramatis dan penuh ujian. Mulai dari kehilangan tas yang ia titipkan kepada ibu-ibu penjual kopi keliling, terjebak berjam-jam di kantor polisi, kesulitan menemukan kakaknya akibat informasi yang ia punya tidak lengkap, dicap perek oleh tetangga, hingga disebut sebagai cewek hot oleh bos penjual narkoba.

Lanjutkan membaca “Mengintip Kehidupan Keras di Jakarta Lewat Wesel Pos Milik Ratih Kumala”

Merpati Pak Handoyo Tak Pernah Ingkar Janji oleh Mira W.

Merpati Tak Pernah Ingkar Janji oleh Mira W. (Gramedia Pustaka Utama, 2009)

“Sejak lahir Ayah telah menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Sejak lahir hidupnya telah ditentukan. Nasibnya telah diatur. Jalannya telah digariskan. Dan semua itu menuju ke satu titik. Biara. Benarkah dia tidak punya hak untuk memilih? Benarkah tidak ada pintu lain untuknya?”

Mira W. (Merpati Tak Pernah Ingkar Janji, Halaman 54)

Penebusan dosa, pergolakan batin, dan penemuan jati diri digambarkan secara gamblang dalam Merpati Tak Pernah Ingkar Janji karya Mira W. Setidaknya tiga hal itu yang saya tangkap selepas membaca novel roman tipis terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada 2009 melalui aplikasi iJakarta—Perpustakaan Digital Jakarta (dan tersedia juga di iPusnas—Perpustakaan Digital Nasional). Tidak setipis bukunya, tema yang diangkat cukup padat dan banyak pelajaran yang bisa kita petik. Dengan kata lain, novel ini bukanlah novel roman biasa. Saat membaca sinopsisnya saya pikir hanya menceritakan kisah percintaan Maria dan Guntur—seperti kebanyakan novel-novel roman yang pernah saya baca. Nyatanya, lebih daripada itu dan ceritanya berfokus pada Maria yang mengalami pergolakan batin atas segala hal yang menimpanya.

Lanjutkan membaca “Merpati Pak Handoyo Tak Pernah Ingkar Janji oleh Mira W.”